Dolar Perkasa, Rupiah Nyaris Sentuh Rekor Terlemah Lagi

JAKARTA – Tekanan eksternal kembali membayangi nilai tukar rupiah yang tercatat melemah ke level Rp17.130,70 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (22/04/2026) pagi, mendekati posisi terendah sepanjang sejarah yang sempat menyentuh Rp17.210 per dolar AS pada awal pekan ini.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan indeks dolar global serta dinamika kebijakan suku bunga internasional yang masih ketat. Hingga pukul 09.00 WIB, sentimen negatif masih mendominasi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga menekan pergerakan mata uang domestik.

Berdasarkan data pasar, volatilitas nilai tukar dipengaruhi selisih suku bunga antara Bank Indonesia (BI) dan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed). Kondisi ini memicu pertanyaan pelaku pasar terkait pelemahan rupiah yang terus berlangsung meski telah dilakukan berbagai langkah stabilisasi.

Sejak akhir 2025, tren depresiasi rupiah mulai terlihat signifikan. Pada Desember 2025, rupiah sempat berada di level Rp16.654 per dolar AS sebelum berbalik melemah memasuki 2026 akibat perubahan sentimen global dan kuatnya data ekonomi AS, khususnya sektor ketenagakerjaan.

Tekanan eksternal juga tercermin dari perbandingan indikator ekonomi kedua negara. Meskipun BI telah memangkas suku bunga sebesar 150 basis poin sejak September 2024, penguatan dolar AS tetap dominan sehingga menekan rupiah secara berkelanjutan.

Selain faktor moneter, dinamika global seperti ketegangan geopolitik turut memperburuk kondisi. Potensi konflik Amerika Serikat dan Iran berisiko mengganggu rantai pasok energi dunia dan meningkatkan inflasi impor di Indonesia, yang pada akhirnya memberi tekanan tambahan pada nilai tukar.

Di sisi lain, data ekonomi AS kembali memperkuat dolar. Meski sempat ada pelemahan akibat kenaikan klaim pengangguran, indeks manufaktur Purchasing Managers’ Index (PMI) dari Institute for Supply Management (ISM) yang mencapai 52,6 menunjukkan ekspansi, sehingga mendorong penguatan mata uang tersebut.

Pengamat ekonomi juga menilai pelemahan rupiah tidak hanya dipicu faktor jangka pendek, tetapi juga persoalan struktural, termasuk risiko middle income trap yang berkaitan dengan ketergantungan pada ekspor komoditas dan lemahnya daya saing industri.

Menghadapi kondisi tersebut, BI diperkirakan akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing, baik melalui pasar spot maupun instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), guna menjaga stabilitas nilai tukar.

Sejumlah proyeksi menyebut rupiah berpotensi bergerak pada kisaran Rp16.800 hingga Rp17.300 per dolar AS hingga akhir kuartal II 2026. Meski demikian, otoritas moneter tetap optimistis nilai tukar dapat menguat ke level Rp16.400 per dolar AS pada paruh kedua tahun ini, seiring meredanya ketidakpastian global.

Pelaku usaha dan masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap fluktuasi nilai tukar, termasuk dengan menerapkan strategi lindung nilai atau hedging untuk meminimalkan risiko kerugian akibat perubahan kurs yang tajam.

“Informasi ini bukan saran investasi. Fluktuasi nilai tukar mata uang sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar global dan kebijakan moneter. Konsultasikan dengan penasihat keuangan sebelum mengambil keputusan transaksi valuta asing dalam skala besar,” sebagaimana dilansir Kompas, Rabu, (22/04/2026). []

Penulis: Aditya Saputra | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *