Sentimen Global Menguat, Bursa Asia Dibuka Positif usai Data Manufaktur AS
JAKARTA – Sentimen positif dari pasar keuangan global kembali menguat pada awal perdagangan Selasa (04/08/2026) setelah data manufaktur Amerika Serikat (AS) mendorong optimisme investor terhadap prospek ekonomi. Kondisi tersebut tercermin pada penguatan mayoritas bursa saham Asia, sementara pelaku pasar tetap mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral AS dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Mengutip pergerakan pasar global, indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,1 persen. Penguatan terutama ditopang lonjakan saham Korea Selatan yang sempat menguat hingga 2,1 persen, sedangkan indeks Nikkei 225 Jepang justru terkoreksi 0,3 persen. Kontrak berjangka (futures) Standard & Poor’s (S&P) 500 E-mini juga bergerak naik tipis 0,1 persen, sebagaimana diberitakan Kontan, Selasa (04/08/2026).
Optimisme investor dipicu data aktivitas manufaktur AS pada Juli yang mencapai level tertinggi dalam lebih dari empat tahun. Perkembangan tersebut turut mengantarkan indeks Dow Jones Industrial Average ditutup di rekor tertinggi.
Kepala Riset (Head of Research) Pepperstone Group Chris Weston menilai kondisi pasar mulai menunjukkan perbaikan.
“Pasar aset berisiko jelas telah berbalik arah. Jika sentimen positif dari bursa Eropa dan AS berlanjut, pembeli kemungkinan akan kembali aktif sejak awal sesi dan menopang aset-aset berisiko di kawasan Asia,” ujarnya.
Di pasar energi, harga minyak dunia mulai bergerak stabil setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam tiga pekan. Minyak mentah Brent naik 0,6 persen menjadi US$84,29 per barel. Pergerakan tersebut terjadi di tengah belum adanya perkembangan signifikan terkait ketegangan antara AS dan Iran.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan penundaan serangan baru terhadap Iran sebagai bentuk itikad baik untuk membuka peluang perundingan damai. Namun, pemerintah Iran membantah adanya proses negosiasi dengan Washington.
Pada perdagangan valuta asing, dolar AS menguat 0,3 persen terhadap yen Jepang menjadi 157,625 yen per dolar. Sementara itu, US Dollar Index (DXY), yang mengukur pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, bertahan di kisaran 99,99 atau mendekati level terendah dalam dua bulan terakhir.
Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun juga naik tipis sebesar 0,2 basis poin menjadi 4,684 persen. Pelaku pasar masih menilai peluang kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) pada pertemuan September tetap terbuka.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, kontrak berjangka Fed Funds menunjukkan probabilitas sekitar 65 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan yang berakhir 16 September. Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams menyatakan inflasi diperkirakan terus melandai secara bertahap, tetapi The Fed tetap siap menaikkan suku bunga apabila laju inflasi tidak bergerak sesuai target.
Di pasar aset digital, Bitcoin turun 0,5 persen ke level US$63.446,35, sedangkan Ether melemah 0,5 persen menjadi US$1.857,44. Pergerakan tersebut menunjukkan investor masih berhati-hati dalam merespons kombinasi sentimen ekonomi global, kebijakan moneter, dan dinamika geopolitik internasional. []
Redaksi01
