RI Bangun Industri Plasma Nasional, Takeda Investasi Rp539 Miliar

JAKARTA – Pemerintah mulai memperkuat kemandirian sektor kesehatan melalui pembangunan industri plasma nasional dengan menggandeng perusahaan biofarmasi global Takeda. Kemitraan tersebut ditandai dengan rencana investasi awal hingga 30 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp539 miliar untuk membangun ekosistem pengumpulan plasma sebagai langkah mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor produk obat derivat plasma.

Program itu menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam meningkatkan ketahanan kesehatan nasional sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap terapi berbasis plasma. Selain membangun sistem pasokan dalam negeri, inisiatif tersebut juga diharapkan menjadi fondasi pengembangan industri biofarmasi nasional yang berdaya saing.

Melalui kerja sama tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menetapkan Takeda sebagai industri farmasi yang dapat menyelenggarakan fraksionasi plasma. Penetapan tersebut memungkinkan perusahaan melaksanakan pengumpulan plasma dan pengembangan fraksionasi secara bertahap sebagai bagian dari pembangunan industri plasma nasional.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan kemitraan tersebut merupakan langkah strategis dalam memperkuat sistem kesehatan Indonesia di masa mendatang.

“Melalui kemitraan dengan Takeda, kami berharap dapat memperkuat sistem kesehatan nasional sekaligus mempersiapkan Indonesia menghadapi tantangan kesehatan di masa depan.” Pernyataan tersebut disampaikan sebagaimana dilansir Bisnis, Senin (13/07/2026).

Pada tahap awal, Takeda akan menggelontorkan investasi hingga 30 juta dolar Amerika Serikat dalam kurun dua tahun. Dana tersebut difokuskan untuk membangun sejumlah bank plasma di Indonesia yang akan menjadi dasar evaluasi sebelum dikembangkan menjadi jaringan bank plasma nasional.

Seluruh fasilitas dirancang mengadopsi standar mutu internasional dengan memanfaatkan pengalaman global Takeda dalam pengelolaan donor plasma. Program ini juga diproyeksikan membuka peluang kerja baru bagi tenaga kesehatan dan teknisi laboratorium, sekaligus mendorong alih pengetahuan serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia di bidang biofarmasi.

Presiden Plasma-Derived Therapies Takeda, Ramy Riad, menyatakan investasi tersebut merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam memperluas akses masyarakat terhadap produk obat derivat plasma (PODP) sekaligus mendukung pembangunan ekosistem plasma nasional.

Selain membangun jaringan bank plasma, perusahaan juga akan mengkaji kelayakan pembangunan fasilitas manufaktur PODP berteknologi tinggi di Indonesia. Apabila proyek tersebut terealisasi, fasilitas itu diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus berpotensi memasok pasar internasional sehingga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok biofarmasi global.

Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, menilai investasi tersebut sejalan dengan agenda hilirisasi industri kesehatan nasional. Menurutnya, investasi itu tidak hanya menghadirkan modal baru, tetapi juga membuka peluang transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, dan penciptaan lapangan kerja.

Pemerintah mencatat permintaan global terhadap PODP terus meningkat, sedangkan sejumlah negara di Asia Tenggara masih menghadapi keterbatasan pasokan dan rendahnya tingkat diagnosis penyakit yang membutuhkan terapi berbasis plasma. Karena itu, pembangunan industri plasma nasional diharapkan mampu memperkuat ketersediaan pasokan dalam negeri sekaligus meningkatkan ketahanan sistem kesehatan nasional.

Takeda menargetkan bank plasma pertama mulai beroperasi pada 2027 sebagai bagian dari jaringan BioLife. Selama fasilitas fraksionasi di Indonesia masih dalam tahap pengkajian, plasma yang dikumpulkan akan diproses melalui jaringan manufaktur global perusahaan dengan tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pasien di Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *