Industri RI Bangkit, 78,39 Persen Produk Manufaktur Terserap di Dalam Negeri
JAKARTA – Pasar domestik yang besar menjadi salah satu modal utama Indonesia dalam menopang pertumbuhan industri manufaktur. Dengan jumlah penduduk mencapai 287,2 juta jiwa dan konsumsi rumah tangga Rp12.834,8 triliun per tahun, sebanyak 78,39 persen produk manufaktur nasional terserap di pasar dalam negeri.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan besarnya pasar domestik tersebut menjadi kekuatan bagi industri nasional, terutama ketika sejumlah subsektor padat karya mulai menunjukkan pertumbuhan pada triwulan II-2026.
“Jadi ketika banyak negara sedang kehilangan industrinya, Indonesia sedang membangun kembali industrinya. Ini modal besar,” ujar Menperin dalam ANTARA Business Forum (ABF) 2026 di Jakarta, Rabu (23/09/2026), sebagaimana diberitakan Antara, Rabu, (23/09/2026).
Data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menunjukkan 14 dari 15 subsektor industri mencatat pertumbuhan positif pada triwulan II-2026. Sejumlah subsektor dengan pertumbuhan tertinggi berasal dari industri padat karya.
Furnitur tumbuh 11,8 persen, disusul industri alas kaki dan kulit sebesar 11,3 persen. Industri makanan dan minuman tumbuh 6,5 persen, sedangkan tekstil dan pakaian jadi meningkat 6,4 persen.
“Ini industri padat karya, yang sekitar dua tahun lalu banyak diberitakan sedang melakukan PHK. Hari ini berdasarkan data kami, sektor-sektor tersebut justru sedang bangkit kembali,” ujar Menperin.
Menurut Agus, pergerakan industri padat karya memiliki keterkaitan langsung dengan penyerapan tenaga kerja. Pertumbuhan sebesar satu persen pada industri padat karya dinilai dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak dibandingkan pertumbuhan dengan persentase yang sama pada industri padat modal.
“Pertumbuhan di sektor ini adalah pertumbuhan yang langsung dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya lagi.
Namun, pemulihan industri tersebut belum terjadi secara merata. Subsektor karet, barang dari karet, dan plastik masih mengalami kontraksi 7 persen. Sementara itu, industri logam dasar, kertas, serta pengolahan tembakau mencatat pertumbuhan yang relatif rendah.
Di tengah kondisi tersebut, nilai tambah manufaktur Indonesia pada 2025 mencapai 275,61 miliar dolar AS berdasarkan data Bank Dunia. Angka itu menempatkan Indonesia di posisi ke-12 dunia dan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.
Nilai tambah manufaktur Indonesia disebut sekitar dua kali lipat Thailand yang mencapai 137 miliar dolar AS serta lebih dari dua kali nilai tambah manufaktur Vietnam.
Kontribusi sektor industri terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional juga menunjukkan tren peningkatan selama empat tahun berturut-turut. Kontribusi tersebut naik dari 18,34 persen, kemudian 18,67 persen dan 18,98 persen, sebelum mencapai 19,07 persen pada 2025.
Kondisi tersebut menunjukkan industri manufaktur masih memiliki peran besar dalam perekonomian nasional, sementara kekuatan pasar dalam negeri memberikan ruang bagi produk manufaktur untuk tetap terserap ketika dinamika perdagangan global berubah. []
Redaksi01
