Kurs Rupiah Pagi Ini: Rp18.137 per Dolar AS
JAKARTA – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Selasa (27/10/2026) dengan pelemahan tipis ke level Rp18.137 per dolar Amerika Serikat (AS), di tengah pergerakan mata uang Asia yang menunjukkan arah beragam. Kondisi ini menempatkan rupiah di antara mata uang kawasan yang bergerak terbatas pada awal sesi perdagangan.
Berdasarkan data pasar spot, rupiah dibuka melemah 0,01 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.135 per dolar AS. Selisih pergerakan yang relatif kecil tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah pada awal perdagangan masih terbatas.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia hingga pukul 09.00 Waktu Indonesia Barat (WIB) memperlihatkan perbedaan kinerja. Yen Jepang mencatat pelemahan terdalam dengan penurunan 0,1 persen. Peso Filipina menyusul dengan koreksi 0,09 persen, sedangkan yuan China melemah 0,03 persen.
Dolar Singapura juga bergerak turun sebesar 0,008 persen. Sementara itu, dolar Hong Kong terkoreksi tipis 0,004 persen terhadap dolar AS atau greenback.
Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia berhasil menguat pada awal perdagangan. Dolar Taiwan menjadi mata uang dengan kenaikan terbesar di kawasan setelah naik 0,17 persen. Won Korea Selatan menguat 0,11 persen, disusul baht Thailand yang naik 0,08 persen dan ringgit Malaysia sebesar 0,04 persen.
Data tersebut memperlihatkan bahwa pelemahan rupiah berlangsung ketika mata uang regional tidak bergerak seragam. Sebagian mata uang mengalami tekanan terhadap dolar AS, sementara lainnya mampu mencatatkan penguatan pada waktu pengamatan yang sama.
Sebagaimana dilansir Kontan, Selasa (27/10/2026), rupiah dibuka pada level Rp18.137 per dolar AS, sedikit lebih rendah dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada dinamika pasar selama perdagangan berlangsung, sehingga arah pergerakan rupiah hingga akhir sesi belum dapat dipastikan hanya dari data pembukaan.
Pergerakan pada awal sesi ini menjadi gambaran awal kondisi pasar valuta asing di Asia. Investor tetap perlu mencermati perkembangan berikutnya sebelum menilai apakah pelemahan rupiah akan berlanjut atau berbalik arah sepanjang perdagangan. []
Redaksi01
