Sejarah Baru, RSUD Soedarso Pontianak Kini Bisa Tangani Jantung Bawaan

Direktur RSUD dr. Soedarso, Hary Agung Tjahyadi bersama Tim dokter Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soedarso menjelaskan penanganan tindakan intervensi penyakit jantung bawaan tanpa operasi terbuka melalui metode PDA Device Closure dan ASD Device Closure. (Foto : Istimewa)

RSUD dr. Soedarso Pontianak untuk pertama kalinya melakukan tindakan intervensi penyakit jantung bawaan tanpa operasi terbuka, sehingga pasien Kalbar tidak selalu harus dirujuk ke luar daerah.

PONTIANAK – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Soedarso Pontianak mencatat sejarah baru dalam pelayanan kesehatan di Kalimantan Barat (Kalbar) setelah untuk pertama kalinya berhasil melakukan tindakan intervensi penyakit jantung bawaan tanpa operasi terbuka melalui metode Patent Ductus Arteriosus Device Closure (PDA Device Closure) dan Atrial Septal Defect Device Closure (ASD Device Closure).

Tindakan medis tersebut dilakukan melalui kegiatan proctorship bersama tim dokter dari Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita. Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan layanan jantung di daerah, sekaligus upaya mendekatkan akses pengobatan bagi pasien jantung bawaan di Kalbar.

Direktur RSUD dr. Soedarso, Hary Agung Tjahyadi, mengatakan keberhasilan itu menjadi tonggak penting dalam pengembangan layanan kesehatan jantung di Kalbar.

“Kegiatan ini merupakan tindakan pertama yang dilakukan di RSUD dr. Soedarso dan juga pertama di Kalimantan Barat. Ini bagian dari percepatan program layanan prioritas nasional terkait layanan jantung,” ujarnya.

Selama ini, pasien penyakit jantung bawaan di Kalbar harus dirujuk ke rumah sakit luar daerah untuk mendapatkan penanganan lanjutan. Dengan adanya layanan tersebut, tindakan intervensi jantung bawaan kini dapat dilakukan langsung di Pontianak.

“Dengan adanya tindakan ini, masyarakat tidak perlu lagi selalu dirujuk keluar daerah. Ini menjadi awal bagi RSUD dr. Soedarso untuk melakukan berbagai tindakan terkait penyakit jantung bawaan secara mandiri,” katanya.

Hary menjelaskan, jumlah kasus jantung bawaan di Kalbar tergolong cukup tinggi. Berdasarkan data rumah sakit, sejak Agustus 2025 hingga Mei 2026, kunjungan pasien jantung bawaan ke poliklinik mencapai sekitar 800 kasus.

“Rata-rata setiap minggu ada tujuh pasien yang harus dirujuk keluar daerah. Ini menunjukkan kasus jantung bawaan di Kalbar cukup banyak,” jelasnya.

Ia berharap layanan baru tersebut dapat mempermudah masyarakat memperoleh pengobatan, terutama pasien yang selama ini terkendala biaya dan jarak untuk berobat ke luar Kalbar. Selain itu, tindakan tersebut ditanggung Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

“Sekarang masyarakat lebih mudah mendapatkan layanan. Tindakan ini juga ditanggung BPJS, sehingga sangat membantu pasien,” tambahnya.

Dokter spesialis jantung dari RSJPD Harapan Kita, Radityo Prakoso, mengatakan perkembangan teknologi membuat penanganan penyakit jantung bawaan semakin modern dibandingkan metode konvensional.

“Dulu penanganannya melalui operasi terbuka. Tapi sejak tahun 2000 mulai dilakukan tanpa operasi melalui cathlab menggunakan sinar X,” ujarnya.

Radityo menyebut Indonesia juga mulai mengembangkan metode yang lebih canggih sejak 2018, yakni penutupan sekat jantung tanpa radiasi.

“Indonesia menjadi pelopor di Asia Tenggara untuk tindakan penutupan defek tanpa radiasi. Sampai hari ini kami sudah melakukan sekitar 1.000 prosedur,” ungkapnya.

Menurut Radityo, kesiapan RSUD dr. Soedarso sudah sangat baik, baik dari sisi peralatan maupun sumber daya manusia (SDM).

“Hardware dan software sudah tersedia. Kami juga melihat tim di RSUD dr. Soedarso sudah mampu mengerjakan tindakan ini secara mandiri,” katanya.

Sementara itu, dokter spesialis jantung RSUD dr. Soedarso, Anindia Wardani, menjelaskan tindakan tersebut dilakukan untuk menutup kelainan sekat jantung yang berlubang, baik pada bayi maupun pasien dewasa.

“Kalau dulu pasien harus menjalani operasi besar, sekarang cukup menggunakan metode minimal invasif melalui pembuluh darah di paha,” jelasnya.

Menurut Anindia, prosedur tersebut lebih aman dan memiliki masa pemulihan yang jauh lebih cepat dibandingkan operasi terbuka.

“Tindakan hanya sekitar satu sampai dua jam dengan bius total. Pasien masuk hari ini, besok tindakan, lalu bisa pulang. Dari enam pasien yang kami tangani, hasil evaluasi semuanya baik,” ujarnya.

Ke depan, RSUD dr. Soedarso berkomitmen terus mengembangkan layanan intervensi jantung modern agar masyarakat Kalbar dapat memperoleh layanan kesehatan berkualitas tanpa harus berobat ke luar daerah. []

Penulis: Rachmat Effendi | Penyunting: Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *