Harga Minyak Dunia Naik Tipis, Pasar Fokus pada Stok AS dan Konflik Iran
NEW YORK – Pergerakan harga minyak dunia masih dipengaruhi kombinasi faktor fundamental dan geopolitik. Pada penutupan perdagangan Rabu (15/07/2026) waktu setempat atau Kamis (16/07/2026) WIB, harga minyak hanya mencatat kenaikan tipis karena pelaku pasar menilai pasokan minyak mentah Amerika Serikat (AS) mulai stabil meski ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat.
Harga minyak mentah Brent ditutup naik 22 sen atau 0,26 persen menjadi 84,95 dolar AS per barrel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 26 sen atau 0,33 persen ke level 79,60 dolar AS per barrel.
Kenaikan harga tersebut tertahan setelah Badan Informasi Energi Amerika Serikat (Energy Information Administration/EIA) melaporkan persediaan minyak mentah AS hanya turun 1,7 juta barrel pada pekan lalu. Penurunan itu lebih rendah dibandingkan proyeksi analis yang memperkirakan penurunan mencapai 2,6 juta barrel.
Analis Senior Price Futures Group Phil Flynn menilai pasar mulai terbiasa menghadapi eskalasi konflik di Timur Tengah sehingga dampaknya terhadap harga minyak tidak lagi sebesar sebelumnya.
“Tampaknya ada perasaan bahwa kita pernah melihat situasi seperti ini sebelumnya,” kata Flynn, merujuk pada konflik di Timur Tengah.
“Dan ada kesan dari laporan EIA bahwa pasokan, alih-alih terus menyusut, justru mulai stabil,” imbuh dia, sebagaimana dilansir Kompas, Kamis (16/07/2026).
Selain minyak mentah, EIA juga melaporkan persediaan produk distilat, seperti solar dan minyak pemanas, meningkat 4,6 juta barrel dalam sepekan. Jumlah tersebut jauh melampaui perkiraan analis yang hanya memperkirakan kenaikan sekitar 100.000 barrel, sehingga turut membatasi penguatan harga minyak.
Di sisi lain, perkembangan geopolitik masih menjadi perhatian pelaku pasar. Pemerintah AS kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan melancarkan serangan udara pada malam hari. Langkah tersebut direspons Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) dengan ancaman menutup seluruh jalur ekspor lain yang dinilai menguntungkan AS dan sekutunya.
Ketegangan itu terjadi setelah konflik kedua negara kembali memanas menyusul rapuhnya gencatan senjata yang sempat dicapai pada Juni. Militer AS menyatakan telah menyerang puluhan sasaran militer di sekitar Selat Hormuz dan wilayah pesisir Iran. Sebagai balasan, IRGC mengklaim menyerang sejumlah sasaran militer AS di kawasan, termasuk di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
Militer AS kemudian kembali menggempur sistem pertahanan pantai serta lokasi penyimpanan dan peluncuran rudal jelajah Iran. Menurut militer AS, operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam melancarkan serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.
Analis UBS Giovanni Staunovo menilai blokade laut yang diberlakukan AS terhadap kapal-kapal keluar-masuk pelabuhan Iran turut memberikan dukungan terhadap harga minyak. Dalam dua pekan terakhir, ekspor minyak mentah Iran diperkirakan masih berada pada kisaran 1,5 juta hingga 2 juta barrel per hari.
Sementara itu, Goldman Sachs memperkirakan harga Brent berpotensi menembus 110 dolar AS per barrel pada kuartal IV 2026 apabila pemulihan ekspor minyak dari kawasan Teluk terus mengalami hambatan. Kendati demikian, pelaku pasar masih bersikap hati-hati karena perkembangan konflik berlangsung sangat dinamis.
“Ini hanyalah bagian dari dinamika perang. Pasar telah belajar untuk bersikap lebih tenang terhadap pengumuman-pengumuman besar, karena sering kali perkembangan yang dikhawatirkan itu tidak benar-benar terjadi,” kata Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank Ole Hansen.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan harga minyak dunia diperkirakan masih akan dipengaruhi perkembangan pasokan energi global dan dinamika konflik di Timur Tengah dalam beberapa waktu ke depan. []
Redaksi01
