Banjir Setinggi Lutut Rendam Tering, Warga Sebut Terjadi Hampir Tiap Tahun

Banjir yang merendam Jalan Tering, Kubar, mulai surut setelah sempat mengganggu akses warga menuju pasar, pelabuhan, puskesmas, sekolah, dan permukiman.

KUTAI BARAT – Banjir yang merendam kawasan Jalan Tering, Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), mulai berangsur surut pada Rabu (13/05/2026) setelah sempat mengganggu aktivitas warga selama dua hari terakhir. Genangan air sebelumnya mencapai hampir setinggi lutut orang dewasa dan merendam akses utama menuju pelabuhan, pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), serta pasar.

Meski debit air mulai menurun, sejumlah titik di sekitar madrasah tsanawiyah (MTs), permukiman warga, dan pinggir jalan masih terlihat tergenang. Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat belum sepenuhnya kembali normal.

Kondisi Air Sudah Mulai Surut Di Sekolah MTS Tering, Kubar

Ahmad, seorang pedagang di pasar, mengatakan banjir mulai naik sejak dua hari sebelum akhirnya perlahan surut pada Rabu.

“Sudah setinggi lutut. Sangat susah untuk aktivitas, apalagi akses ke pelabuhan dan pasar jadi terganggu,” ujar Ahmad saat diwawancarai pada Rabu (13/05/2026).

Menurut Ahmad, kendaraan masih sempat melintas ketika debit air belum terlalu tinggi. Namun, akses jalan akan sulit dilalui apabila air kembali naik.

“Kendaraan masih bisa lewat, tapi kalau air naik lagi sudah tidak bisa. Biasanya warga menggunakan ces untuk menyeberang,” katanya.

Ahmad menduga banjir tersebut merupakan air kiriman dari Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) akibat curah hujan tinggi dalam beberapa waktu terakhir. “Penyebabnya kiriman dari Mahulu karena curah hujan tinggi,” jelasnya.

Kondisi Air Sebelum Surut

Ia menyebut banjir di kawasan tersebut bukan pertama kali terjadi. Menurutnya, luapan air hampir setiap tahun melanda wilayah Tering dan mengganggu aktivitas warga, terutama yang bergantung pada akses pasar, pelabuhan, sekolah, dan fasilitas kesehatan.

“Sudah sering terjadi, hampir tiap tahun ada banjir di daerah sini,” tambahnya.

Kondisi Saat Masih Banjir

Warga berharap debit air terus menurun sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal. Mereka juga berharap akses menuju sekolah, rumah warga, puskesmas, pasar, dan pelabuhan tidak lagi terganggu oleh genangan air. []

Penulis: Nia Ariska | Penyunting: Aulia Setyaningrum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *