Atasi Kesulitan Air Bersih di Pesisir, Kecamatan Anggana Optimalkan Penampungan
Camat Anggana, Rokip.
Tingginya biaya transportasi laut dan pengaruh pasang surut menyebabkan harga air bersih di desa-desa pesisir Anggana mencapai Rp15 ribu per galon, sehingga pemerintah kecamatan berupaya mengoptimalkan fasilitas penampungan serta menjajaki dukungan perusahaan.
ADVERTORIAL – Masyarakat di sejumlah desa pesisir Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), masih menghadapi kesulitan memperoleh air bersih dengan harga terjangkau. Harga air di wilayah tersebut mencapai Rp15 ribu per galon, atau tiga kali lipat dibandingkan wilayah daratan yang berkisar Rp5 ribu. Untuk mengatasi persoalan itu, Pemerintah Kecamatan (Pemcam) Anggana berupaya mengoptimalkan fasilitas penampungan air yang telah dibangun pemerintah daerah.
Camat Anggana Rokip mengatakan, persoalan ketersediaan air bersih terutama dirasakan masyarakat Desa Sepatin, Tani Baru, Muara Pantuan, dan Handil Terusan. Kondisi geografis wilayah pesisir, pengaruh pasang surut air laut, serta tingginya biaya pengangkutan menjadi tantangan utama dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
“Persoalan air bersih ini memang menjadi salah satu kebutuhan yang harus kita perhatikan. Apalagi masyarakat yang tinggal di desa-desa wilayah laut, karena kondisi geografisnya memang berbeda dengan wilayah daratan,” ucap Rokip kepada Prudensi.com di Tenggarong, Jumat (30/10/2026).
Menurutnya, salah satu hambatan penyediaan air bersih adalah masuknya air asin ketika permukaan laut mengalami pasang. Kondisi tersebut dapat mengganggu sistem penyediaan air sehingga pengoperasian mesin terkadang harus dihentikan untuk sementara waktu.
“Memang, ketika air laut pasang dan air asin masuk, kondisi tersebut mengganggu sistem penyediaan air bersih. Jika kadar garam air terlalu tinggi, biasanya pengoperasian mesin dihentikan sementara,” jelasnya.
Untuk mengurangi dampak persoalan tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar sebelumnya telah membangun fasilitas penampungan air. Pemcam Anggana kini berupaya mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur tersebut agar dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat pesisir.
“Alhamdulillah, kami sebenarnya sudah dibangunkan penampungan air dari pemerintah daerah melalui DPMD Kukar. Itu yang saat ini juga kami coba gunakan,” katanya.
Rokip menjelaskan, fasilitas penampungan diharapkan dapat menyimpan persediaan air sebelum dikelola dan didistribusikan kepada masyarakat. Pengelolaannya direncanakan melibatkan perangkat desa bersama warga agar penyaluran air dapat menjangkau rumah tangga yang membutuhkan.
“Harapannya, air yang ada bisa kita tampung terlebih dahulu. Kemudian nanti dikelola dan disalurkan oleh perangkat desa bersama masyarakat, sehingga kebutuhan air bersih warga bisa lebih terbantu,” ungkapnya.
Selain keterbatasan pasokan, tingginya harga air bersih turut membebani masyarakat pesisir. Rokip menyebutkan, harga satu galon air di wilayah tersebut bisa mencapai Rp15 ribu, sedangkan masyarakat di daratan umumnya hanya membayar sekitar Rp5 ribu untuk jumlah yang sama.
“Kalau di wilayah pesisir, satu galon air bersih bisa mencapai Rp15 ribu. Sementara kalau di daratan sekitar Rp5 ribu. Jadi memang ada perbedaan harga yang cukup jauh,” tuturnya.
Perbedaan harga juga terlihat pada pembelian air dalam jumlah besar. Satu drum berkapasitas sekitar 200 liter dapat dijual hingga Rp200 ribu, sedangkan drum berukuran lebih besar mencapai Rp600 ribu hingga Rp700 ribu.
Menurut Rokip, mahalnya harga air berkaitan erat dengan biaya distribusi dari daratan menuju desa-desa pesisir yang mengandalkan transportasi laut. Pengangkutan air membutuhkan kapal dengan biaya sewa yang relatif tinggi.
“Untuk pengangkutan air itu juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sewa kapal sekali berangkat bisa mencapai sekitar Rp5 juta sampai lebih dari Rp10 juta,” ungkap Rokip.
Kendala transportasi semakin terasa karena sejumlah desa berada cukup jauh dari pusat Kecamatan Anggana. Waktu tempuh menuju wilayah tersebut bervariasi, bergantung pada jenis transportasi yang digunakan dan kondisi perairan.
Dengan menggunakan kapal cepat atau speedboat berukuran besar, perjalanan membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam. Kapal cepat berukuran kecil dapat menempuh perjalanan sekitar satu jam, sedangkan perahu ketinting membutuhkan waktu hingga empat jam.
“Kalau menggunakan speedboat besar, perjalanan sekitar satu setengah jam. Speedboat kecil kurang lebih satu jam. Sementara kalau menggunakan ketinting bisa sampai empat jam,” jelasnya.
Rokip menilai, persoalan penyediaan air bersih di wilayah pesisir tidak dapat diselesaikan hanya melalui pembangunan fasilitas fisik. Diperlukan sistem pengelolaan yang berkelanjutan, dukungan pembiayaan, serta kerja sama antara pemerintah dan berbagai pihak.
Karena itu, Pemcam Anggana juga menjajaki peluang kolaborasi dengan perusahaan untuk membantu pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat. Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat pemanfaatan fasilitas penampungan sekaligus mengurangi ketergantungan warga terhadap pasokan air yang didatangkan dari daratan.
“Pembangunannya memang membutuhkan upaya yang luar biasa. Perlu perumusan kebijakan yang benar-benar matang dan dukungan yang besar,” tutup Rokip.
Optimalisasi fasilitas penampungan dan penguatan kerja sama lintas sektor diharapkan menjadi langkah awal untuk memperbaiki akses air bersih di desa-desa pesisir Anggana. Upaya tersebut juga diharapkan dapat mengurangi beban pengeluaran rumah tangga akibat tingginya biaya pembelian dan pengangkutan air bersih. []
Penulis: Jemi Irlanda Haikal | Penyunting: Aulia Setyaningrum
