Dinas TPH Kalbar Akan Lakukan Market Intelejen Merespon Meroketnya Harga Komoditas

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Ir. Herti Herawati, MMA bersama Gubernur Kalbar saat Kegiatan Gema Membangun Desa yang dilaksanakan di Desa Serimbu Kecamatan Air Besar Kabupaten Landak dari 28 sd. 30 Agustus 2026 yang lalu. (Foto : DTPH)

PONTIANAK -Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Provinsi Kalimatan Barat terus berkomitmen membantu petani cabai, dengan cara memberikan bantuan saprotan secara kontinyu setiap tahunnya.

“Kami tetap berkomitmen dan akan terus memberikan perhatian penuh kepada petani cabai di Kalbar, bahkan kami setiap tahun memberikan bantuan saprotan,” ujar Ir. Herti Herawati, MMA Kadis TPH Kalbar pada Kamis (17/9/2026).

Bahkan menurut Ir. Herti Herawati, MMA, berdasarkan data Dinas TPH Kalbar, produksi komoditas cabai Januari sampai Agustus 2025 dibandingkan Januari-Agustus 2026 ada peningkatan produksi.

“Dinas TPH Provinsi Kalbar bersama tim pengendali inflasi daerah akan melakukan market intelejen untuk menganalisis apakah harga tinggi memang murni hasil interaksi antara supplier dan demand, atau ada permainan di rantai pasar,” ungkap Ir. Herti Herawati, MMA yang juga pernah menjabat Kadis Ketahanan Pangan Kalbar ini.

Pernyataan tersebut sebagai respon cepat terhadap kenaikan harga yang mulai dirasakan warga, hal tersebut tercermin dalam data harga pangan di Kalimantan Barat (Kalbar).

Kenaikan harga diperkirakan akibat kabut asap yang menyelimuti Kota Pontianak dan sekitarnya pada Rabu, 16 September 2026, tidak hanya berdampak terhadap aktivitas masyarakat dan kualitas udara, tetapi juga mulai dirasakan dari sisi pengeluaran rumah tangga.

Di tengah kondisi cuaca kering dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), masyarakat yang berbelanja di pasar harus menghadapi kenaikan harga sejumlah kebutuhan dapur. Sayuran, cabai, dan sejumlah bahan pangan menjadi komoditas yang mulai dirasakan lebih mahal dibandingkan kondisi sebelumnya.

Situasi tersebut membuat sebagian warga harus kembali mengatur anggaran belanja agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.  Uang yang sebelumnya dianggap cukup untuk membeli berbagai kebutuhan dapur, kini terasa lebih cepat habis ketika digunakan berbelanja di pasar. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *