Iran-Oman Bahas Selat Hormuz, Harga Minyak Kembali Merosot

JAKARTA – Perkembangan pembicaraan Iran dan Oman mengenai pengaturan pelayaran di Selat Hormuz menjadi sentimen utama yang menekan harga minyak dunia. Pasar merespons prospek kelancaran arus pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia dengan melepas kontrak minyak mentah, sehingga harga West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober 2026 turun 1,69 persen menjadi US$80,97 per barel pada perdagangan Rabu, (26/08/2026).

Harga tersebut tercatat pada pukul 07.17 WIB di New York Mercantile Exchange (NYMEX), turun dari posisi perdagangan sehari sebelumnya sebesar US$82,36 per barel. Pelemahan itu sekaligus memperpanjang tren koreksi harga minyak selama tiga hari berturut-turut.

Fokus pasar kini tertuju pada upaya Iran dan Oman membangun kerangka kerja sementara untuk menjaga kelancaran pelayaran melalui Selat Hormuz. Pembahasan tersebut dinilai dapat mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dari salah satu jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi membahas inisiatif pembentukan koridor maritim bersama sementara. Pembicaraan teknis kedua negara selanjutnya diarahkan untuk menyusun kesepakatan mengenai koridor maritim permanen, tata kelola selat, pertukaran informasi, pengaturan lalu lintas kapal, serta penyediaan layanan maritim dan keamanan.

Perkembangan diplomasi tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena kelancaran aktivitas di Selat Hormuz berkaitan erat dengan distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia. Jika risiko gangguan pelayaran berkurang, tekanan terhadap pasokan global berpotensi ikut mereda.

Pergerakan harga minyak jenis Brent juga menunjukkan arah serupa. Mengutip Bloomberg, harga Brent turun menembus US$87 per barel sehingga koreksinya sepanjang pekan mencapai sekitar 8 persen, sebagaimana diberitakan Kontan, Rabu, (26/08/2026).

Meski mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir, harga minyak mentah masih mencatat kenaikan sekitar 40 persen sejak awal tahun. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran sebelumnya telah meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia.

Sentimen pasar juga menunjukkan bahwa investor belum terlalu merespons rencana Amerika Serikat untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran. Perhatian justru lebih besar tertuju pada perkembangan diplomasi dan potensi pengaruhnya terhadap keamanan jalur pelayaran serta distribusi energi.

Jika pembicaraan Iran dan Oman menghasilkan mekanisme yang lebih permanen untuk menjamin lalu lintas kapal, risiko gangguan pasokan dapat berkurang dan menjadi faktor penting bagi pergerakan harga minyak berikutnya. Sebaliknya, kegagalan mencapai kesepakatan berpotensi kembali meningkatkan premi risiko di pasar energi global. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *