Halo SAE Inovasi Layanan Publik, Habib Mustofa : Kritik Perlu, Tapi Harus Berdasarkan Data
Layanan Halo SAE bentuk kepedulian Pemkab Probolinggo yang terintegerasi. (Foto : Istimewa)
PROBOLINGGO – Ketua Laskar Jogo Probolinggo Habib Mustofa mengajak masyarakat untuk memberikan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang konstruktif. Ia menilai kritik sangat penting sebagai bentuk kontrol publik, namun harus disertai dengan dasar data yang kuat.
“Dan jangan kita juga memberikan masalah saja, kita juga cari jalan keluarnya. Jadi saya juga pada pengkritik-pengkritik itu, saya senang. Tapi kadang-kadang kritik basis datanya nggak ada. Asal ngomong saja, itu saya kira juga perlu kita perbaiki,” ujar Habib Mustofa, dalam suatu forum Silaturahmi Pengurus Laskar Jogo Probolinggo, Sabtu (23/5/2026).
Habib Mustofa menyampaikan bahwa berbagai program yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Probolinggo sudah berada di jalur yang tepat. Mulai dari program SAE Law Care (perlindungan hukum), SAE Layanan “Mata Prabulinggih” (fokus layanan kesehatan dan inovasi pendidikan), SAE Kerja ASN Award, dan yang terbaru Halo SAE yang baru dilaunching pada 20 Mei 2026.
“Layanan ini memakai metode AI yang lebih dinamis dan fleksibel dengan tujuan lebih mendekatkan hubungan antara pemerintah dan masyarakat,”jelasnya.
Namun menurut politisi senior PKB ini, pengalaman panjang berada di barisan oposisi di Kabupaten Probolinggo justru membentuk cara pandang dalam menyikapi kritik terhadap pemerintah.
“Layanan inovasi Halo SAE, layanan pengaduan publik melalui WhatsApp berbasis kecerdasan buatan (AI) yang diluncurkan Pemerintah Kabupaten Probolinggo mendapat beragam kritikan dari berbagai kalangan, silahkan dikritik tapi harus berani menyampaikan argumen yang berbasis data, bukan sekadar opini liar,”ujar pentolan Laskar Jogo Probolinggo ini.
Lebih jauh Habib Mustofa menyatakan, kritik terhadap pemerintah merupakan hal yang wajar dalam demokrasi. Namun, ia menilai kritik yang tidak disertai data dan literasi hanya akan berubah menjadi serangan subjektif yang tidak memberi solusi bagi masyarakat.
“Saya tidak anti kritik, tidak alergi kritikan. Tapi saya menyayangkan pola kritik yang belum mengarah kepada yang konstruktif,” ujarnya.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Habib Mustofa mengaku pernah berada di posisi sebagai oposisi yang aktif mengkritisi kebijakan pemerintah daerah. Karena itu, ia memahami betul bagaimana kritik seharusnya dibangun.
Baginya, seorang pengkritik wajib memiliki basis data, memahami substansi persoalan, dan mampu menawarkan solusi. Standar tersebut, kata dia, harus berlaku bagi siapa pun yang ingin menilai program Halo SAE.
Inovasi Pelayanan Publik
Habib Mustofa menilai sebagian kritik yang menyebut peluncuran Halo SAE tidak urgen merupakan sudut pandang yang keliru. Program tersebut bukan sekadar proyek seremonial, melainkan bagian dari upaya modernisasi pelayanan publik di era digital.
“Ini bukan masalah urgen atau tidak urgen. Ini masalah inovasi peningkatan pelayanan kepada publik,” pungkasnya. (rac)
