Nilai Tukar Rupiah Tertahan, Konflik Global Jadi Pemicu

JAKARTA – Stabilitas nilai tukar rupiah di pasar luar negeri atau Non-Deliverable Forward (NDF) justru mencerminkan tekanan laten terhadap ekonomi nasional, di tengah ketidakpastian global dan potensi dampak terhadap sektor industri dalam negeri.

Pada perdagangan Jumat (17/04/2026), rupiah di pasar offshore tercatat stagnan di level Rp17.170 per dolar Amerika Serikat (AS), sama seperti penutupan hari sebelumnya. Pergerakan mata uang Garuda sepanjang pekan ini juga tertahan dalam kisaran sempit Rp17.129 hingga Rp17.192 per dolar AS.

Kondisi ini terjadi meski indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia melemah ke posisi 98,2, yang menunjukkan penurunan selama lima hari berturut-turut. Di sisi lain, harga minyak mentah jenis Brent turut bergerak turun ke level US$98,06 per barel, namun belum mampu memberikan dorongan signifikan bagi penguatan rupiah.

Pergerakan mata uang di kawasan Asia pun cenderung bervariasi. Won Korea Selatan menguat tipis 0,07 persen, diikuti dolar Hong Kong 0,02 persen, serta yuan offshore dan dolar Singapura masing-masing 0,01 persen. Sebaliknya, baht Thailand melemah 0,16 persen, ringgit Malaysia turun 0,1 persen, dan yen Jepang terkoreksi 0,04 persen.

Sentimen pasar regional masih dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global. Kekhawatiran meningkat seiring belum pastinya kesepakatan damai antara AS dan Iran, yang diperkirakan memerlukan waktu hingga enam bulan.

Selain itu, potensi terganggunya jalur distribusi energi di Selat Hormuz dinilai dapat memicu dampak lanjutan, termasuk risiko krisis pangan global jika kondisi tidak segera pulih.

Dari dalam negeri, tekanan eksternal mulai merembet ke sektor riil. Industri manufaktur menghadapi kenaikan harga bahan baku akibat gangguan rantai pasok global, yang berpotensi memicu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Berdasarkan laporan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), sektor padat karya seperti tekstil dan otomotif menjadi yang paling terdampak. KSPI mencatat sedikitnya 10 perusahaan berencana melakukan PHK dengan potensi jumlah terdampak mencapai 9.000 pekerja.

Di sisi lain, lembaga pemeringkat internasional turut memberikan peringatan terhadap prospek ekonomi Indonesia. Standard & Poor’s (S&P) menilai Indonesia sebagai salah satu negara di Asia Tenggara yang rentan mengalami penurunan peringkat kredit jika konflik global berkepanjangan.

Penilaian tersebut sejalan dengan langkah Moody’s Ratings dan Fitch Ratings yang telah merevisi prospek (outlook) Indonesia menjadi negatif sejak awal tahun, seiring meningkatnya ketidakpastian kebijakan ekonomi.

Pemerintah pun merespons dengan memperkuat komunikasi kepada investor global, termasuk dengan sejumlah lembaga keuangan internasional seperti BlackRock, Goldman Sachs, dan Fidelity. Selain itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga melakukan dialog dengan Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) untuk menjelaskan strategi fiskal nasional.

Meski berbagai langkah telah ditempuh, pelaku pasar cenderung masih bersikap wait and see, dengan kisaran Rp17.000 per dolar AS dipandang sebagai titik keseimbangan baru bagi rupiah dalam jangka pendek, sebagaimana dilansir Bloomberg Technoz, Jumat, (17/04/2026). []

Penulis: Salsabila Putri | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *