Lindungi Atlet, Dispora Kukar Prioritaskan Perempuan dalam Pelatihan Sport Massage
Kepala Dispora Kukar, Aji Ali Husni. Minggu (18/10/2026).
Dispora Kukar memprioritaskan perempuan dalam pelatihan pijat olahraga pada 2026 guna meningkatkan keterwakilan tenaga pendukung perempuan serta memperkuat keamanan dan kenyamanan atlet saat menjalani penanganan fisik.
ADVERTORIAL – Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memprioritaskan peserta perempuan dalam pelatihan pijat olahraga (sport massage) pada 2026. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan keterwakilan tenaga pendukung perempuan di setiap cabang olahraga sekaligus memperkuat perlindungan, keamanan, dan kenyamanan atlet saat menjalani penanganan fisik maupun pemulihan cedera.
Kepala Dinas (Kadis) Pemuda dan Olahraga Kukar, Aji Ali Husni, mengatakan peningkatan keterlibatan perempuan menjadi bagian dari upaya menciptakan keseimbangan tenaga pendukung laki-laki dan perempuan dalam pembinaan olahraga.
Menurutnya, keberadaan tenaga pendukung dari kedua kelompok tersebut diperlukan karena penanganan fisik atlet kerap melibatkan kontak langsung, terutama ketika atlet mengalami cedera atau membutuhkan pemulihan kondisi tubuh.
Ali menjelaskan, pelaksanaan pelatihan pijat olahraga pada tahun sebelumnya lebih mengutamakan peserta laki-laki. Meski demikian, perempuan tetap mendapatkan kesempatan mengikuti kegiatan dengan proporsi sekitar 10 persen dari keseluruhan peserta.
“Tahun lalu kita utamakan cowok, meskipun di tahun kemarin itu ada sekitar 10 persen yang cewek,” ucap Ali kepada Prudensi.com di Hotel Grand Fatma, Tenggarong, Minggu (18/10/2026).
Berbeda dengan tahun sebelumnya, Dispora Kukar pada 2026 memprioritaskan perempuan dari masing-masing cabang olahraga untuk mengikuti pelatihan. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas ketersediaan tenaga pendukung perempuan yang memiliki kompetensi dalam penanganan fisik atlet.
“Tapi tahun ini kita utamakan semuanya cewek masing-masing cabang olahraga, sehingga ada keseimbangan antara wakil laki-laki dan perempuan di dalam cabang olahraga itu sendiri,” katanya.
Ali menilai keseimbangan keterwakilan tenaga pendukung olahraga menjadi salah satu aspek penting dalam memberikan pelayanan yang memperhatikan kenyamanan dan kebutuhan atlet, khususnya ketika penanganan cedera memerlukan kontak fisik.
Selama ini, menurutnya, penanganan cedera ringan pada atlet perempuan terkadang masih dilakukan oleh pelatih laki-laki. Kondisi tersebut menjadi perhatian Dispora Kukar dalam mendorong peningkatan kompetensi tenaga pendukung perempuan.
“Selama ini mungkin menangani cedera ringan, itu dilakukan oleh atlet yang cedera cewek, yang ditangani oleh pelatih yang cowok,” ujarnya.
Karena itu, Ali menekankan pentingnya penerapan prosedur penanganan atlet yang tepat, termasuk memperhatikan kesesuaian tenaga pendukung berdasarkan jenis kelamin untuk memberikan rasa aman dan nyaman selama proses penanganan fisik.
“Nah, hari ini kita harus lakukan secara sesuai dengan prosedur, yang laki-laki ditangani dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan,” jelas Aji.
Selain meningkatkan keterlibatan perempuan dalam pelatihan pijat olahraga, Dispora Kukar juga berupaya memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) olahraga melalui sertifikasi dan pengembangan kompetensi pelatih.
Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan tenaga kepelatihan sekaligus memperluas kesempatan bagi laki-laki dan perempuan memperoleh sertifikasi sesuai bidang keahlian masing-masing.
“Upaya lainnya, saat ini kami berupaya melengkapi dalam rangka peningkatan SDM. Contohnya sertifikasi pelatih. Nah, pelatih ini akan kami imbangi antara laki-laki dan perempuan,” jelasnya.
Peningkatan kompetensi tenaga pendukung juga menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan olahraga yang aman. Penanganan fisik atlet perlu dilakukan berdasarkan prosedur yang sesuai, dengan tetap menghormati privasi, persetujuan, dan batasan pribadi setiap atlet.
Selain itu, pemahaman mengenai pencegahan pelecehan seksual serta ketersediaan mekanisme pelaporan yang aman diperlukan untuk mendukung perlindungan atlet dari tindakan yang tidak pantas selama menjalani pembinaan maupun pertandingan.
Melalui peningkatan kompetensi dan keterwakilan perempuan dalam tenaga pendukung olahraga, Dispora Kukar berharap pembinaan atlet tidak hanya berorientasi pada pencapaian prestasi, tetapi juga mengutamakan keselamatan, kenyamanan, dan perlindungan atlet secara berkelanjutan. []
Penulis: Jemi Irlanda Haikal | Penyunting: Aulia Setyaningrum
