Harga Cabai dan Telur Kompak Naik Jumat 14 Agustus 2026
JAKARTA – Harga sejumlah bahan pangan strategis kembali bergerak naik pada Jumat (14/08/2026), dengan cabai rawit hijau, telur ayam ras, dan sejumlah jenis cabai menjadi komoditas yang mengalami kenaikan paling mencolok. Pergerakan harga tersebut tercatat dalam pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional pada Jumat (14/08/2026) pagi.
Harga cabai rawit hijau tercatat Rp54.900 per kilogram (kg), naik dari Rp47.900 per kg. Kenaikan juga terjadi pada cabai merah besar yang mencapai Rp49.300 per kg dari sebelumnya Rp47.600 per kg. Sementara cabai merah keriting berada di level Rp51.000 per kg, meningkat dibandingkan harga sebelumnya Rp46.850 per kg.
Kenaikan harga juga terlihat pada kelompok pangan sumber protein. Telur ayam ras segar dijual Rp29.400 per kg, naik dari Rp27.050 per kg. Adapun daging ayam ras segar berada di angka Rp41.250 per kg.
Di sisi lain, harga cabai rawit merah tercatat Rp62.200 per kg. Komoditas tersebut menjadi salah satu bahan pangan dengan harga relatif tinggi dalam pemantauan pasar pada Jumat pagi.
Untuk komoditas bawang, harga bawang merah tercatat Rp39.400 per kg, sedangkan bawang putih berada di level Rp40.500 per kg. Harga daging sapi kualitas pertama mencapai Rp151.400 per kg dan kualitas kedua Rp142.350 per kg.
Pergerakan harga pangan domestik tersebut berlangsung ketika pasar pangan global juga menghadapi tekanan. Harga pangan dunia pada Juli 2026 tercatat mencapai level tertinggi dalam sekitar tiga setengah tahun, antara lain dipengaruhi gangguan rantai pasok, risiko geopolitik, serta cuaca panas dan kering.
Data Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menunjukkan Indeks Harga Pangan FAO naik 0,6 persen secara bulanan menjadi 131,1 poin pada Juli. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Januari 2023, sebagaimana dikutip dari Anadolu pada Senin (10/08/2026).
Kenaikan indeks global terutama didorong oleh harga sereal, gula, dan minyak nabati. Meski demikian, harga pangan dunia secara keseluruhan masih 18,2 persen di bawah rekor tertinggi yang tercatat pada Maret 2022.
Salah satu komoditas yang mengalami tekanan cukup kuat adalah gandum. Harga gandum global meningkat 5,8 persen dibandingkan Juni dan 9,9 persen secara tahunan. Kondisi tersebut berkaitan dengan gangguan arus ekspor di kawasan Laut Hitam serta kerusakan infrastruktur ekspor yang memicu kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan.
Tekanan juga terjadi pada minyak nabati. Indeks Harga Minyak Nabati FAO meningkat 3,7 persen menjadi 195,7 poin, sekaligus mencapai level tertinggi sejak Juni 2022. Kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi tingginya harga minyak kelapa sawit dan minyak kedelai.
Sementara itu, Indeks Harga Gula naik 5,6 persen secara bulanan menjadi 95 poin. Namun, angka tersebut masih lebih rendah 8 persen dibandingkan posisi pada tahun sebelumnya.
FAO menyebut kenaikan harga gula berkaitan dengan kekhawatiran terhadap dampak cuaca panas dan kering yang berkepanjangan terhadap hasil panen di Uni Eropa. Kondisi El Nino juga menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi prospek produksi di sejumlah negara produsen utama Asia.
Berbeda dengan komoditas tersebut, harga daging global justru mengalami penurunan 2,8 persen secara bulanan menjadi 127,7 poin. Penurunan itu menjadi yang pertama sepanjang 2026, meskipun secara tahunan indeks harga daging masih tumbuh 0,8 persen.
Indeks Harga Produk Susu juga turun 0,8 persen dibandingkan Juni dan merosot 24,8 persen secara tahunan menjadi 116,2 poin. Penurunan tersebut melanjutkan tren pelemahan yang telah berlangsung sejak April.
Pergerakan harga global tersebut menjadi salah satu konteks yang perlu diperhatikan dalam melihat dinamika harga pangan domestik. Sementara itu, perubahan harga di tingkat pasar tetap dipengaruhi oleh kondisi pasokan, distribusi, permintaan, serta faktor musiman masing-masing komoditas. []
Redaksi01
