Kredit Perbankan Nasional Tumbuh, BRI Jadi Penopang Utama

JAKARTA – Kinerja industri perbankan nasional hingga kuartal I 2026 dinilai tetap kuat di tengah tekanan ekonomi global. Pertumbuhan kredit yang terus meningkat serta stabilnya profitabilitas perbankan menjadi sinyal bahwa sektor keuangan nasional, khususnya bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), masih memiliki daya tahan tinggi menghadapi ketidakpastian ekonomi dunia.

Konsultan dan Perencana Keuangan Elvi Diana menilai ketahanan bank-bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ditopang oleh kekuatan struktur bisnis, dukungan pemerintah, serta tingginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan nasional.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan penyaluran kredit perbankan nasional hingga Maret 2026 mencapai Rp8.659,05 triliun atau tumbuh 9,49 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan Februari 2026 yang tercatat sebesar 9,37 persen yoy.

Menurut Elvi, salah satu faktor penting yang menjaga efisiensi industri perbankan ialah besarnya porsi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA). Tingginya komposisi tabungan dan giro mampu menekan biaya dana (cost of fund) sehingga margin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM) tetap stabil.

Ia menjelaskan kondisi tersebut sejalan dengan Bank Efficiency Structure Theory yang diperkenalkan Demsetz pada 1973. Teori itu menyebut lembaga keuangan dengan efisiensi operasional tinggi cenderung memiliki profitabilitas lebih konsisten dan ketahanan lebih kuat menghadapi tekanan makroekonomi.

Dalam kelompok Himbara, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI disebut menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan intermediasi perbankan nasional melalui fokus pembiayaan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Pada kuartal I 2026, BRI membukukan Pendapatan Bunga Bersih atau Net Interest Income (NII) sebesar Rp40,155 triliun atau tumbuh 11,9 persen secara tahunan. Capaian tersebut dinilai mencerminkan efektivitas strategi perseroan dalam menjaga fungsi intermediasi di tengah gejolak ekonomi global.

Elvi menyebut terdapat tiga faktor utama yang menopang performa Himbara. Pertama, diversifikasi portofolio kredit yang dinilai efektif menjaga kualitas aset dan menekan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL). Kedua, percepatan transformasi digital yang mampu memperluas inklusi keuangan sekaligus menurunkan biaya operasional bank. Ketiga, faktor kepercayaan masyarakat terhadap bank-bank pelat merah yang dinilai memperkuat stabilitas sistem keuangan nasional.

“Selama konsumsi domestik, sektor UMKM dan investasi pemerintah tetap berjalan, bank-bank BUMN seperti BRI masih berpotensi menjadi motor utama pertumbuhan intermediasi perbankan nasional,” pungkas Elvi sebagaimana dilansir Suara, Senin (18/05/2026). []

Penulis: M Nurhadi | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *