Panen di Sejumlah Daerah, Serapan Gabah Bulog Sumut Meningkat
MEDAN – Penyerapan gabah petani di Sumatera Utara (Sumut) mulai meningkat seiring masuknya sejumlah daerah ke periode panen padi pada Agustus 2026. Perusahaan Umum (Perum) Bulog Kantor Wilayah Sumut mencatat rata-rata penyerapan pada pekan kedua Agustus mencapai sekitar 400 ton per hari, atau naik dibandingkan 200-300 ton per hari pada pekan sebelumnya.
Peningkatan penyerapan tersebut menjadi bagian dari upaya Bulog Sumut memperkuat cadangan pangan pemerintah sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan harga beras di tengah berlangsungnya musim panen. Penyerapan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan perkembangan panen di sejumlah sentra produksi padi.
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Sumut Budi Cahyanto mengatakan peningkatan volume penyerapan terjadi karena semakin banyak wilayah yang memasuki masa panen. “Penyerapan gabah meningkat karena sejumlah daerah mulai memasuki masa panen pada Agustus ini,” ujar Budi di Medan, Selasa (18/08/2026), sebagaimana diberitakan Antara pada Selasa (18/08/2026).
Sejauh ini, Bulog Sumut melakukan penyerapan gabah antara lain di Kota Tebing Tinggi serta Kabupaten Serdang Bedagai, Simalungun, dan Asahan. Aktivitas tersebut diperkirakan terus meningkat karena beberapa wilayah lain juga mulai memasuki masa panen.
“Ke depan penyerapan terus dilakukan karena sejumlah daerah mulai memasuki masa panen, di antaranya Kabupaten Deli Serdang, Batu Bara, Langkat, dan Tapanuli Utara,” ucapnya.
Data Bulog Sumut menunjukkan total gabah yang telah diserap dari petani mencapai 39.338 ton. Jumlah tersebut merupakan bagian dari target sekitar 62.718 ton gabah kering panen (GKP) yang harus dihimpun untuk mendukung kebutuhan cadangan pangan dan menjaga keseimbangan pasokan di wilayah Sumut.
Penyerapan dilakukan Bulog sebagai bagian dari pelaksanaan tugas pemerintah di sektor pangan. Gabah yang dihimpun selanjutnya dapat digunakan untuk memenuhi sejumlah penugasan, termasuk Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), bantuan pangan, hingga kebutuhan penanganan ketika terjadi bencana.
Dalam menjalankan penyerapan, Bulog membeli gabah petani berdasarkan harga pembelian pemerintah (HPP), yakni Rp6.500 per kilogram. Kebijakan tersebut menjadi salah satu instrumen untuk menjaga agar hasil panen petani tetap memiliki kepastian pasar sekaligus mendukung ketersediaan cadangan pangan pemerintah.
Budi mengatakan perluasan penyerapan juga dibarengi dengan penguatan koordinasi bersama pelaku usaha tani dan pemerintah daerah. Bulog terus melakukan sosialisasi untuk meningkatkan kerja sama dengan gabungan kelompok tani (gapoktan), pemerintah daerah, serta berbagai pihak terkait.
Langkah tersebut dinilai penting karena keberhasilan penyerapan tidak hanya bergantung pada ketersediaan gabah saat panen, tetapi juga pada kelancaran koordinasi antara petani, kelompok tani, pemerintah daerah, dan Bulog. Dengan demikian, hasil panen dapat terserap secara optimal dan tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap harga di tingkat petani.
Kenaikan penyerapan pada pekan kedua Agustus juga menunjukkan adanya peningkatan aktivitas dibandingkan pekan pertama. Jika sebelumnya rata-rata gabah yang terserap berkisar 200-300 ton per hari, angka tersebut meningkat menjadi sekitar 400 ton per hari pada pekan berikutnya.
Bulog Sumut masih akan memantau perkembangan panen di berbagai daerah untuk menyesuaikan strategi penyerapan. Sejumlah wilayah yang segera memasuki masa panen diharapkan dapat menambah volume gabah yang masuk ke dalam cadangan pangan pemerintah.
Dengan capaian 39.338 ton dari target 62.718 ton GKP, Bulog Sumut masih memiliki ruang untuk meningkatkan penyerapan hingga mencapai sasaran. Optimalisasi penyerapan diharapkan tidak hanya memperkuat stok pangan, tetapi juga membantu menjaga kestabilan harga serta memberikan kepastian pasar bagi petani saat produksi padi meningkat. []
Redaksi01
