Ekspor Toyota Melonjak 24%, Jadi Penopang Mobil Indonesia

JAKARTA – Lonjakan pengiriman Toyota menjadi salah satu penopang kinerja ekspor mobil Indonesia pada Agustus 2026. Ekspor kendaraan dalam bentuk utuh atau completely built up (CBU) tercatat 43.825 unit pada bulan tersebut, naik 4,7 persen dibandingkan Juli yang mencapai 41.849 unit.

Kenaikan tersebut terutama terlihat pada Toyota yang mencatat pertumbuhan ekspor paling tinggi di antara tiga merek dengan volume pengiriman terbesar. Ekspor Toyota pada Agustus mencapai 17.759 unit, bertambah 3.448 unit atau 24,1 persen dibandingkan Juli sebanyak 14.311 unit.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), secara kumulatif ekspor CBU Indonesia selama Januari-Agustus 2026 mencapai 337.372 unit. Angka itu meningkat 0,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 334.323 unit.

Toyota sekaligus menjadi merek dengan kontribusi ekspor CBU terbesar sepanjang delapan bulan pertama 2026. Pengiriman kendaraan Toyota tercatat sekitar 112.890 unit dengan pangsa 33,5 persen dari total ekspor yang dilakukan sembilan merek.

Di bawah Toyota, Mitsubishi Motors mencatat ekspor 10.446 unit pada Agustus. Namun, kinerja tersebut turun 1.934 unit atau 15,6 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 12.380 unit.

Sementara itu, Daihatsu menempati posisi ketiga dengan ekspor CBU sebanyak 10.242 unit pada Agustus. Pengiriman Daihatsu meningkat 1.125 unit atau 12,3 persen dibandingkan Juli.

Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara menilai perkembangan ekspor pada Agustus menunjukkan kecenderungan positif dibandingkan tahun sebelumnya. “Ada kecenderungan cukup baik ya (ekspor Agustus 2026). Trennya juga cukup bagus dibanding dengan tahun lalu,” kata Kukuh.

Kinerja ekspor tersebut juga menunjukkan pasar kendaraan bermesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE) masih memiliki ruang di sejumlah negara. Menurut Kukuh, permintaan kendaraan konvensional belum sepenuhnya hilang karena masih banyak negara yang menggunakannya.

“Karena masih banyak negara yang juga masih pakai mobil konvensional. Itu kan kebanyakan ICE,” ujar Kukuh.

Sejumlah negara yang menjadi tujuan utama kendaraan produksi Indonesia antara lain Filipina, Vietnam, Meksiko, negara-negara Timur Tengah, Thailand, dan Australia. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi industri otomotif nasional untuk mempertahankan pasar ekspor kendaraan konvensional di tengah perkembangan kendaraan elektrifikasi.

Kukuh menilai kendaraan ICE masih akan bertahan meski industri otomotif global bergerak menuju elektrifikasi. “Dan saya pikir ke depan tuh ICE itu enggak akan hilang,” kata Kukuh.

Dengan pertumbuhan ekspor pada Agustus dan peningkatan kumulatif hingga delapan bulan 2026, industri otomotif Indonesia masih memiliki peluang mempertahankan kapasitas produksi dan jaringan pasar luar negeri. Pada saat yang sama, basis produksi yang telah terbentuk dapat menjadi modal bagi industri nasional untuk beradaptasi dengan perkembangan kendaraan elektrifikasi. Data tersebut sebagaimana diberitakan Kompas, Senin, (14/09/2026). []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *