Deklarasi Kazan Bawa Rusia-ASEAN ke Babak Baru Kerja Sama Ekonomi

KTT peringatan 35 tahun hubungan Rusia-ASEAN menghasilkan empat dokumen yang menjadi peta jalan penguatan perdagangan, investasi, energi, keamanan, teknologi, dan hubungan antarmasyarakat hingga 2030.

KAZAN – Rusia dan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) menyepakati Deklarasi Kazan serta tiga dokumen kerja sama dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Peringatan Rusia-ASEAN di Kazan, Rusia, Kamis, 18 Juni 2026. Kesepakatan itu menjadi landasan penguatan kemitraan strategis di bidang perdagangan, investasi, keamanan, energi, teknologi, ilmu pengetahuan, pariwisata, dan hubungan antarmasyarakat hingga 2030.

KTT yang memperingati 35 tahun hubungan Rusia-ASEAN tersebut dipimpin bersama oleh Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. Pertemuan dihadiri para pemimpin serta kepala delegasi dari 11 negara anggota ASEAN, yakni Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, Timor-Leste, dan Vietnam.

Selain Deklarasi Kazan bertajuk “ASEAN-Federasi Rusia: Persatuan dalam Keberagaman—35 Tahun Bersama”, pertemuan tersebut menghasilkan Rencana Aksi Komprehensif Kemitraan Strategis ASEAN-Federasi Rusia 2026–2030, Pernyataan Bersama tentang Kerja Sama Energi, dan Pernyataan Bersama tentang Kerja Sama Kebudayaan.

Rencana aksi itu menjadi pedoman penguatan kerja sama di bidang politik dan keamanan, perdagangan, investasi, pertanian, ketahanan pangan, energi, transportasi, teknologi informasi (TI), ilmu pengetahuan, pendidikan, kebudayaan, serta pariwisata.

Deklarasi Kazan juga menegaskan aspirasi bersama untuk membangun tatanan dunia multipolar yang adil dengan berpedoman pada hukum internasional dan prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dokumen tersebut turut menekankan penghormatan terhadap kedaulatan negara, sentralitas ASEAN, serta penyelesaian sengketa melalui cara-cara damai.

Dalam bidang ekonomi, Putin mendorong Rusia dan negara-negara ASEAN meningkatkan penggunaan mata uang nasional dalam transaksi perdagangan. Langkah itu diharapkan dapat memperlancar pembayaran lintas negara, mengurangi hambatan perdagangan, dan menyederhanakan prosedur administratif.

Rusia juga menawarkan perluasan kerja sama pada sektor industri, farmasi, pertanian, pupuk, dan energi. Dalam bidang energi nuklir sipil, perusahaan energi atom Rusia, Rosatom, menyatakan kesiapan membantu pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir serta pengembangan ekosistem teknologi nuklir dengan memperhatikan standar keselamatan dan lingkungan.

Pernyataan Bersama tentang Kerja Sama Energi mencakup peningkatan kolaborasi pada energi terbarukan, gas alam, gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG), ketahanan energi, serta transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan dan beragam.

Politolog Tatiana Kosacheva menilai paket kesepakatan tersebut dapat menggeser karakter kemitraan Rusia-ASEAN dari konsultasi politik menuju kerja sama ekonomi yang lebih terintegrasi.

“Ini berarti penghapusan hambatan perdagangan, dasar hukum langsung untuk mempermudah operasi logistik dan keuangan, pengurangan biaya untuk bisnis swasta, serta investasi langsung yang lebih aman tanpa perantara dari yurisdiksi tidak ramah,” jelasnya.

Meski demikian, penerapan kesepakatan tersebut menghadapi tantangan akibat perbedaan kepentingan politik, keamanan, dan ekonomi di antara negara-negara ASEAN. Sebagian negara anggota memiliki hubungan pertahanan yang kuat dengan Amerika Serikat (AS), sedangkan negara lainnya mempunyai ketergantungan perdagangan yang besar terhadap AS, Tiongkok, Jepang, dan Uni Eropa (UE).

Perbedaan tersebut membuat negara-negara ASEAN perlu menjaga keseimbangan hubungan dengan berbagai kekuatan global sekaligus mengantisipasi risiko sanksi sekunder yang dapat memengaruhi perdagangan, investasi, dan akses terhadap sistem keuangan internasional.

Peneliti senior Pusat Studi Vietnam dan ASEAN pada Institut Tiongkok dan Asia Kontemporer, Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, Elena Pyltsina, menilai Rusia tetap penting bagi ASEAN sebagai salah satu penyeimbang dalam persaingan kekuatan global.

Namun, menurut Pyltsina, Rusia belum dapat menggantikan peran ekonomi Tiongkok, AS, Jepang, ataupun UE di kawasan Asia Tenggara. Karena itu, kerja sama diperkirakan berkembang terutama pada sektor yang menjadi keunggulan Rusia, seperti energi, baja, aluminium, pupuk, pangan, teknologi informasi, dan teknologi nuklir sipil.

Implementasi Deklarasi Kazan dan Rencana Aksi Komprehensif 2026–2030 akan menentukan sejauh mana kesepakatan politik tersebut dapat diterjemahkan menjadi peningkatan perdagangan, investasi langsung, konektivitas keuangan, pertukaran pendidikan, dan proyek konkret yang memberikan manfaat bagi Rusia serta negara-negara ASEAN. []

Penulis: Amy Maulana | Penyunting: Aulia Setyaningrum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *