MotoGP Mandalika, ASDP Siapkan 17 Kapal Hadapi Arus Balik
LOMBOK BARAT – PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Lembar menyiapkan tiga skenario operasional untuk menghadapi potensi lonjakan arus penumpang dan kendaraan selama gelaran MotoGP. Sebanyak 17 kapal dan 291 personel disiagakan di lintasan Lembar-Padangbai, dengan kapasitas maksimal mencapai sekitar 18 perjalanan kapal dalam kondisi kepadatan ekstrem.
General Manager (GM) ASDP Cabang Lembar Anis Adinizam mengatakan skema tersebut disiapkan sebagai langkah antisipasi meski hingga H-6 pelaksanaan MotoGP belum terlihat peningkatan pergerakan penumpang maupun kendaraan yang signifikan.
“Dalam rangka MotoGP, ASDP khususnya di Pelabuhan Lembar sudah bersiap. Kami standby dengan fasilitas dermaga dan beberapa kapal untuk menyambut MotoGP,” kata Anis, Senin 5 Oktober 2026, sebagaimana diberitakan Wartabumigora, Senin (05/10/2026).
Untuk kondisi normal, ASDP mengoperasikan 13 kapal dengan 14 perjalanan. Jika terjadi peningkatan arus, kapasitas dapat dinaikkan menjadi 14 kapal dengan 16 perjalanan. Sementara dalam skenario ekstrem, seluruh 17 kapal disiapkan dengan sekitar 18 perjalanan.
“Kalau skema memang masih normal. Kami menggunakan pola yang sekarang, 13 kapal dengan 14 trip. Kalau skema agak tinggi, 14 kapal dengan 16 trip. Skema ekstremnya maksimal 17 kapal, sekitar 18 trip. Tapi itu seluruh kapal harus bergerak. Pengalamannya belum pernah dipakai melihat kecenderungan sekarang,” jelas Anis.
Kesiapan tersebut melibatkan 291 personel. Sebanyak 190 personel disiapkan di Cabang Lembar, sedangkan 101 personel ditempatkan pada lintasan Padangbai.
“Kami tetap menyediakan skema bahwa ini akan ada kenaikan. Personel yang kami persiapkan di Cabang Lembar sekitar 190 orang, kemudian di lintasan Padangbai ada 101 orang,” ujarnya.
Menurut Anis, pola arus selama gelaran MotoGP diperkirakan berbeda antara kedua pelabuhan. Pintu masuk Padangbai menjadi titik yang mendapat perhatian utama, sedangkan potensi kepadatan di Lembar diperkirakan lebih besar pada hari terakhir atau saat arus kepulangan.
Besaran lonjakan di Lembar nantinya akan sangat bergantung pada jumlah kendaraan yang terlebih dahulu masuk melalui Padangbai. Karena itu, perkembangan arus kendaraan menjadi salah satu indikator untuk menentukan penerapan skema operasional yang lebih tinggi.
Keputusan mengenai penerapan skema secara keseluruhan berada pada otoritas pelabuhan, yakni Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) serta Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD). ASDP telah berkoordinasi dengan kedua otoritas tersebut dan operator kapal yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap).
“Intinya kami menyiapkan semua fasilitas supaya skema itu bisa berjalan. Rinciannya nanti ada di otoritas pelabuhan,” tambahnya.
Selain armada dan personel, kesiapan juga dilakukan dari sisi fasilitas pendukung. ASDP berkolaborasi dengan Kesatuan Pelaksanaan Pengamanan Pelabuhan (KP3), kepolisian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) untuk mendukung pengamanan dan pelayanan di pelabuhan.
Posko bersama disiapkan di depan ruang tunggu. ASDP juga menyediakan tenda untuk mengantisipasi kondisi cuaca panas apabila terjadi antrean penumpang atau kendaraan.
“Kami juga menyiapkan beberapa tenda untuk mengantisipasi cuaca yang sangat panas. Jadi, ketika nanti terpaksa harus menunggu, tidak harus berpanasan berlebihan. Di depan dermaga, kapasitas 100 kendaraan sudah bisa kami amankan,” ujar Anis.
Meski berbagai persiapan telah dilakukan, kondisi arus hingga H-6 masih relatif normal. Belum terdapat peningkatan signifikan pada pergerakan penumpang maupun kendaraan. Aktivitas logistik sempat mengalami kenaikan, tetapi masih berkaitan dengan kebutuhan persiapan di Mandalika.
“ Sementara ini, dari kemarin sampai sekarang belum ada pergerakan sama sekali. Kalau logistik, kemarin sempat ada sedikit peningkatan, tapi itu untuk supply kebutuhan persiapan di Mandalika. Semuanya masih normal,” katanya.
ASDP tetap memperkirakan adanya kenaikan sekitar 5 persen selama periode liburan. Proyeksi tersebut mencakup sekitar 71.000 penumpang, 18.000 sepeda motor, 3.000 kendaraan kecil, serta sekitar 5.000 bus dan truk.
“Itu datang dan keluar. Total tahun 2025 terdata 93.000 total seluruh penumpang dan kendaraan. Kami prediksi untuk 2026 ada 98.000 orang dan unit, campuran,” papar Anis.
Kepadatan penyeberangan juga diperkirakan lebih banyak terjadi pada malam hari, terutama ketika kendaraan roda dua mendominasi arus bongkar.
“Malam biasanya. Kalau bongkaran banyak sepeda motor, biasanya malam, karena kendaraan lebih adem,” ujarnya.
Dari 17 kapal yang disiapkan dalam skenario maksimal, dua unit merupakan kapal milik ASDP, sedangkan 15 lainnya berasal dari operator swasta yang tergabung dalam Gapasdap. Data proyeksi arus juga akan ditempatkan di posko sebagai bagian dari langkah mitigasi dan bahan pemantauan kondisi lapangan.
“Nanti data-data lagi kami siapkan. Memang belum ada, nanti kami tempel semua data-data prediksi,” pungkas Anis. []
Redaksi01
