Ekspor Tenun Ikat Indonesia Meningkat, Industri Ulos Didorong Naik Kelas

0
104016

JAKARTA – Ekspor tenun ikat Indonesia meningkat pada semester I 2026, memberikan peluang bagi pengembangan kain ulos sebagai produk budaya yang memiliki nilai ekonomi. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong penguatan industri tenun tradisional melalui peningkatan keterampilan perajin, inovasi desain, pemanfaatan teknologi, dan perluasan akses pasar.

Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mengatakan, kain ulos memiliki potensi untuk dikembangkan melampaui fungsi tradisionalnya. Selain menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Batak, ulos dapat diolah menjadi produk fesyen, aksesori, dekorasi interior, hingga cenderamata.

Saat menghadiri Pameran Tenun Ulos di Jakarta, Selasa (13/10/2026), Sarmuji menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian warisan budaya dan pengembangan usaha. Dengan demikian, ulos diharapkan tetap relevan dengan kebutuhan pasar sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, terutama para perajin.

Peluang tersebut didukung oleh keberadaan 43 sentra tenun ulos yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di Sumatera Utara, termasuk Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Toba, dan Kabupaten Simalungun. Menurut catatan Kemenperin, jumlah sentra itu menjadi modal untuk memperkuat basis produksi dan memperluas pengembangan industri ulos.

Dari sisi perdagangan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor tenun ikat Indonesia pada 2025 mencapai 28.000 dolar Amerika Serikat (AS). Pada semester I 2026, nilainya meningkat menjadi 34.000 dolar AS, dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 13.600 dolar AS.

Kenaikan tersebut memperlihatkan adanya peluang bagi produk tenun Indonesia untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Namun, pengembangan ulos masih menghadapi tantangan, mulai dari keberlanjutan keterampilan menenun dan regenerasi perajin hingga peningkatan kualitas, pembaruan desain, serta kemampuan pelaku usaha menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen.

Untuk menjawab tantangan itu, Kemenperin berkomitmen memperkuat ekosistem industri kecil dan menengah (IKM) melalui fasilitasi pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan kewirausahaan, perlindungan produk khas daerah melalui indikasi geografis, serta peningkatan kapasitas dan produktivitas sentra industri.

Dukungan lainnya mencakup restrukturisasi mesin dan peralatan, penjaminan ketersediaan bahan baku, penerapan teknologi dalam proses produksi, serta promosi dan fasilitasi pameran di pasar domestik maupun internasional.

Sarmuji menilai pengembangan ulos perlu dilakukan secara berkelanjutan agar nilai budaya yang melekat pada kain tersebut dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan usaha. Perluasan pasar dan peningkatan daya saing diharapkan mampu memperbesar peluang usaha, menjaga keberlangsungan keterampilan menenun antargenerasi, serta meningkatkan kesejahteraan perajin. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *