Industri Mainan Nasional Makin Kompetitif, Ekspor Melonjak
JAKARTA – Industri mainan nasional terus didorong memperkuat pasar domestik sekaligus memperluas penetrasi global setelah nilai ekspornya mencapai 351,8 juta dolar AS pada Januari-Juni 2026, meningkat dari 297,7 juta dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai peningkatan ekspor tersebut menunjukkan daya saing industri mainan Indonesia semakin berkembang. Namun, penguatan pasar dalam negeri, peningkatan kualitas, standardisasi produk, dan perluasan akses pasar tetap diperlukan agar pertumbuhan industri dapat berkelanjutan.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita mengatakan tantangan industri saat ini tidak berhenti pada kemampuan memproduksi barang, tetapi juga memastikan produk dalam negeri terserap pasar dan mampu mengambil peluang dalam rantai pasok global.
“Tantangan utama industri nasional saat ini bukan sekadar kemampuan memproduksi, melainkan bagaimana kita memastikan produk-produk buatan dalam negeri diserap dan digunakan oleh masyarakat serta mampu mengambil peluang dalam rantai pasok global,” ujar Reni dikonfirmasi di Jakarta, Senin (05/10/2026).
Menurut Reni, industri mainan memiliki karakter sebagai sektor padat karya sekaligus mampu menghasilkan produk bernilai tambah. Kondisi tersebut menjadi alasan penguatan pasar domestik dan daya saing perlu berjalan beriringan dengan upaya memperbesar pasar ekspor.
“Kita perlu memperkuat pasar domestik melalui penerapan standar, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, serta penguatan daya saing agar produk mainan buatan Indonesia semakin diminati di pasar nasional dan mampu memperluas penetrasi di pasar internasional,” tuturnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 dan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) 2025 mencatat terdapat 256 unit usaha industri mainan dengan total 15.663 tenaga kerja. Selain itu, terdapat 10 sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM) mainan yang tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat.
Dari sisi perdagangan, industri mainan Indonesia juga mencatat surplus net ekspor dalam lima tahun terakhir. Pada 2025, nilai ekspor sektor tersebut mencapai 664,6 juta dolar AS atau meningkat 8,2 persen dibandingkan 2024.
Pasar ekspor industri mainan Indonesia saat ini mencakup Amerika Serikat, Inggris, China, Australia, dan Republik Ceko. Menurut Reni, negara-negara tersebut sekaligus menunjukkan masih terbukanya peluang bagi produk mainan Indonesia untuk memperbesar kontribusinya di pasar global.
“Pasar ekspor Indonesia saat ini antara lain Amerika Serikat, Inggris, China, Australia, dan Republik Ceko, dan capaian tersebut masih membuka ruang yang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan penetrasi dan kontribusinya di pasar global,” imbuh Reni.
Sebagaimana diberitakan Antara, Senin (05/10/2026), Kemenperin juga mendorong penggunaan produk dalam negeri melalui peningkatan kepemilikan sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Hingga 2026, sebanyak 65 pelaku industri mainan telah memiliki sertifikat tersebut.
“Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan industri mainan nasional untuk memenuhi kandungan dalam negeri telah mulai terbentuk dan perlu terus diperluas agar semakin banyak produk lokal yang dapat masuk ke pasar pengadaan pemerintah,” jelasnya.
Untuk memperkuat kemampuan industri, Kemenperin memberikan pembinaan dan fasilitasi kepada pelaku usaha, khususnya IKM. Dukungan tersebut mencakup sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI), pendampingan International Organization for Standardization (ISO) 9001:2015, penerapan Industri 4.0, hingga perluasan akses pasar.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi industri mainan nasional dari sisi kualitas dan pemenuhan standar, sekaligus membuka lebih banyak peluang bagi produk lokal untuk masuk ke pasar domestik maupun rantai pasok internasional. []
Redaksi01
