BI Rate Diprediksi Ditahan, Ini Dampaknya ke IHSG dan Sektor Properti
JAKARTA – Arah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) diproyeksikan tetap stabil pada April 2026, di tengah tekanan global yang belum mereda, dengan potensi dampak signifikan terhadap pasar modal dan sektor riil. Prediksi ini muncul menjelang pengumuman resmi BI pada Rabu (22/04/2026), yang dinilai akan menjadi penentu sentimen investor dalam jangka pendek.
Analis Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai keputusan menahan suku bunga merupakan langkah menjaga keseimbangan ekonomi di tengah ketidakpastian eksternal. “Saya perkirakan akan cenderung ditahan,” kata Wafi sebagaimana diberitakan Liputan6, Selasa, (21/04/2026).
Ia menjelaskan, meskipun peluang kenaikan masih terbuka sebagai langkah antisipatif atau pre-emptive, keputusan tersebut sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah dan arah inflasi global, khususnya kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed). “Ruang kenaikan masih tetap terbuka sebagai langkah pre-emptive. Indikator penentunya stabilitas nilai tukar Rupiah dan tren inflasi global (arah suku bunga The Fed),” ujarnya.
Dalam skenario suku bunga tetap atau menurun, sejumlah sektor diproyeksikan memperoleh dorongan pertumbuhan. Wafi menyebut sektor properti, otomotif, dan perbankan sebagai pihak yang paling diuntungkan karena peningkatan permintaan kredit masyarakat.
“Kalau ditahan atau turun yang diuntungkan properti, otomotif, dan perbankan. Dampaknya ke IHSG ada potensi tambahan inflow yang bisa jadi katalis pendorong IHSG,” kata Wafi.
Sebaliknya, apabila BI memutuskan menaikkan suku bunga, risiko tekanan terhadap pasar modal dinilai meningkat. Investor berpotensi mengalihkan dana ke instrumen yang lebih aman seperti pasar uang dan obligasi, memicu arus keluar dana atau outflow dari pasar saham.
“Kalau dinaikkan resiko outlow-nya tinggi dalam jangka pendek karena ada potensi rotasi ke instrumen pasar uang atau obligasi. Sektor yang rawan adalah konstruksi atau infrastruktur, teknologi, dan properti,” pungkasnya.
Di sisi lain, kinerja pasar saham domestik sebelumnya menunjukkan tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (21/04/2026) tercatat melemah 0,46 persen ke level 7.559,38, meski sebagian sektor masih mencatat penguatan. Kondisi ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar dalam menunggu kepastian arah kebijakan moneter.
Ke depan, keputusan BI dinilai akan menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama di tengah dinamika global yang masih fluktuatif. []
Penulis: Tira Santia | Penyunting: Redaksi01
