Filipina Minta Minyak Rusia, KTT Rusia-ASEAN Bahas Perdagangan Rp283 Triliun
KTT Rusia-ASEAN di Kazan membahas penguatan kerja sama ekonomi, energi, keamanan, dan perdagangan di tengah meningkatnya kebutuhan energi serta persaingan kekuatan besar di kawasan Indo-Pasifik.
KAZAN – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Rusia-Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) resmi digelar di Kazan, Rusia, pada 17–18 Juni 2026, dengan fokus memperkuat kerja sama ekonomi, energi, keamanan, perdagangan, dan politik di tengah dinamika geopolitik global.
KTT Rusia-ASEAN bertema Partnership Tanpa Batas itu menjadi forum strategis bagi Rusia dan negara-negara ASEAN untuk memperluas kerja sama lintas sektor. Salah satu isu utama yang mencuat ialah perdagangan Rusia-ASEAN yang saat ini baru mencapai 17,8 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp283 triliun.
Presiden Rusia Vladimir Putin membuka rangkaian KTT dengan menyoroti sejumlah prioritas strategis, mulai dari keamanan, energi, hingga peningkatan arus perdagangan internasional dengan negara-negara ASEAN.
Putin menyebut Kazan sebagai kota yang indah dan bersejarah. Menurutnya, Kazan mencerminkan keragaman budaya dan agama Rusia serta memiliki warisan spiritual yang unik.
“Saat ini, Rusia dan ASEAN bersama-sama memperjuangkan sistem dunia yang adil, kesetaraan negara, dan pengakuan terhadap keragaman budaya dan peradaban dunia,” tegas Putin.
Putin juga mengingatkan bahwa Uni Soviet pernah membantu banyak negara Asia Tenggara melepaskan diri dari penjajahan. Pernyataan itu menjadi bagian dari upaya Rusia menegaskan kembali hubungan historisnya dengan kawasan ASEAN.
Dalam pertemuan bilateral terpisah, Putin bertemu Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. yang memimpin negaranya sejak 2022. Putin mengenang ayah Marcos Jr., yakni Presiden Ferdinand Marcos, pernah menandatangani komunike bersama dengan Soviet pada 1967 untuk membangun hubungan antarnegara.
Marcos Jr. menyampaikan, prioritas Filipina dalam kemitraan dengan Rusia ialah keamanan dan energi. Filipina yang tengah menghadapi krisis energi dan kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah secara terbuka meminta Rusia memasok minyak.
Putin juga berbincang dengan Sultan Brunei Hassanal Bolkiah. Brunei disebut tetap menjaga posisi seimbang dalam urusan internasional, termasuk dalam isu-isu global yang kompleks.
Sementara itu, Forum Bisnis Rusia-ASEAN yang digelar bersamaan dengan KTT menjadi ruang bagi para pemimpin negara dan pelaku usaha untuk membahas peluang kerja sama ekonomi. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan, Malaysia berkembang pesat dalam ekonomi digital dan menganut prinsip sistem perdagangan global berbasis aturan.
Anwar menegaskan kerja sama militer Malaysia-Rusia sedang berlangsung tanpa batasan. Ia menyebut Malaysia sebagai negara independen yang ramah terhadap semua negara, termasuk Rusia.
Meski Malaysia harus mematuhi sanksi Amerika Serikat (AS) dalam kerja sama militer-teknis dengan Rusia, analis dari Pusat Analisis Strategi dan Teknologi Ruslan Puhov menilai pasar Malaysia tetap terbuka bagi Rusia pada masa mendatang.
Malaysia saat ini memiliki sekitar 30 pesawat tempur MiG-29N dan Su-30MKM buatan Rusia. Dari jumlah itu, 18 unit Su-30MKM dikirim pada akhir 2000-an.
Menteri Pengembangan Ekonomi Rusia Maksim Reshetnikov melaporkan, pada kuartal I 2026, pengiriman minyak dan bahan bakar mineral Rusia ke kawasan Asia Tenggara meningkat 40 persen akibat krisis di Selat Hormuz. Kenaikan itu menunjukkan pentingnya pasokan energi Rusia bagi kawasan di tengah ketidakpastian global.
Meski potensi kerja sama dinilai besar, volume perdagangan Rusia-ASEAN masih tertinggal jauh dibandingkan perdagangan China dengan ASEAN yang mencapai 1 triliun dolar AS pada 2025.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dan Perdana Menteri Vietnam Le Minh Hung menekankan pentingnya negara mereka menjadi jembatan bagi bisnis Rusia untuk masuk ke pasar ASEAN.
Thailand mencatat, negara itu hampir menjadi rumah kedua bagi banyak warga Rusia. Pada 2025, sekitar 2 juta wisatawan Rusia berkunjung ke Thailand. Thailand juga mengklaim sebagai pemimpin regional dalam sektor pangan, pertanian, pariwisata, layanan medis, dan transisi hijau.
Thailand membuka peluang investasi di industri digital, pusat data, produksi chip, dan semikonduktor. Sementara itu, Vietnam menyoroti pentingnya koneksi transportasi antara Timur Jauh Rusia dan Asia Tenggara.
Indonesia sebagai salah satu anggota kunci ASEAN turut berpartisipasi dalam KTT melalui Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono. Keterlibatan Indonesia diharapkan dapat memperkuat posisi ASEAN dalam mendorong peningkatan kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan Rusia.
KTT di Kazan juga menjadi langkah awal menuju KTT ASEAN berikutnya yang direncanakan berlangsung di Manila, Filipina, pada 10–12 November 2026. Forum itu dinilai dapat menjadi fondasi penguatan hubungan Rusia-ASEAN dalam satu dekade ke depan, terutama di tengah persaingan kekuatan besar di kawasan Indo-Pasifik. []
Penulis: Amy Maulana | Penyunting: Aulia Setyaningrum
