Kurs BI Per 26 Mei 2026: Euro, Yen, hingga AUD Alami Penyesuaian
JAKARTA – Pergerakan kurs transaksi yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) pada Selasa (26/05/2026) menunjukkan tekanan nilai tukar Rupiah terhadap sejumlah mata uang utama dunia masih berlangsung, seiring sentimen pasar global yang memengaruhi aktivitas perdagangan valuta asing dan penyesuaian harga di sektor perbankan nasional.
BI menetapkan kurs jual Euro (EUR) di level Rp20.670,50 per 1 Euro, sedangkan kurs beli berada di Rp20.463,07. Tekanan serupa juga terlihat pada mata uang utama lain, termasuk Poundsterling Inggris (GBP) dengan kurs jual Rp23.907,55 dan kurs beli Rp23.664,39.
Di kawasan Asia, kurs transaksi Yen Jepang (JPY) per 100 Yen tercatat pada posisi jual Rp11.190,03 dan beli Rp11.077,30. Sementara itu, Dolar Australia (AUD) berada di level jual Rp12.704,28 dan beli Rp12.576,11, memperlihatkan pergerakan yang tetap dinamis di tengah fluktuasi pasar global.
Data transaksi BI juga mencatat mata uang lain seperti Dolar Brunei (BND), Dolar Kanada (CAD), Franc Swiss (CHF), Yuan Tiongkok lepas pantai offshore (CNH), Yuan Tiongkok (CNY), Dolar Hong Kong (HKD), hingga Dirham Uni Emirat Arab (AED) mengalami penyesuaian kurs jual dan beli. Kondisi ini menjadi indikator penting bagi pelaku ekspor-impor, perbankan, serta korporasi yang bergantung pada transaksi lintas mata uang.
Perubahan kurs tersebut dipengaruhi berbagai faktor eksternal, mulai dari kebijakan suku bunga bank sentral global, rilis data manufaktur, hingga dinamika geopolitik internasional. Fluktuasi tipis dalam nilai tukar juga berpotensi memengaruhi margin keuntungan perusahaan, khususnya sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku dan transaksi luar negeri.
Layanan penukaran valuta asing di perbankan komersial nasional umumnya mengacu pada kurs transaksi yang dirilis BI. Penyesuaian harga jual dan beli juga dilakukan lembaga keuangan sesuai kondisi likuiditas pasar, sebagaimana diberitakan Sindonews, Selasa (26/05/2026). Kondisi tersebut membuat pelaku usaha dan masyarakat perlu mencermati perkembangan kurs secara berkala untuk menentukan strategi transaksi yang lebih efisien. []
Penulis: Aditya Saputra | Penyunting: Redaksi01
