Bursa Asia Melemah, Kekhawatiran Investasi AI Guncang Saham Teknologi

0
Bursa Asia Melemah, Kekhawatiran Investasi AI Guncang Saham Teknologi

JAKARTA – Kekhawatiran investor terhadap besarnya biaya pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai membayangi prospek pasar saham global. Pada perdagangan Senin (02/11/2026), sejumlah indeks utama Asia melemah karena pelaku pasar mempertanyakan kemampuan perusahaan teknologi mengubah investasi besar-besaran di sektor AI menjadi keuntungan yang berkelanjutan.

Tekanan terlihat pada indeks Nikkei 225 Jepang yang turun 0,5 persen dan indeks saham Korea Selatan yang terkoreksi 0,8 persen. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang juga melemah 0,4 persen. Pelemahan tersebut terjadi setelah pasar saham Korea Selatan sebelumnya mengalami koreksi sekitar 16 persen sepanjang Oktober.

Sentimen negatif terutama berkaitan dengan belanja modal (capital expenditure/capex) perusahaan teknologi untuk membangun infrastruktur AI. Investor mulai mencermati apakah pengeluaran yang terus meningkat dapat menghasilkan arus kas positif atau justru menekan kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan laba.

Mengutip laporan Reuters sebagaimana diberitakan Kontan, Senin (02/11/2026), tekanan pasar juga dipengaruhi kekhawatiran terhadap meningkatnya risiko korporasi dan kebutuhan likuiditas investor. Kondisi tersebut mendorong kenaikan biaya perlindungan terhadap risiko gagal bayar perusahaan pada pekan sebelumnya.

Perhatian investor kini tertuju pada laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi besar, terutama Apple, Advanced Micro Devices (AMD), dan Palantir yang dijadwalkan menyampaikan kinerja pekan ini. Kekhawatiran semakin besar setelah saham Intel anjlok hampir 29 persen pada perdagangan Jumat sebelumnya di bursa Amerika Serikat (AS).

Analis Goldman Sachs memperkirakan belanja modal perusahaan teknologi berskala besar atau hyperscaler hampir berlipat ganda menjadi 800 miliar dolar AS pada 2026. Nilainya diproyeksikan kembali meningkat hingga 1,2 triliun dolar AS pada 2027.

Namun, besarnya investasi tersebut belum tentu diikuti percepatan pertumbuhan keuntungan. Pertumbuhan laba per saham (earnings per share/EPS) perusahaan dalam indeks S&P 500 diperkirakan melambat dari hampir 30 persen pada 2026 menjadi 18 persen pada tahun berikutnya.

Kepala Strategi Ekuitas AS Goldman Sachs, Ben Snider, menilai perkembangan tersebut menghadirkan tantangan bagi investor karena pertumbuhan laba perusahaan masih kuat, tetapi tidak lagi menunjukkan percepatan.

Menurut dia, laporan keuangan kuartal III memperkuat perkiraan bahwa investasi AI masih akan bertambah, meskipun laju pertumbuhannya mulai mendekati puncak.

Di tengah tekanan saham teknologi, kontrak berjangka indeks S&P 500 justru naik 0,4 persen dan Nasdaq menguat 0,6 persen pada perdagangan Senin. Meski demikian, Nasdaq yang didominasi saham teknologi telah terkoreksi hampir 7 persen sepanjang Oktober. Penurunan tersebut menjadi kinerja bulanan terburuk sejak gejolak pasar akibat kebijakan tarif AS pada April 2025.

Selain perkembangan sektor teknologi, investor mencermati kemungkinan perubahan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Pelemahan pasar saham dan ketidakpastian ekonomi memunculkan pertanyaan apakah bank sentral AS akan tetap melanjutkan rencana kenaikan suku bunga pada Desember.

Kontrak berjangka suku bunga masih menunjukkan peluang sebesar 72 persen bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga 25 basis poin. Namun, total pengetatan kebijakan moneter yang telah diperhitungkan pasar menyusut menjadi sekitar 55 basis poin, dari lebih dari 70 basis poin sebulan sebelumnya.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik tipis menjadi 4,952 persen, tetapi masih berada di bawah posisi tertinggi Oktober sebesar 5,3645 persen. Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor dua tahun tercatat 4,612 persen.

Sejumlah bank sentral juga dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan moneter pada pekan ini. Pasar memperkirakan Reserve Bank of Australia, Bank of England, dan Riksbank akan menaikkan suku bunga, sedangkan Norges Bank diperkirakan mempertahankan tingkat suku bunganya.

Dari sisi ekonomi, pelaku pasar menunggu hasil survei manufaktur Institute for Supply Management (ISM) AS untuk Oktober yang dirilis pada Senin. Data ketenagakerjaan AS atau nonfarm payrolls yang dijadwalkan terbit Jumat juga menjadi perhatian.

Konsensus pasar memperkirakan penambahan 65.000 tenaga kerja pada Oktober, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 29.000 pekerjaan pada September. Tingkat pengangguran diperkirakan tetap berada di angka 4,2 persen.

Di pasar valuta asing, euro relatif stabil pada 1,1156 dolar AS, sedangkan mata uang AS hampir tidak berubah terhadap yen Jepang di level 157,62 yen.

Harga minyak mentah justru melemah. Minyak Brent turun 1,5 persen menjadi 111,72 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 1,7 persen menjadi 102,37 dolar AS per barel. Pergerakan tersebut berlangsung ketika pejabat Iran dan Qatar melanjutkan perundingan untuk mendorong kesepakatan mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran.

Berbeda dengan minyak, harga emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga naik 0,6 persen menjadi 3.898 dolar AS per ons troi. Kenaikan tersebut terjadi setelah logam mulia itu terkoreksi 6,8 persen sepanjang Oktober.

Ketidakpastian mengenai prospek investasi AI, arah suku bunga, dan perkembangan ekonomi global membuat investor harus mencermati lebih dari sekadar pertumbuhan pendapatan perusahaan. Laporan keuangan emiten teknologi dan keputusan bank sentral dalam beberapa hari mendatang akan menjadi faktor penting yang memengaruhi arah pasar saham global. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *