Pasar Malam Sekaten Solo Dibuka, UMKM dan Wisata Budaya Bergeliat

SOLO – Rangkaian perayaan Grebeg Maulud 2026 di Kota Solo resmi dimulai dengan dibukanya pasar malam Sekaten di Alun-alun Utara Keraton Solo. Kegiatan yang berlangsung selama 1–30 Agustus 2026 itu tidak hanya menghadirkan hiburan rakyat, tetapi juga menjadi ruang pelestarian budaya, penguatan ekonomi masyarakat melalui pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta bagian dari tradisi syiar Islam yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Pembukaan pasar malam Sekaten digelar pada Minggu (02/08/2026) melalui prosesi wilujengan atau selamatan yang ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Paku Buwono XIV Hangabehi. Tumpeng tersebut kemudian diserahkan kepada salah seorang pedagang sebagai simbol harapan keberkahan bagi masyarakat dan pelaku usaha yang mengikuti kegiatan tersebut.

Prosesi pembukaan turut dihadiri Pangageng Sasana Wilapa Keraton Solo sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng bersama para abdi dalem. Setelah prosesi selesai, rombongan meninjau sejumlah stan pasar malam yang berisi wahana permainan, kuliner, perdagangan tradisional, hingga produk-produk UMKM.

Paku Buwono XIV Hangabehi menegaskan bahwa pasar malam menjadi bagian penting dalam memeriahkan Grebeg Maulud yang diperingati setiap tahun sebagai perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

“Pasar rakyat ini bermanfaat untuk rakyat sesuai grebeg Maulud. Ikut menyemarakkan Sekaten selama satu bulan penuh.”

Selain menjadi ajang hiburan, penyelenggaraan pasar malam di Alun-alun Utara diharapkan mampu menghidupkan kembali aktivitas ekonomi dan keramaian kawasan Keraton Solo setelah proses revitalisasi beberapa tahun lalu.

Ketua LDA Keraton Solo, Gusti Moeng, berharap pelaksanaan Sekaten tahun ini mampu mengembalikan suasana yang pernah menjadi ciri khas kawasan Alun-alun Utara sebelum dilakukan revitalisasi oleh Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU).

“Harapannya bisa kembali seperti yang lalu sebelum direvitalisasi. Sekaten itu mesti pakai keramaian.”

Ia menambahkan, secara filosofis pusat keramaian Sekaten memang berada di Alun-alun Utara, sedangkan Alun-alun Selatan memiliki makna ruang yang lebih terbuka dan tenang.

“Sejak Keraton Solo ini berdiri pasti keramaiannya di Alun-alun Karaton Solo karena secara filosofi Alun-alun Kidul awang uwung atau kosong.”

Sementara itu, Ketua Harian LDA Keraton Solo, KPH Eddy Wirabhumi, mengingatkan masyarakat agar tidak memandang Sekaten hanya sebagai pasar malam. Menurutnya, inti perayaan tetap berada pada rangkaian prosesi adat yang telah berlangsung selama ratusan tahun.

“Sekaten itu tidak hanya perayaan Sekaten, tetapi juga ada acara inti berupa Miyos Gangsa Sekaten, termasuk rangkaian Gunungan Sekaten.”

Sebagaimana diberitakan Kompas, Senin (03/08/2026), rangkaian Sekaten 2026 meliputi Jamasan Kiai Guntursari dan Kiai Gunturmadu pada 12 Agustus, prosesi Miyosaken Gangsa Sekaten pada 19 Agustus, pembunyian gamelan pusaka hingga 25 Agustus, Ngonduraken Gangsa Sekaten pada 26 Agustus, serta ditutup dengan Hajad Dalem Grebeg Maulud atau gunungan Sekaten sebagai puncak perayaan pada hari yang sama.

Melalui rangkaian tersebut, Keraton Solo berupaya mempertahankan nilai sejarah, budaya, dan religi yang melekat dalam tradisi Sekaten sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui aktivitas perdagangan, pariwisata, dan industri kreatif selama perayaan berlangsung. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *