Harga Pangan Nasional Naik, Riau Perlu Waspadai Pasokan dari Luar Daerah
RIAU – Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan di tingkat nasional pada awal September 2026 menjadi perhatian bagi Provinsi Riau, terutama karena ketersediaan pasokan dari daerah lain memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas harga di pasar. Pemantauan harga secara harian dan kelancaran distribusi menjadi faktor yang perlu diperhatikan agar tekanan harga tidak semakin membebani masyarakat.
Sejumlah komoditas pangan tercatat mengalami kenaikan pada Selasa (01/09/2026). Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN), tekanan harga terjadi pada sejumlah bahan kebutuhan pokok, termasuk beras, cabai, daging ayam ras, telur ayam ras, dan daging sapi.
Di tingkat daerah, pemantauan harga dilakukan melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Pekanbaru. Informasi harga dihimpun dari pemantauan di pasar tradisional untuk memberikan gambaran mengenai perkembangan harga pangan yang terjadi di masyarakat.
Namun, data harga terbaru pada laman publik TPID Pekanbaru belum seluruhnya tersedia. Karena itu, perkembangan harga di Riau perlu dibaca secara hati-hati karena perbedaan pasar, kualitas barang, ketersediaan stok, dan jalur distribusi dapat menyebabkan harga antardaerah tidak bergerak secara seragam.
Pada pemantauan sebelumnya, harga sejumlah komoditas di Riau justru menunjukkan arah yang berbeda. Telur ayam berada pada kisaran Rp44.000 hingga Rp48.000 per papan, sedangkan harga ayam potong sempat turun dari sekitar Rp29.000 menjadi Rp26.000 per kilogram.
Harga cabai merah Bukittinggi juga tercatat berada di kisaran Rp50.000 per kilogram. Sementara itu, bawang putih bergerak naik dan sempat berada pada kisaran Rp39.000 hingga Rp40.000 per kilogram, dibandingkan periode sebelumnya sekitar Rp30.000 hingga Rp35.000 per kilogram.
Kenaikan bawang putih menunjukkan besarnya pengaruh biaya pasokan terhadap harga pangan. Sebagai komoditas yang sebagian pasokannya berasal dari luar negeri, harga bawang putih dapat dipengaruhi perubahan biaya distribusi dan nilai tukar rupiah.
Berbeda dengan bawang putih, pergerakan harga cabai sangat bergantung pada produksi di sentra pertanian serta kelancaran distribusi. Gangguan cuaca berpotensi mengurangi hasil panen sekaligus menghambat pengiriman, sehingga harga komoditas hortikultura dapat berubah dalam waktu relatif cepat.
Pada tingkat nasional, kenaikan harga cabai menjadi salah satu pergerakan yang cukup menonjol. Harga cabai merah besar tercatat naik 4,38 persen menjadi Rp51.250 per kilogram, sedangkan cabai merah keriting meningkat 8,14 persen menjadi Rp55.800 per kilogram.
Kenaikan lebih tinggi terjadi pada cabai rawit merah yang naik 13,30 persen menjadi Rp81.550 per kilogram. Pergerakan harga tersebut menjadi sinyal yang perlu diperhatikan daerah-daerah yang masih bergantung pada kelancaran pasokan dari sentra produksi.
Beras juga mengalami pergerakan harga yang beragam. Beras medium II tercatat berada pada level Rp25.450 per kilogram, sementara beras medium I berada di Rp16.500 per kilogram dan beras super I Rp17.800 per kilogram.
Adapun beras super II naik tipis 0,29 persen menjadi Rp17.300 per kilogram. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa harga beras dipengaruhi jenis, kualitas, serta sumber pasokan yang berbeda.
Komoditas protein hewani turut mengalami kenaikan. Harga daging ayam ras segar tercatat naik 0,95 persen menjadi Rp42.650 per kilogram, sedangkan telur ayam ras meningkat 1,2 persen menjadi Rp29.600 per kilogram.
Harga daging sapi kualitas I naik 0,2 persen menjadi Rp152.000 per kilogram. Sementara itu, daging sapi kualitas II meningkat 0,04 persen menjadi Rp142.700 per kilogram. Minyak goreng curah juga tercatat naik tipis 0,24 persen menjadi Rp20.500 per kilogram.
Pakar pertanian sekaligus ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian, menilai ancaman kekeringan dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan tekanan terhadap sektor pangan. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi biaya produksi hingga harga yang dibayar konsumen.
“Komoditas inelastis seperti beras, cabai, dan bawang,” ujar Eliza, sebagaimana dilansir SabangMerauke News, Selasa (01/09/2026), saat menjelaskan kelompok pangan yang dinilai rentan terhadap kenaikan harga.
Menurut Eliza, komoditas tersebut tetap dibutuhkan masyarakat meskipun harganya meningkat. Konsumen umumnya hanya mengurangi jumlah pembelian tanpa sepenuhnya menghentikan konsumsi.
Eliza juga menyoroti pentingnya kebijakan jangka panjang untuk memperkuat ketahanan sektor pertanian di tengah risiko gangguan cuaca.
“Trade-off saat ini adalah antara belanja darurat atau investasi infrastruktur,” katanya.
Bagi Riau, kelancaran distribusi dan ketersediaan stok menjadi faktor penting untuk mencegah kenaikan harga nasional menjalar lebih besar ke pasar lokal. Cabai, sayuran, dan komoditas pangan lain yang memiliki daya simpan terbatas membutuhkan distribusi yang cepat agar pasokan tetap terjaga.
Pemerintah daerah sebelumnya juga menggunakan pasar murah sebagai salah satu langkah stabilisasi dengan menyediakan sejumlah kebutuhan seperti beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), minyak goreng, dan gula. Namun, upaya tersebut perlu didukung ketersediaan stok yang memadai serta distribusi yang lancar dari tingkat distributor hingga pasar.
Pemantauan harian oleh TPID Pekanbaru menjadi penting untuk membaca perubahan harga lebih cepat dan menentukan langkah penanganan apabila terjadi lonjakan. Bagi masyarakat, membandingkan harga di beberapa pasar juga dapat menjadi langkah sederhana untuk memperoleh harga yang lebih sesuai.
Memasuki pekan pertama September, kondisi harga pangan belum menjadi alasan untuk panik. Namun, perubahan cuaca, kelancaran distribusi, nilai tukar, dan perkembangan harga di tingkat nasional perlu terus dicermati agar stabilitas pasokan dan harga pangan di Riau tetap terjaga. []
Redaksi01
