Rupiah Tertekan Lagi, Dolar AS Kian Dominan di Pasar Asia

JAKARTA – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berlanjut pada pembukaan perdagangan Jumat (22/05/2026), seiring menguatnya dolar Amerika Serikat (AS), meningkatnya kehati-hatian investor global, serta kekhawatiran pasar terhadap sentimen domestik yang dinilai membebani stabilitas mata uang nasional.

Rupiah dibuka melemah 0,18 persen ke level Rp17.698 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya ditutup turun 0,40 persen di posisi Rp17.670. Sepanjang perdagangan, mata uang domestik diperkirakan bergerak fluktuatif pada kisaran Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS.

Pelemahan ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Mayoritas mata uang Asia turut mengalami tekanan terhadap dolar AS. Yen Jepang turun 0,11 persen, yuan China melemah 0,01 persen, dolar Singapura terkoreksi 0,20 persen, won Korea Selatan turun 0,51 persen, dolar Hong Kong melemah 0,01 persen, peso Filipina terdepresiasi 0,11 persen, baht Thailand turun 0,34 persen, rupee India melemah 0,13 persen, dan ringgit Malaysia terkoreksi 0,03 persen. Sementara itu, hanya dolar Taiwan yang mencatat penguatan 0,18 persen.

Kondisi tersebut mencerminkan kuatnya posisi dolar AS di pasar regional, terutama saat investor cenderung mengalihkan dana ke aset aman di tengah ketidakpastian global.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah dipicu sentimen risk off, yaitu kondisi ketika pelaku pasar menghindari aset berisiko dan memilih instrumen yang dinilai lebih aman.

Di pasar spot, rupiah sebelumnya juga tercatat turun 13,5 poin ke posisi Rp17.667 per dolar AS. Tekanan dari pasar ekuitas domestik dalam beberapa hari terakhir turut memperbesar tekanan jual terhadap mata uang nasional.

Selain faktor eksternal, pasar juga menyoroti isu domestik, termasuk kekhawatiran terhadap arah kebijakan ekonomi dan potensi ketidakpastian regulasi pada sektor strategis nasional. Situasi tersebut dinilai memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas pasar Indonesia.

Penguatan indeks dolar AS dan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS juga menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang (emerging markets), termasuk rupiah.

Pasar selanjutnya menanti rilis data neraca transaksi berjalan kuartal I/2026 yang dinilai penting untuk membaca arah rupiah dalam jangka pendek. Meski masih diproyeksikan defisit, angkanya diperkirakan membaik ke kisaran 0,8 miliar dolar AS.

Bank Indonesia (BI) turut menjadi perhatian pelaku pasar dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan moneter dan komunikasi pasar. Langkah lanjutan BI dinilai penting untuk meredam gejolak kurs di tengah tekanan global dan domestik yang masih tinggi, sebagaimana dilansir Tradingview, Jumat (22/05/2026). []

Penulis: Arief Nugroho Santoso | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *