Bupati Kukar Tinjau Kebakaran Jalan Kartini, Siapkan Pemulihan Warga

0
IMG-20261018-WA0030

Bupati Kukar Aulia Rahman Basri melalukan kunjungan ke lokasi kebakaran di Jalan Kartini Gang Karya, Tenggarong, Minggu (18/10/2026).

Bupati Kukar Aulia Rahman Basri menekankan pentingnya pemulihan kehidupan warga, pendampingan psikologis anak-anak, serta penguatan pencegahan kebakaran setelah meninjau lokasi musibah di Kelurahan Loa Ipuh, Tenggarong.

ADVERTORIAL – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) menyiapkan langkah penanganan jangka pendek hingga panjang bagi warga terdampak kebakaran di Jalan Kartini, Gang Karya, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong. Penanganan tersebut mencakup pemulihan aktivitas masyarakat, rencana penataan kembali kawasan terdampak, serta perhatian terhadap kondisi psikologis korban, terutama anak-anak.

Komitmen tersebut disampaikan Bupati Kukar Aulia Rahman Basri saat meninjau lokasi kebakaran pada Minggu (18/10/2026), menyusul musibah yang terjadi pada Selasa (13/10/2026) malam.

Kebakaran tersebut mengakibatkan kerusakan sejumlah rumah dan menimbulkan korban jiwa. Kondisi itu menjadi perhatian pemerintah daerah dalam menentukan langkah pemulihan bagi keluarga terdampak.

“Yang paling penting, bagaimana kita bisa mengurangi beban masyarakat yang terdampak. Kita melihat kondisi di lapangan dan menyiapkan langkah-langkah penanganan yang bisa dilakukan pemerintah daerah,” ucap Aulia kepada awak media saat meninjau langsung lokasi tersebut pascakebakaran, Minggu (18/10/2026).

Aulia menjelaskan, penanganan pascakebakaran perlu dilaksanakan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat, kondisi lapangan, serta kewenangan pemerintah daerah.

Dalam jangka pendek, Pemkab Kukar memprioritaskan upaya membantu warga agar dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari. Sementara itu, penanganan jangka menengah dan panjang diarahkan pada perencanaan penataan kawasan serta pembangunan kembali sesuai ketentuan yang berlaku.

“Untuk jangka pendek, kita ingin masyarakat bisa kembali menjalankan aktivitasnya. Kemudian, untuk jangka menengah dan panjang, tentu perlu dipikirkan bagaimana penataan dan pembangunan kembali sesuai aturan serta kewenangan yang ada,” katanya.

Selain pemulihan fisik, Aulia menekankan pentingnya perhatian terhadap kondisi psikologis warga, khususnya anak-anak yang mengalami langsung peristiwa kebakaran.

Menurutnya, musibah tersebut berpotensi meninggalkan trauma yang dapat memengaruhi aktivitas, pendidikan, dan kehidupan anak-anak apabila tidak mendapatkan dukungan yang memadai.

“Kita juga harus memikirkan anak-anak. Jangan sampai cita-cita dan masa depan mereka terhambat karena musibah ini. Mereka membutuhkan dukungan agar bisa kembali menata kehidupan,” ujarnya.

Aulia juga mengingatkan masyarakat agar memberikan perhatian secara bijaksana kepada keluarga korban. Dukungan sosial diharapkan dapat membantu proses pemulihan tanpa menambah tekanan emosional bagi mereka yang sedang menghadapi musibah.

“Jangan sampai karena terlalu banyak yang datang atau terlalu banyak pertanyaan, mereka justru merasa tidak nyaman. Kita harus memahami kondisi mereka dan memberikan ruang untuk memulihkan diri,” tutur Aulia.

Pendampingan psikologis menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian dalam penanganan pascakebakaran. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu anak-anak mengatasi trauma dan kembali menjalani aktivitas secara bertahap.

Di sisi lain, Pemkab Kukar juga mendorong evaluasi penanganan kebakaran melalui koordinasi dengan perangkat daerah terkait, termasuk Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kukar.

Koordinasi tersebut diarahkan untuk mengidentifikasi berbagai aspek yang perlu diperbaiki, sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi potensi kebakaran.

Aulia menilai, upaya pencegahan harus dimulai dari lingkungan permukiman. Salah satu langkah yang didorong ialah penguatan sistem keamanan lingkungan (siskamling) di setiap rukun tetangga (RT).

“Kita perlu memperkuat siskamling di masing-masing RT. Pencegahan harus menjadi perhatian bersama, karena kewaspadaan di lingkungan tempat tinggal sangat penting,” ungkapnya.

Selain penguatan siskamling, Aulia menggagas kerja sama dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kukar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya kebakaran.

Melalui koordinasi tersebut, pesan keselamatan dapat disampaikan kepada masyarakat melalui kegiatan keagamaan di masjid, termasuk sebelum maupun setelah pelaksanaan salat berjemaah.

“Misalnya, mengingatkan masyarakat untuk memastikan kompor sudah dimatikan, memeriksa listrik ketika akan meninggalkan rumah, dan mencabut perangkat elektronik yang tidak digunakan,” jelasnya.

Menurut Aulia, langkah pencegahan sederhana perlu terus disosialisasikan agar menjadi kebiasaan masyarakat dalam menjaga keamanan rumah dan lingkungan.

Ia juga menyoroti pentingnya ketersediaan alat pemadam api ringan (APAR) sebagai sarana penanganan awal apabila terjadi kebakaran di lingkungan permukiman.

Meski demikian, penyediaan APAR di setiap rumah perlu mempertimbangkan kondisi dan kemampuan ekonomi masing-masing keluarga.

“Kalau memungkinkan, APAR idealnya tersedia di setiap rumah. Namun, kita juga harus melihat kemampuan masyarakat. Yang paling penting adalah bagaimana pencegahan dan kesiapsiagaan terus ditingkatkan,” katanya.

Melalui koordinasi lintas sektor, penguatan pencegahan, serta dukungan masyarakat, Pemkab Kukar berharap proses pemulihan korban kebakaran Loa Ipuh dapat berjalan secara bertahap.

Upaya tersebut diharapkan tidak hanya membantu warga membangun kembali kehidupan setelah musibah, tetapi juga meningkatkan kesiapsiagaan lingkungan permukiman guna mengurangi risiko kejadian serupa pada masa mendatang. []

Penulis: Jemi Irlanda Haikal | Penyunting: Aulia Setyaningrum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *