Harga Minyak Dunia Bertahan Tinggi, Konflik AS-Iran Belum Reda

JAKARTA – Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia kembali mengguncang pasar energi global, mendorong harga minyak mentah dunia bertahan di level tinggi meski Amerika Serikat (AS) memperpanjang gencatan senjata dengan Iran.

Pada perdagangan terbaru, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$90 per barel setelah melonjak hampir 10 persen dalam dua sesi sebelumnya. Sementara itu, minyak Brent ditutup mendekati US$99 per barel. Kenaikan ini terjadi di tengah terganggunya distribusi energi global akibat blokade di Selat Hormuz yang belum terselesaikan.

Presiden AS Donald Trump menyatakan negaranya menunda aksi militer lanjutan, namun tetap melanjutkan pembatasan terhadap kapal yang berafiliasi dengan Iran hingga proses perundingan selesai. Kebijakan tersebut dinilai belum cukup meredakan kekhawatiran pasar karena jalur distribusi utama minyak dunia masih terganggu.

Selat Hormuz diketahui merupakan jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak mentah global. Gangguan pada jalur ini menyebabkan volatilitas pasar meningkat tajam hingga mencapai level tertinggi sejak pandemi Covid-19 pada 2020.

“Berita datang silih berganti dengan sangat cepat, namun distribusi minyak masih tertahan,” ujar Rebecca Babin. “Ketidakpastian seputar perpanjangan gencatan senjata, potensi blokade, dan peran Iran membuat pasar tetap waspada, tetapi realitanya adalah aliran pasokan tetap terhambat,” sebagaimana dilansir Bloomberg, Rabu, (22/04/2026).

Situasi semakin kompleks setelah Iran menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz selama Angkatan Laut AS masih melakukan pencegatan terhadap kapal mereka. Bahkan, Teheran mengisyaratkan kemungkinan tindakan militer untuk menembus blokade tersebut.

Di sisi lain, pemerintah AS juga meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan kebijakan tekanan maksimum akan terus dilakukan untuk membatasi kemampuan Iran dalam sektor energi dan keuangan.

“Fasilitas penyimpanan di Pulau Kharg akan penuh dan sumur-sumur minyak Iran yang rapuh akan ditutup,” tulis Bessent.

Sebelumnya, harga Brent sempat menembus US$100 per barel setelah rencana perundingan damai terganggu akibat pembatalan kunjungan Wakil Presiden AS JD Vance. Namun, harga kembali terkoreksi setelah pernyataan resmi terkait perpanjangan gencatan senjata disampaikan.

Negosiasi yang berlangsung dinilai belum menunjukkan titik temu, terutama terkait isu program nuklir Iran dan konflik regional lainnya. Kondisi ini membuat pasar tetap berada dalam tekanan ketidakpastian.

Dengan situasi tersebut, pelaku pasar energi global diperkirakan masih akan menghadapi fluktuasi harga dalam jangka pendek. Stabilitas harga minyak sangat bergantung pada perkembangan negosiasi dan kondisi geopolitik di kawasan tersebut. []

Penulis: Redaksi | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *