Disketapang Kukar Evaluasi Gabah Tunnel, Siapkan Desain Baru 2027
Kepala Disketapang Kukar Ananias
Disketapang Kukar berencana memperpendek lantai jemur portabel dari 24 meter menjadi 12 meter pada 2027 setelah evaluasi menemukan kendala penempatan fasilitas di kawasan berbukit dan lahan terbatas.
ADVERTORIAL – Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) berencana memperkecil ukuran lantai jemur portabel untuk memudahkan petani mengeringkan gabah di wilayah dengan keterbatasan lahan. Penyempurnaan desain yang direncanakan pada 2027 itu dilakukan setelah evaluasi menemukan bahwa fasilitas berukuran 4 x 24 meter sulit ditempatkan di sejumlah kawasan berbukit.
Kepala Disketapang Kukar Ananias mengatakan, salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah mengurangi panjang lantai jemur portabel dari 24 meter menjadi 12 meter, sedangkan lebarnya tetap 4 meter. Perubahan tersebut diharapkan meningkatkan fleksibilitas penggunaan fasilitas tanpa mengabaikan kebutuhan petani.
“Untuk 2027, kemungkinan akan kami coba desain ulang supaya tidak terlalu panjang. Mungkin nanti ukurannya dibuat 4 x 12 meter agar teman-teman petani lebih mudah menempatkannya,” ucap Ananias kepada Prudensi.com di Tenggarong, Sabtu (17/10/2026).
Rencana penyempurnaan tersebut merupakan tindak lanjut evaluasi pelaksanaan program lantai jemur portabel yang dikembangkan melalui program dedikasi Kukar Idaman Terbaik. Fasilitas ini dirancang sebagai alternatif sarana pengeringan gabah bagi petani yang kesulitan menyediakan lahan untuk pembangunan lantai jemur permanen.
Dalam perencanaannya, program tersebut ditargetkan mencapai sekitar 500 unit. Namun, hingga periode 2025–2026, realisasinya baru sekitar 104 unit atau 20,8 persen dari target yang direncanakan.
Ananias menjelaskan, desain awal lantai jemur portabel memiliki kapasitas pengeringan sekitar dua ton gabah dalam sekali penjemuran. Ukuran tersebut semula dipilih untuk mengoptimalkan kapasitas sekaligus menyeragamkan bentuk fasilitas yang diproduksi.
“Yang kami buat dalam tahap pertama selama dua tahun terakhir ini ukurannya memang cukup panjang. Kapasitasnya sekitar dua ton untuk sekali jemur, dengan ukuran 4 x 24 meter,” terangnya.
Namun, penerapan di lapangan menunjukkan bahwa dimensi fasilitas menjadi kendala tersendiri. Petani di sejumlah wilayah kesulitan menemukan lahan dengan panjang dan kondisi permukaan yang sesuai untuk penempatannya.
“Waktu memesan ke pabrik, kami menentukan ukurannya supaya bentuknya stabil dan seragam. Lebarnya empat meter, panjangnya 24 meter. Tetapi setelah sampai di lapangan, ternyata mencari lahan untuk ukuran sepanjang itu tidak selalu mudah,” ungkapnya.
Kondisi tersebut terutama ditemukan di kawasan dengan kontur tanah berbukit. Ananias mencontohkan wilayah Bukit Biru yang memiliki keterbatasan lahan datar untuk menempatkan fasilitas sepanjang 24 meter.
“Kalau di beberapa wilayah, mungkin masih mudah mencari tempatnya. Tetapi ketika kami melihat kondisi di daerah seperti Bukit Biru yang berbukit-bukit, mencari lahan sepanjang 24 meter yang benar-benar sesuai itu cukup sulit,” katanya.
Menurutnya, kendala tersebut menunjukkan bahwa sifat portabel belum sepenuhnya menjamin kemudahan penggunaan apabila ukuran fasilitas tidak sesuai dengan karakteristik wilayah.
“Dulu kami berharap ukuran 4 x 24 meter ini bisa efektif karena kapasitasnya cukup besar. Namun, setelah diterapkan, ternyata kalau terlalu panjang justru kurang efektif di beberapa lokasi. Karena itu, kami akan mencoba membuatnya lebih pendek,” jelasnya.
Ananias mengakui, pengembangan inovasi tersebut masih memerlukan penyempurnaan agar persoalan yang hendak diselesaikan tidak justru menimbulkan hambatan baru bagi petani.
“Harapan saya, lantai jemur portabel ini bisa mengatasi masalah tanpa menimbulkan masalah baru. Tetapi ternyata, tetap ada kendalanya,” katanya.
Ia menjelaskan, gagasan pengembangan lantai jemur portabel bermula dari pengamatan terhadap teknologi pengeringan garam yang digunakan di sejumlah daerah di Jawa Timur (Jatim), khususnya Lamongan dan Gresik.
“Awalnya, kami melihat terowongan garam yang digunakan teman-teman di Jawa Timur. Di daerah Lamongan dan Gresik, mereka memproduksi garam menggunakan bangunan berbentuk setengah lingkaran dengan pengeringan menggunakan sinar ulraviolet atau disebut juga garam tunnel,” ujarnya.
Teknologi berbentuk terowongan atau tunnel tersebut kemudian menjadi inspirasi bagi Disetapang Kukar untuk mengembangkan fasilitas pengeringan gabah yang dapat dipindahkan sesuai kebutuhan.
“Nah, setelah kami coba amati, ternyata bentuk seperti itu bisa digunakan untuk menjemur gabah atau padi. Akhirnya, kami mencoba mendesain ulang supaya bisa dimanfaatkan oleh petani,” jelasnya.
Dalam proses pengembangannya, Disketapang Kukar menggandeng pihak swasta untuk memproduksi fasilitas tersebut. Inovasi ini diharapkan menjadi salah satu solusi atas keterbatasan sarana pascapanen, terutama di wilayah yang belum memiliki lantai jemur permanen.
Ananias menjelaskan, pembangunan lantai jemur permanen kerap menghadapi persoalan ketersediaan lahan. Selain membutuhkan lokasi khusus, pembangunan fasilitas tersebut juga memerlukan dukungan masyarakat dalam penyediaan atau hibah lahan.
“Kenapa awalnya kami mencoba lantai jemur portabel? Karena kami terkendala masalah lahan. Kalau membuat lantai jemur permanen, tentu membutuhkan lahan dan harus ada hibah lahan dari masyarakat,” tuturnya.
Persoalan semakin kompleks karena lahan yang tersedia sering kali juga dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan pertanian lainnya. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan pengembangan fasilitas yang dapat dipindahkan.
“Kadang-kadang masyarakat ingin menanam sayuran, tetapi tanahnya justru digunakan untuk membuat lantai jemur. Nah, untuk mengatasi persoalan lahan seperti itu, kami mencoba terobosan melalui lantai jemur portabel,” jelas Ananias.
Melalui konsep tersebut, petani diharapkan dapat memanfaatkan lahan secara lebih fleksibel tanpa harus mengalihfungsikannya secara permanen menjadi tempat pengeringan gabah.
Meski demikian, Disketapang Kukar masih perlu mengkaji penyesuaian dimensi fasilitas agar pengurangan ukuran tidak mengurangi manfaatnya secara signifikan. Opsi desain 4 x 12 meter yang direncanakan pada 2027 masih menjadi bagian dari proses evaluasi dan belum ditetapkan sebagai ukuran akhir.
Ananias menegaskan, keberhasilan inovasi tidak cukup diukur dari kapasitas atau bentuk fasilitas, tetapi juga dari kemudahan penerapan dan manfaat yang benar-benar dirasakan petani.
“Yang terpenting, fasilitas ini benar-benar bisa dimanfaatkan oleh petani. Kami ingin inovasi yang dibuat bukan hanya bagus dalam perencanaan, tetapi juga mudah diterapkan dan memberikan manfaat ketika digunakan di lapangan,” pungkasnya.
Penyempurnaan desain pada 2027 diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pemanfaatan lantai jemur portabel, terutama di kawasan berbukit dan wilayah dengan keterbatasan lahan, sehingga dukungan sarana pascapanen bagi petani Kukar semakin sesuai dengan kebutuhan di lapangan. []
Penulis: Jemi Irlanda Haikal | Penyunting: Aulia Setyaningrum
