Rupiah Diprediksi Bergerak Fluktuatif, Konflik AS-Iran Jadi Perhatian

0
Rupiah Diprediksi Bergerak Fluktuatif, Konflik AS-Iran Jadi Perhatian

JAKARTA – Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif pada awal pekan, meskipun secara mingguan masih mencatatkan penguatan 0,32 persen. Tekanan dari ketidakpastian global, konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta risiko fiskal dalam negeri menjadi sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi pergerakan mata uang Indonesia pada perdagangan Senin (09/11/2026).

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai pelemahan rupiah pada penutupan perdagangan Jumat (06/11/2026) belum menunjukkan tekanan baru yang signifikan. Pergerakan tersebut lebih mencerminkan konsolidasi setelah rupiah menguat selama sepekan.

“Pelemahan rupiah hari ini sangat tipis dan lebih tepat dibaca sebagai konsolidasi. Rupiah spot ditutup di Rp 18.089 per dolar AS, hanya melemah 0,04% dari posisi sehari sebelumnya di Rp 18.082. Secara mingguan, rupiah justru masih menguat 0,32% dari Rp 18.147,” ujar Yusuf, sebagaimana diberitakan Kontan, Minggu (08/11/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp18.089 per dolar AS, melemah 0,04 persen dibandingkan penutupan sehari sebelumnya sebesar Rp18.082 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) berada di level Rp18.130 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 0,20 persen dibandingkan kurs Kamis (05/11/2026) yang tercatat Rp18.094 per dolar AS.

Meski pelemahan harian relatif terbatas, Yusuf mengingatkan bahwa risiko eksternal dan domestik masih dapat membebani stabilitas rupiah. Meningkatnya kecenderungan investor mengalihkan dana ke aset aman (safe haven) serta potensi kenaikan harga energi menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

Indonesia juga masih bergantung pada impor minyak. Karena itu, kenaikan harga minyak dunia berpotensi menambah tekanan terhadap nilai tukar sekaligus meningkatkan beban fiskal melalui subsidi dan kompensasi energi.

“Tekanan terutama berasal dari meningkatnya penghindaran risiko di pasar global. Pada saat yang sama, serangan terhadap kapal tanker di Timur Tengah kembali meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak. Dari dalam negeri, pasar masih mencermati risiko fiskal, terutama dampak harga minyak dan pelemahan kurs terhadap subsidi serta kompensasi energi. Namun, tekanan tersebut diimbangi oleh pertumbuhan ekonomi kuartal III sebesar 5,47% yang melampaui perkiraan,” jelas Yusuf.

Memasuki pekan depan, pelaku pasar akan mencermati sejumlah indikator yang dapat memengaruhi arah rupiah. Salah satunya adalah data ketenagakerjaan AS yang berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter negara tersebut.

Perkembangan konflik AS dan Iran juga menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah dan pasokan minyak global. Selain itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada Oktober 2026 akan menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor dalam menilai ketahanan eksternal perekonomian nasional.

Pergerakan aliran modal asing, baik dana masuk (capital inflow) maupun dana keluar (capital outflow), di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham juga perlu dicermati. Perubahan arus dana tersebut dapat mencerminkan tingkat kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Yusuf memperkirakan rupiah pada perdagangan Senin (09/11/2026) bergerak di kisaran Rp18.030 hingga Rp18.150 per dolar AS. Untuk perdagangan sepanjang pekan, mata uang Garuda diproyeksikan berada dalam rentang Rp18.000 hingga Rp18.250 per dolar AS.

Pergerakan rupiah pada pekan mendatang dengan demikian tidak hanya bergantung pada perkembangan pasar global, tetapi juga kemampuan Indonesia menjaga stabilitas fiskal dan kepercayaan investor. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *