Konsep Embarkasi Hotel di YIA Dinilai Efisien dan Dongkrak Ekonomi

KULON PROGO – Skema embarkasi haji berbasis hotel di Embarkasi Yogyakarta International Airport (YIA) didorong menjadi model permanen setelah dinilai mampu menekan biaya pembangunan sekaligus menggerakkan ekonomi lokal, menyusul keberangkatan kloter pertama calon jemaah haji pada Selasa (21/04/2026).

Wakil Ketua Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Singgih Januratmoko menyatakan konsep tersebut berpotensi menjadi solusi alternatif dibanding pembangunan embarkasi konvensional yang membutuhkan anggaran besar.

“Insya Allah kita dorong (permanen) begitu. Insya Allah ini sukseslah dengan dukungan Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY),” kata Singgih pada Rabu (22/04/2026).

Ia menjelaskan, model embarkasi berbasis hotel merupakan yang pertama diterapkan di Indonesia dan dinilai memberikan dampak ekonomi langsung, khususnya bagi sektor perhotelan dan usaha di sekitar bandara.

“Jadi kalau kemarin Kulon Progo, jauh dari sini, belum ada, belum bisa, okupansinya baik. Insyaallah dengan adanya ini terobosan akan meningkatkan okupansi hotel dan menggerakkan ekonomi di Kulon Progo,” kata dia.

Menurut Singgih, pendekatan ini juga menjadi langkah efisiensi karena pembangunan embarkasi baru memerlukan biaya besar, termasuk untuk operasional dan perawatan jangka panjang.

“Untuk kita membangun embarkasi itu butuh biaya yang mahal juga. Kedua, perawatannya mahal,” ujarnya.

Ia mencontohkan adanya fasilitas embarkasi di daerah lain yang tidak optimal pemanfaatannya hingga berujung terbengkalai, sehingga pendekatan berbasis hotel dinilai lebih adaptif terhadap kebutuhan saat ini.

“Misalnya kita ambil contoh di Padang. Padang itu embarkasinya jadi beton atau hutan beton, tidak terpakai. Siapa yang salah, kita tidak tahu, apa perencanaan yang salah atau pembangunan yang salah,” ucap Singgih.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pemanfaatan fasilitas yang sudah tersedia di sekitar bandara dapat menjadi strategi untuk menghindari pemborosan anggaran sekaligus mengalihkan dana pembangunan ke sektor lain seperti pendidikan.

“Kita manfaatkan yang ada di sekitar bandara sebaik-baiknya sehingga ekonominya bisa bergerak baik. Nah uang (anggaran untuk membangun embarkasi) itu kan kita jadikan sekolah, madrasah, dan lain-lain,” kata dia.

Konsep ini juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah barat DIY, khususnya di Kulon Progo, yang selama ini tengah berkembang sebagai kawasan penunjang bandara.

Keberangkatan kloter pertama dari Embarkasi YIA telah terlaksana, sementara kloter berikutnya dijadwalkan berangkat pada Kamis (23/04/2026). Gagasan menjadikan model ini permanen diharapkan dapat menjadi acuan pengembangan embarkasi di daerah lain dengan pendekatan yang lebih efisien dan berkelanjutan, sebagaimana diberitakan Metrotvnews, Rabu, (22/04/2026). []

Penulis: Ahmad Mustaqim | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *