ECB Naikkan Bunga Lagi ke 2,50%, Inflasi Energi Jadi Ancaman

FRANKFURT – Bank Sentral Eropa (ECB) kembali menaikkan suku bunga acuannya menjadi 2,50% dari 2,25% pada Kamis (10/09/2026). Langkah tersebut menjadi kenaikan kedua pada tahun ini di tengah meningkatnya risiko inflasi akibat lonjakan harga energi yang dipicu konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Kenaikan biaya energi menjadi perhatian utama ECB karena harga minyak kembali menembus US$100 per barel setelah AS dan Iran kembali saling menyerang sejak akhir Agustus. Konflik tersebut tidak hanya menyasar aset militer, tetapi juga pelayaran dan infrastruktur energi sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan bahan bakar di kawasan yang sangat bergantung pada impor.

ECB menilai tekanan tersebut berpotensi membuat inflasi bertahan di atas sasaran 2% lebih lama. Dalam pernyataan persnya, ECB menyebut, “Konflik di Timur Tengah terus menimbulkan tekanan inflasi, dan inflasi diperkirakan akan tetap jauh di atas target untuk jangka waktu yang cukup lama,” sebagaimana diberitakan Kontan, Kamis (10/09/2026).

Bank sentral yang menaungi 21 negara pengguna euro tersebut turut mengerek proyeksi inflasinya. Inflasi diperkirakan mencapai 3,0% pada 2026, kemudian turun menjadi 2,5% pada 2027 dan 2,1% pada 2028.

Namun, proyeksi itu dinilai belum sepenuhnya memasukkan dampak lonjakan harga energi terbaru, terutama gas alam. Komoditas tersebut memiliki pengaruh penting terhadap biaya pemanasan di sejumlah negara Eropa dan berpotensi memberikan tekanan lebih luas terhadap harga barang dan jasa.

“Hal ini sangat relevan karena, meskipun dampak lonjakan harga gas cenderung merambat lebih lambat dibandingkan lonjakan harga minyak, dampaknya terhadap inflasi non-energi justru lebih besar dan lebih persisten,” ungkap Barclays dalam sebuah catatan.

Keputusan ECB tersebut membuat arah kebijakan moneter berikutnya menjadi perhatian pasar. Pelaku pasar keuangan sebelumnya telah memperhitungkan kemungkinan satu kali kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini serta satu atau dua kenaikan lagi pada 2027.

Meski demikian, sebagian ekonom menilai kenaikan pada Kamis dapat menjadi langkah terakhir ECB untuk sementara waktu. Ketidakpastian tetap tinggi karena perkembangan harga energi dan konflik geopolitik dapat mengubah prospek inflasi dalam waktu relatif cepat.

ECB sendiri tidak memberikan petunjuk spesifik mengenai kebijakan berikutnya. Bank sentral hanya kembali menegaskan bahwa keputusan moneter akan ditentukan berdasarkan data ekonomi yang tersedia.

Investor kemudian mengalihkan perhatian ke konferensi pers Presiden ECB Christine Lagarde pada pukul 12.45 GMT untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan selanjutnya.

“Kami memperkirakan Presiden Lagarde akan mempertahankan sikap hawkish yang bersifat ‘menunggu dan melihat’ (wait-and-see), sembari tetap membuka peluang bagi pengetatan lebih lanjut,” ujar Martin Wolburg, ekonom senior di Generali Investments.

Di sisi lain, kondisi perekonomian zona euro memberikan alasan bagi ECB untuk tidak terlalu khawatir terhadap dampak kenaikan suku bunga. Pertumbuhan ekonomi tercatat lebih tahan terhadap tekanan biaya bahan bakar, persaingan dari Tiongkok, serta dampak kekeringan.

Penyaluran kredit perbankan juga meningkat pada Juli. Kondisi itu menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga ECB pada Juni belum memberikan tekanan yang terlalu besar terhadap aktivitas ekonomi dan masih menyediakan ruang bagi ECB untuk memperketat kebijakan jika diperlukan.

ECB memperkirakan ekonomi zona euro tumbuh 0,9% pada 2026, 1,4% pada 2027, dan 1,5% pada 2028.

Meski demikian, kenaikan biaya pinjaman pemerintah menjadi risiko lain yang harus diperhatikan. Imbal hasil obligasi jangka panjang telah mencapai level tertinggi sejak sebelum krisis keuangan global, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap inflasi sekaligus peningkatan utang pemerintah.

Tekanan terhadap pasar obligasi juga datang dari perusahaan teknologi besar yang agresif mencari pendanaan untuk membiayai ekspansi sektor kecerdasan buatan (AI). Di Jerman, gejolak politik turut mengguncang pasar surat utang pemerintah yang menjadi acuan bagi kawasan euro.

Di tengah tekanan harga energi, sejumlah indikator domestik justru menunjukkan perkembangan yang lebih positif. Inflasi inti, yang tidak memperhitungkan harga energi dan pangan, turun menjadi 2,4% pada bulan sebelumnya.

Ekspektasi konsumen terhadap kenaikan harga juga menurun. Sementara itu, laju pertumbuhan upah mulai melambat sehingga risiko terbentuknya spiral kenaikan upah dan harga dinilai lebih rendah dibandingkan periode gejolak energi pada 2022.

“Berbeda dengan guncangan energi tahun 2022, guncangan harga energi tahun ini kemungkinan tidak akan memicu spiral upah-harga, karena kondisi permintaan tidak cukup mendukung terjadinya inflasi yang lebih tinggi,” ujar Andrew Kenningham dari Capital Economics.

Kepala Makro Global ING, Carsten Brzeski, mengatakan perusahaan-perusahaan, setidaknya di Jerman, sejauh ini masih menyerap kenaikan biaya tersebut. Situasi itu berbeda dengan 2022 ketika lonjakan harga energi setelah invasi Rusia ke Ukraina ikut mendorong inflasi hingga lebih dari 10%.

Perbedaan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa ECB masih memiliki ruang untuk mengamati perkembangan ekonomi sebelum menentukan seberapa jauh pengetatan moneter perlu dilanjutkan.

Selain kebijakan suku bunga, masa depan kepemimpinan ECB juga berpotensi menjadi perhatian pasar. Masa jabatan Lagarde sebagai Presiden ECB dijadwalkan berlangsung hingga 31 Oktober 2027.

Lagarde sebelumnya dikaitkan dengan posisi kepemimpinan di World Economic Forum (WEF). Pada Juli lalu, ia juga menyampaikan keinginan untuk memperjuangkan nilai-nilai Eropa dalam kapasitas tertentu dalam kampanye pemilihan presiden Prancis tahun depan.

Ketika ditanya apakah hal tersebut berarti dirinya akan meninggalkan ECB sebelum masa jabatan berakhir, Lagarde menjawab, “Anda tidak akan melihat saya pergi sebelum tahun 2027.”

Perubahan di jajaran pimpinan ECB juga menjadi perhatian setelah muncul laporan bahwa anggota Dewan ECB Isabel Schnabel sedang dalam pembicaraan untuk bergabung dengan Dana Moneter Internasional (IMF).

Dengan tekanan energi yang kembali meningkat, inflasi masih menjadi faktor utama yang akan menentukan kebijakan ECB. Kondisi pertumbuhan yang relatif tangguh memberi ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan sikap ketat, tetapi perkembangan harga minyak dan gas serta kondisi pasar obligasi akan menjadi penentu apakah pengetatan lanjutan benar-benar diperlukan. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *