Pemkab Kukar Dorong Talenta Muda Tenggarong Lewat Stand Up Comedy

0
IMG-20261008-WA0043

Stand Up Comedy Tenggarong.

Dispar Kukar menyiapkan program Ekraf ke sekolah pada 2027 untuk menjaring talenta muda sekaligus membuka peluang pendampingan bagi komunitas Stand Up Comedy Tenggarong agar semakin berkembang.

ADVERTORIAL – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) melalui Dinas Pariwisata (Dispar) menyiapkan program Ekonomi Kreatif Goes to School untuk menjaring talenta muda, termasuk calon komika atau pelaku seni komedi tunggal (stand-up comedy), pada 2027. Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah memperkuat regenerasi pelaku ekonomi kreatif di Tenggarong dan sekitarnya.

Kepala Bidang (Kabid) Ekonomi Kreatif (Ekraf) Dispar Kukar, Zikri Umulda, mengatakan pengembangan talenta baru akan melibatkan komunitas kreatif yang telah berkembang secara mandiri, termasuk komunitas Stand Up Comedy Tenggarong.

“Kami mencoba membuat skema Ekraf Goes to School untuk mencari bibit-bibit di sekolah. Mungkin ada juga pendampingan dari komunitas di sini. Tahun 2027 akan kami mulai,” jelas Zikri kepada Prudensi.com di Tenggarong, Kamis (08/10/2026).

Menurut Zikri, program tersebut tidak hanya menyasar calon komika, tetapi juga melibatkan sejumlah subsektor ekonomi kreatif lainnya, seperti film, fotografi, tari, dan musik.

Melalui program tersebut, para pelaku ekonomi kreatif direncanakan mendatangi sekolah untuk memperkenalkan bidang kreativitas sekaligus mengidentifikasi pelajar yang memiliki potensi untuk dikembangkan.

“Jadi kombinasinya memang dari sektor film, fotografi, tari, musik, nanti akan turun bersama-sama ke sekolah untuk mencari bibit-bibit,” ujarnya.

Selain menyiapkan program pengembangan talenta di lingkungan sekolah, Dispar Kukar memberikan perhatian terhadap keberadaan komunitas Stand Up Comedy Tenggarong yang mulai kembali aktif berkarya.

Zikri mengungkapkan pihaknya telah cukup lama mengamati perkembangan komunitas tersebut, termasuk aktivitas para anggotanya dalam mengembangkan kemampuan melalui berbagai penampilan.

“Memang kami sudah lama memperhatikan komunitas di sini. Mereka sudah lama tampil di panggung, kemudian mulai kembali berkarya dan mendapat atensi dari kami,” ucap Zikri.

Ia menjelaskan komunitas Stand Up Comedy Tenggarong selama ini tumbuh secara mandiri tanpa dukungan pembiayaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Kemandirian tersebut menjadi salah satu alasan Dispar Kukar memberikan perhatian terhadap keberlanjutan komunitas.

“Komunitas ini memang non-APBD, tidak ada pembiayaan. Mereka mau tumbuh dan berkembang secara mandiri, dan itu memang mendapat atensi kami,” katanya.

Sebagai bentuk perhatian pemerintah daerah, Dispar Kukar membuka peluang dukungan melalui sejumlah skema pengembangan komunitas. Namun, bentuk dukungan tersebut masih memerlukan pembahasan lebih lanjut.

“Ada beberapa skema yang akan kami sampaikan nanti. Kami membawa mereka dulu untuk rapat,” ungkapnya.

Zikri menilai stand-up comedy memiliki karakter tersendiri dibandingkan bidang seni pertunjukan lainnya. Seorang komika tidak hanya dituntut memiliki keberanian tampil, tetapi juga harus mampu menyusun materi yang kuat, melakukan riset, dan memahami karakter penonton.

Menurutnya, kualitas materi menjadi faktor penting dalam membangun penampilan komedi yang menarik, relevan, dan mampu diterima berbagai kelompok masyarakat.

Meski demikian, ia menilai kemampuan eksplorasi dan penyusunan materi masih menjadi tantangan yang perlu diperhatikan komunitas Stand Up Comedy Tenggarong.

“Mereka belum berani banyak bereksplorasi dan belum berani membuat materi yang solid. Materi Stand Up Comedy kan intinya ada di materi,” katanya.

Untuk membantu meningkatkan kemampuan anggota komunitas, Dispar Kukar juga berencana melibatkan komunitas Stand Up Comedy Samarinda dalam kegiatan pendampingan dan pengembangan kapasitas.

Zikri menyebut lebih dari delapan orang dari komunitas Samarinda telah hadir untuk memberikan dukungan kepada komunitas Stand Up Comedy Tenggarong.

Sementara itu, jumlah anggota aktif komunitas Stand Up Comedy Tenggarong saat ini diperkirakan sekitar empat orang. Jumlah tersebut menurun dibandingkan sebelumnya yang mencapai sekitar delapan anggota akibat kesibukan masing-masing.

Upaya menjaring anggota baru sebelumnya juga dilakukan melalui kegiatan open mic atau panggung terbuka. Melalui kegiatan tersebut, sejumlah penonton dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi komika.

Selain penguatan materi dan regenerasi anggota, Zikri menekankan pentingnya kemampuan komika memahami karakter penonton. Hal tersebut diperlukan agar materi komedi dapat disampaikan secara tepat kepada kelompok usia dan latar belakang yang berbeda.

“Di sana penontonnya berbeda-beda. Ada anak-anak, ada orang tua, jadi sense of humor-nya berbeda-beda. Mereka juga pasti melihat audiens,” tuturnya.

Melalui pengembangan komunitas secara berkelanjutan dan rencana pelaksanaan program Ekraf ke sekolah pada 2027, Dispar Kukar berharap semakin banyak generasi muda yang memperoleh ruang untuk mengasah kreativitas, mengembangkan bakat, dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekosistem ekonomi kreatif daerah. []

Penulis: Jemi Irlanda Haikal | Penyunting: Aulia Setyaningrum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *