Bursa Asia Bergerak Berbeda, Saham Korea Selatan Anjlok 2,33 Persen
JAKARTA – Perbedaan kinerja saham teknologi dan perubahan sentimen politik di Amerika Serikat (AS) membuat perdagangan bursa Asia bergerak tidak seragam pada Kamis (05/11/2026). Meskipun reli di Wall Street memberikan dorongan positif, pelemahan indeks Korea Selatan menunjukkan investor masih menghadapi ketidakpastian dalam menentukan arah investasi.
Indeks Nikkei 225 Jepang menguat 0,49 persen, sedangkan indeks Topix naik lebih dari 2 persen. Sebaliknya, indeks Kospi Korea Selatan terkoreksi 2,33 persen dan Kosdaq yang didominasi saham teknologi melemah 1,24 persen. Bursa Australia justru mencatat penguatan dengan indeks S&P/ASX 200 naik 1,39 persen.
Pergerakan tersebut berlangsung setelah pasar saham AS mencatat kenaikan signifikan pada perdagangan Rabu. Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak lebih dari 1.500 poin atau sekitar 3 persen, menjadi kenaikan harian terbaik sejak April 2025. Indeks S&P 500 turut menguat 1,6 persen.
Sebagaimana diwartakan Liputan6, Kamis (05/11/2026), penguatan pasar global turut dipengaruhi penurunan tajam harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) yang anjlok lebih dari 8 persen menjadi 88,12 dolar AS per barel.
Sentimen politik juga menjadi perhatian pelaku pasar setelah Partai Demokrat memenangi pemilu paruh waktu AS. Partai tersebut berhasil menguasai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Senat serta memenangkan sejumlah pemilihan gubernur.
Wakil Presiden AS JD Vance menyebut perang Iran sebagai salah satu penyebab kekalahan Partai Republik dalam pemilu tersebut. Perkembangan politik ini memunculkan perhatian investor terhadap kemungkinan perubahan kebijakan pemerintah dan dampaknya terhadap perekonomian maupun pasar keuangan.
Di tengah penguatan indeks utama, saham sejumlah perusahaan teknologi justru menunjukkan pergerakan berlawanan. Qualcomm mengalami penurunan 6,5 persen meskipun melaporkan laba yang melampaui perkiraan pasar. Sebaliknya, AppLovin melonjak hampir 24 persen setelah membukukan kinerja dan proyeksi bisnis yang lebih baik daripada ekspektasi.
Saham Walmart juga menguat lebih dari 3 persen. Namun, perusahaan pusat data seperti CoreWeave mengalami tekanan akibat kekhawatiran investor terhadap regulasi industri tersebut.
Manajer portofolio Tandem Investment Advisors, Jordan Watson, memperkirakan pergerakan pasar masih berpotensi mengalami gejolak, terutama karena investor sedang mengevaluasi hasil pemilu dan prospek investasi pada sektor teknologi.
“Kita mungkin akan menghadapi volatilitas yang lebih besar seiring investor mencerna hasil pemilu dan potensi dampak kebijakannya,” ujarnya.
Watson juga mengingatkan bahwa penguatan indeks saham belum tentu menandakan berakhirnya risiko pasar. Investor perlu mencermati besarnya alokasi investasi untuk pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) serta kemampuan sektor tersebut menghasilkan keuntungan.
Selain perkembangan politik dan kinerja perusahaan, pelaku pasar juga menantikan sejumlah indikator ekonomi AS. Data klaim pengangguran mingguan dijadwalkan dirilis Kamis, disusul laporan tenaga kerja nonpertanian Oktober pada Jumat.
Sejumlah perusahaan juga dijadwalkan mengumumkan laporan keuangan, antara lain Tapestry, Kimberly-Clark, dan ConocoPhillips pada Kamis pagi. Sementara itu, Airbnb dan Akamai dijadwalkan menyampaikan laporan pada sore hari.
Perbedaan arah bursa Asia memperlihatkan bahwa penguatan pasar saham Amerika belum sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi global. Perkembangan kebijakan pascapemilu, pergerakan harga energi, serta kemampuan perusahaan teknologi mengonversi investasi menjadi keuntungan diperkirakan tetap menjadi faktor penting yang menentukan arah perdagangan berikutnya. []
Redaksi01
