Bank Sentral Negara Berkembang Makin Hawkish, Imbal Hasil Obligasi Berpotensi Melebar

0
Bank Sentral Negara Berkembang Makin Hawkish, Inflasi Jadi Ancaman

LONDON – Bank sentral di sejumlah negara berkembang mulai memperketat kebijakan moneter untuk meredam tekanan inflasi inti dan kenaikan biaya energi. Perubahan arah kebijakan tersebut diperkirakan memperbesar perbedaan imbal hasil (return) obligasi pemerintah di pasar domestik pada 2027, menurut analisis Citi.

Pergeseran sikap bank sentral terjadi ketika permintaan dalam negeri menguat dan mahalnya energi meningkatkan biaya produksi. Kondisi tersebut mendorong sejumlah otoritas moneter meninggalkan pendekatan yang cenderung longgar (dovish) maupun netral, lalu mengambil langkah lebih ketat (hawkish).

Analis Citi memperingatkan, lonjakan biaya energi berpotensi memicu dampak inflasi putaran kedua (second-round effects), yakni ketika kenaikan harga energi merambat ke harga barang dan jasa lainnya. Risiko tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong bank sentral untuk menjaga tekanan harga agar tidak semakin meluas, sebagaimana diwartakan Investing, Minggu (08/11/2026).

Penguatan mata uang lokal di sejumlah negara turut memberi ruang bagi otoritas moneter untuk memperketat kondisi keuangan. Di sisi lain, Citi mengubah proyeksi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjadi lebih lemah, setelah suku bunga nominal yang tinggi mulai memberikan tekanan terhadap sejumlah sektor ekonomi AS.

Perubahan asumsi tersebut menunjukkan bahwa pergerakan nilai tukar efektif riil diperkirakan belum menjadi sumber tekanan inflasi yang signifikan bagi negara berkembang dalam waktu dekat.

Di Eropa Tengah, tekanan inflasi kembali menjadi perhatian di Polandia, sementara Republik Ceko menghadapi kenaikan upah. Perbedaan kondisi ekonomi tersebut berpotensi membuat respons bank sentral di kawasan itu tidak seragam.

Citi memperkirakan divergensi kebijakan moneter akan memperlebar kesenjangan imbal hasil total pada berbagai tenor obligasi lokal hingga tahun depan. Dengan demikian, prospek pasar obligasi negara berkembang akan semakin dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan arah kebijakan masing-masing negara.

Mesir mencatat reli tajam pada aset keuangannya di tengah meningkatnya keberanian investor mengambil risiko (risk-on) setelah pemilihan paruh waktu (midterm elections) di AS. Suku bunga nominal yang mendekati puncak siklus turut menopang arus masuk modal bersih ke instrumen obligasi berjangka pendek.

Obligasi pemerintah Afrika Selatan juga menunjukkan kinerja lebih baik seiring membaiknya sentimen risiko global dan perkembangan hasil pemilihan umum nasional.

Di Amerika Latin, bank sentral Kolombia mempertahankan suku bunga kebijakan sebesar 12,25 persen. Otoritas tersebut juga mengumumkan operasi valuta asing senilai USD2 miliar bersama kementerian keuangan.

Citi tetap mengambil posisi di bawah bobot acuan (underweight) pada obligasi pemerintah Kolombia atau COLTES, menjelang peningkatan pasokan obligasi pada Oktober. Sementara itu, risalah rapat bank sentral Chili memuat sinyal pengetatan dari dewan gubernur, sehingga investor mempertahankan posisi beli (long) dolar AS terhadap peso Chili.

Di kawasan Asia, Citi secara taktis meningkatkan alokasi investasi (overweight) pada obligasi pemerintah Indonesia dengan tenor lima tahun yang dilengkapi lindung nilai (hedging) terhadap risiko valuta asing.

Langkah tersebut menempatkan surat utang Indonesia dalam strategi investasi Citi di tengah perbedaan arah kebijakan moneter negara berkembang. Namun, strategi ini juga menunjukkan bahwa keputusan investasi tetap mempertimbangkan risiko nilai tukar, selain prospek imbal hasil obligasi.

Citi turut mencermati kembali tekanan pendanaan korporasi jangka pendek di Korea Selatan. Di Tiongkok, bank sentral atau People’s Bank of China (PBOC) menjadi perhatian setelah menaikkan rasio cadangan wajib bagi simpanan dalam mata uang asing.

Perbedaan tekanan inflasi, kondisi mata uang, serta respons kebijakan di berbagai negara diperkirakan menjadi faktor utama yang membentuk kinerja pasar obligasi lokal negara berkembang pada 2027. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *