Harga Minyak Dunia Anjlok 2 Persen, Kekhawatiran Ekonomi Kuasai Pasar
JAKARTA – Harga minyak dunia ditutup melemah sekitar 2 persen pada akhir perdagangan Kamis (09/07/2026) waktu setempat atau Jumat (10/07/2026) pagi WIB. Pelemahan dipicu meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap tekanan inflasi dan potensi perlambatan ekonomi global yang diperkirakan dapat mengurangi permintaan minyak, sehingga menutupi kekhawatiran atas gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.
Harga minyak mentah Brent tercatat turun 1,72 dolar Amerika Serikat (AS) menjadi 76,30 dolar AS per barrel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terkoreksi 1,44 dolar AS menjadi 72,08 dolar AS per barrel. Penurunan tersebut terjadi setelah sehari sebelumnya kedua kontrak sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa pekan.
Tekanan terhadap harga minyak muncul di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap prospek ekonomi dunia. Pelaku pasar menilai inflasi yang masih tinggi dan perlambatan aktivitas ekonomi berpotensi menekan konsumsi energi dalam beberapa waktu ke depan.
Di sisi lain, situasi geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor yang diperhitungkan. Konflik antara AS dan Iran disebut masih menghambat pembukaan penuh Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sebelumnya dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia.
Ketegangan kawasan kembali meningkat setelah militer Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer AS di sejumlah negara Teluk sebagai respons atas serangan udara AS ke wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran. Kondisi tersebut turut membayangi pelaksanaan gencatan senjata yang telah berlangsung sekitar tiga pekan.
Di Iran, prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei juga telah berlangsung di Mashhad setelah rangkaian upacara selama sepekan. Selain itu, sejumlah ledakan masih dilaporkan terdengar di beberapa wilayah, termasuk Bushehr yang menjadi lokasi salah satu pembangkit listrik tenaga nuklir negara tersebut.
Meski demikian, analis menilai eskalasi konflik diperkirakan tidak berlangsung dalam jangka panjang. Ahli Strategi Energi Global Macquarie Group, Vikas Dwivedi, mengatakan, “Kami memperkirakan ketegangan terbaru di Timur Tengah antara AS dan Iran hanya akan berlangsung relatif singkat karena kedua negara dibatasi oleh realitas ekonomi dan politik yang mereka hadapi,” sebagaimana dilansir Kompas, Jumat (10/07/2026).
Pandangan serupa disampaikan Direktur Energy Futures Mizuho, Bob Yawger. “Setelah dua hari melakukan serangan, Iran tampaknya mulai melakukan komunikasi untuk meredakan permusuhan dan kemungkinan kembali ke meja perundingan,” ujarnya.
Selain perkembangan geopolitik, pasar juga mencermati indikator ekonomi sejumlah negara. Di AS, penurunan klaim tunjangan pengangguran menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja masih relatif stabil. Namun, risalah rapat Federal Reserve (The Fed) mengindikasikan para pembuat kebijakan tetap mewaspadai risiko inflasi. Presiden The Fed New York, John Williams, juga menyatakan tidak memperkirakan harga energi akan mengalami kenaikan berkelanjutan hingga akhir tahun.
Sementara itu, di China, inflasi harga produsen meningkat ke level tertinggi dalam empat tahun sehingga menambah tekanan terhadap sektor manufaktur di tengah lemahnya permintaan domestik. Di Eropa, konflik Rusia-Ukraina juga masih menjadi perhatian setelah militer Ukraina mengklaim menyerang belasan kapal tanker Rusia di Laut Azov menggunakan drone. Berbagai faktor tersebut diperkirakan akan terus memengaruhi pergerakan harga minyak global dalam waktu dekat. []
Redaksi01
