Krisis Selat Hormuz, Harga Minyak Global Nyaris Sentuh USD 100
Pump jack silhouette against a sunset sky with reflections in the water.
JAKARTA – Lonjakan harga minyak mentah dunia yang kembali mendekati level USD 100 per barel dipicu ketidakpastian jalur distribusi energi global di kawasan Timur Tengah, terutama akibat terbatasnya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz.
Kondisi tersebut terjadi pada Kamis (17/04/2026) waktu Jakarta, ketika aktivitas pelayaran di jalur vital tersebut masih rendah di tengah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Situasi ini turut mendorong kenaikan harga minyak acuan dunia secara signifikan.
Mengutip laporan yang dihimpun, harga minyak jenis Brent untuk pengiriman Juni melonjak hampir 5 persen dan ditutup di level USD 99,39 per barel. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik hampir 4 persen ke posisi USD 94,69 per barel.
Terbatasnya distribusi minyak melalui Selat Hormuz menjadi faktor utama kenaikan harga. Jalur tersebut hanya dilintasi sedikit kapal tanker setiap hari setelah Angkatan Laut AS melakukan blokade di sekitar pantai Iran. Di sisi lain, pemerintah Iran mengancam akan melakukan aksi balasan terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan Teluk Persia.
Presiden AS Donald Trump menyampaikan peluang adanya pertemuan lanjutan dengan Iran dalam waktu dekat. “AS dan Iran ‘mungkin’ akan bertemu pada akhir pekan untuk putaran negosiasi kedua,” ujarnya kepada wartawan, sebagaimana diberitakan Liputan6, Jumat, (17/04/2026). Namun, hingga kini belum ada kepastian jadwal resmi terkait perundingan tersebut.
Sebelumnya, Trump juga mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon telah menyepakati gencatan senjata selama 10 hari. Konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah menjadi salah satu faktor yang memicu kegagalan perundingan sebelumnya antara AS dan Iran yang berlangsung di Pakistan.
Sejumlah pemimpin Eropa dan negara-negara Teluk Arab memperkirakan proses negosiasi antara AS dan Iran berpotensi berlangsung panjang, bahkan bisa mencapai enam bulan. Hal ini mencerminkan kompleksitas konflik yang berdampak langsung terhadap stabilitas pasokan energi global.
Di sisi lain, kesepakatan gencatan senjata sementara antara AS dan Iran yang berlangsung selama dua minggu dijadwalkan berakhir pada Selasa, 21 April 2026. Kesepakatan tersebut sebelumnya disertai syarat pembukaan kembali jalur Selat Hormuz untuk lalu lintas energi global.
Meski demikian, Iran dilaporkan masih berupaya mempertahankan kendali atas jalur distribusi tersebut, sehingga menimbulkan ketidakpastian berkepanjangan di pasar energi internasional.
Kondisi ini berpotensi memberikan dampak lanjutan terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai negara, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap stabilitas ekonomi global jika konflik tidak segera mereda. []
Penulis: Septian Deny | Penyunting: Redaksi01
