Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.744 per Dolar AS

JAKARTA – Pergerakan mayoritas mata uang Asia yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) turut menyeret nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Selasa (01/09/2026). Mata uang Garuda berakhir di level Rp17.744 per dolar AS atau melemah 0,12 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS secara global. Indeks dolar, yang mengukur kekuatan mata uang AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia, naik menjadi 99,59 dari posisi sebelumnya 99,42. Kondisi tersebut memberi tekanan terhadap sejumlah mata uang di kawasan Asia.

Sebagaimana dilansir Kontan, Selasa (01/09/2026), rupiah bukan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan. Won Korea mencatat penurunan paling besar dengan melemah 0,44 persen terhadap dolar AS.

Setelah won Korea, ringgit Malaysia melemah 0,25 persen, disusul baht Thailand yang turun 0,18 persen. Yen Jepang juga terkoreksi 0,17 persen, sementara dolar Singapura melemah 0,15 persen terhadap mata uang AS.

Rupiah berada di antara kelompok mata uang Asia yang bergerak di zona negatif. Selain itu, yuan China tercatat melemah 0,05 persen, dolar Hong Kong turun 0,02 persen, dan peso Filipina terkoreksi tipis sebesar 0,003 persen terhadap dolar AS.

Di sisi lain, tidak seluruh mata uang Asia bergerak melemah. Rupee India justru menguat 0,27 persen terhadap dolar AS, sedangkan dolar Taiwan naik 0,08 persen.

Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang kawasan terjadi dengan tingkat yang berbeda-beda. Pergerakan rupiah yang turun 0,12 persen masih lebih rendah dibandingkan pelemahan won Korea, ringgit Malaysia, baht Thailand, yen Jepang, dan dolar Singapura.

Kenaikan indeks dolar turut menjadi salah satu faktor yang mencerminkan menguatnya posisi mata uang AS di pasar global. Dalam kondisi dolar yang menguat, mata uang negara-negara lain cenderung menghadapi tekanan karena pelaku pasar melakukan penyesuaian terhadap perubahan nilai mata uang acuan tersebut.

Penutupan rupiah di Rp17.744 per dolar AS menjadi perhatian pasar setelah pada perdagangan sebelumnya mata uang domestik berada di posisi Rp17.722 per dolar AS. Selisih pergerakan tersebut menandai pelemahan rupiah dalam satu hari perdagangan.

Ke depan, arah pergerakan rupiah akan tetap dipengaruhi perkembangan dolar AS dan dinamika mata uang global. Kondisi pasar Asia juga menjadi salah satu indikator yang diperhatikan karena pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa berlangsung bersamaan dengan pelemahan mayoritas mata uang di kawasan. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *