AS-Iran Kembali Memanas, Harga Minyak Dunia Makin Dekati US$100

JAKARTA – Pasar minyak mentah mulai menghadapi risiko gangguan pasokan yang lebih panjang setelah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat. Situasi tersebut membuat pelaku pasar memperbesar premi risiko pada harga minyak sekaligus mendorong sejumlah analis menaikkan proyeksi harga komoditas energi hingga 2027.

Pergerakan harga pada perdagangan Selasa (08/09/2026) menunjukkan tekanan tersebut. Harga minyak Brent tercatat naik 34 sen atau 0,35 persen menjadi US$97,34 per barel pada pukul 00.00 Greenwich Mean Time (GMT). Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal AS menguat US$1,15 atau 1,26 persen ke level US$92,63 per barel.

Kenaikan tersebut terjadi ketika pasar mencermati potensi terganggunya distribusi minyak mentah dari kawasan Teluk Persia. Selat Hormuz menjadi salah satu titik perhatian utama karena jalur tersebut memiliki peran penting dalam pengiriman minyak dunia.

Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Iran memperingatkan bahwa infrastruktur energi di kawasan Teluk, termasuk kepentingan minyak dan gas milik AS, berpotensi menjadi sasaran. Peringatan tersebut muncul setelah aksi saling serang antara AS dan Iran sepanjang akhir pekan.

Kondisi itu membuat pasar semakin sulit memperkirakan kapan pasokan minyak dari kawasan tersebut dapat kembali normal. Sebelumnya, harga Brent bahkan telah menyentuh level tertinggi sejak 24 Juli pada perdagangan sebelumnya.

Analis ANZ Daniel Hynes menilai perkembangan konflik dapat mengarah pada kebuntuan yang berlangsung lebih lama. Jika situasi tersebut terjadi, keterbatasan pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia berpotensi bertahan hingga penghujung 2026.

“Kami tidak memperkirakan volume pasokan kembali sepenuhnya ke level sebelum perang hingga akhir kuartal I atau awal kuartal II 2027,” kata Hynes.

Sebagaimana diberitakan Kontan, Selasa (08/09/2026), proyeksi tersebut memperlihatkan bahwa dampak konflik terhadap pasar energi tidak hanya berkaitan dengan pergerakan harga dalam jangka pendek. Pasar juga mulai memperhitungkan kemungkinan bahwa gangguan pengiriman minyak dapat berlangsung melewati pergantian tahun.

Perubahan ekspektasi tersebut turut tercermin dari revisi proyeksi Goldman Sachs. Lembaga tersebut menaikkan perkiraan harga Brent dan WTI untuk Desember 2026 masing-masing sebesar US$5 menjadi US$85 per barel untuk Brent dan US$80 per barel untuk WTI.

Goldman Sachs juga meningkatkan proyeksi harga minyak untuk 2027. Harga Brent diperkirakan berada di level US$80 per barel, sedangkan WTI diproyeksikan mencapai US$75 per barel.

Revisi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa gangguan terhadap pengiriman minyak dari Timur Tengah tidak segera berakhir dan dapat berlanjut hingga 2027. Dengan demikian, pasar tidak hanya menghadapi risiko lonjakan harga akibat konflik, tetapi juga ketidakpastian mengenai durasi gangguan pasokan.

Faktor geopolitik menjadi semakin dominan karena sejumlah insiden militer turut menyasar sektor yang berkaitan dengan perdagangan energi. Pada Sabtu, pasukan AS dilaporkan menyerang tiga kapal tanker minyak Iran, termasuk sebuah kapal yang berada di sekitar Pulau Kharg. Pulau tersebut merupakan salah satu pusat ekspor minyak utama Iran.

Menurut Komando Pusat AS, serangan itu terjadi setelah Garda Revolusi Iran menyerang kapal perang AS yang beroperasi di kawasan. Rangkaian aksi tersebut memperbesar kekhawatiran bahwa konflik dapat berkembang dan mengganggu aktivitas pengiriman energi secara lebih luas.

Di tengah kondisi tersebut, analis Marex Ed Meir memperkirakan harga minyak masih akan bertahan pada level tinggi hingga akhir tahun selama konflik belum berakhir. Marex melihat masih terdapat banyak persoalan yang belum terselesaikan sehingga pasar belum memiliki dasar kuat untuk mengantisipasi berakhirnya perang dalam waktu dekat.

Jika gangguan pasokan benar-benar bertahan lebih lama, dampaknya terhadap pasar energi global berpotensi berlangsung melampaui periode konflik itu sendiri. Perusahaan energi, pelaku industri, hingga negara konsumen harus menghadapi ketidakpastian mengenai biaya minyak dan ketersediaan pasokan.

Dengan meningkatnya proyeksi harga serta kemungkinan gangguan pengiriman hingga 2027, perkembangan konflik AS-Iran kini menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan arah pasar minyak dunia dalam beberapa bulan ke depan. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *