Situasi Keamanan Memanas, Iran Tutup Lalu Buka Wilayah Udara
TEHERAN — Keputusan Iran menutup sementara wilayah udaranya mencerminkan meningkatnya kewaspadaan otoritas setempat di tengah dinamika politik dan keamanan yang kian kompleks, baik di tingkat domestik maupun regional. Meski hanya berlangsung sekitar lima jam, kebijakan tersebut berdampak luas terhadap lalu lintas penerbangan internasional dan memicu respons dari sejumlah negara serta maskapai asing.
Penutupan wilayah udara Iran diumumkan pada Kamis (15/01/2026) dan berlaku bagi seluruh penerbangan, baik yang masuk maupun keluar wilayah negara tersebut. Satu-satunya pengecualian diberikan kepada penerbangan sipil internasional yang telah memperoleh izin resmi dari otoritas terkait. Selama kebijakan ini berlangsung, seluruh aktivitas lalu lintas udara lainnya ditangguhkan.
Langkah tersebut, sebagaimana dilaporkan Anadolu Agency, diberlakukan seiring memburuknya situasi keamanan. Iran saat ini menghadapi gelombang protes anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir, di saat bersamaan dengan meningkatnya sorotan dan tekanan internasional terhadap Teheran. Kondisi ini menimbulkan spekulasi luas mengenai kemungkinan eskalasi konflik, khususnya dengan Amerika Serikat.
Situasi semakin sensitif karena Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut tengah mempertimbangkan respons Washington terhadap perkembangan di Iran. Ketidakpastian arah kebijakan AS ini memperkuat kekhawatiran akan potensi tindakan militer, yang berdampak langsung pada sektor penerbangan dan keamanan regional.
Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh pernyataan seorang pejabat Amerika Serikat yang mengungkapkan bahwa Washington telah menarik sebagian personel militernya dari pangkalan-pangkalan di Timur Tengah. Penarikan ini dilakukan setelah seorang pejabat senior Iran menyampaikan peringatan kepada negara-negara tetangga bahwa pangkalan militer AS dapat menjadi sasaran jika Iran diserang.
Di tingkat internasional, sejumlah negara langsung mengambil langkah antisipatif. Jerman, misalnya, mengeluarkan arahan baru yang meminta maskapai nasionalnya untuk tidak melintasi wilayah udara Iran. Amerika Serikat juga memberlakukan larangan bagi seluruh penerbangan komersial AS untuk melewati wilayah udara negara tersebut, mempertegas absennya hubungan penerbangan langsung antara kedua negara.
Dampak kebijakan Iran juga dirasakan oleh maskapai asing yang biasanya melintasi wilayah tersebut. Salah satu yang terdampak adalah Air India. Maskapai itu mengonfirmasi bahwa penerbangannya harus mengambil rute alternatif demi menghindari wilayah udara Iran.
“Penerbangan Air India yang melintasi wilayah tersebut sekarang menggunakan rute alternatif, yang dapat menyebabkan penundaan,” kata maskapai tersebut dilansir CNN.
Air India juga menegaskan bahwa sejumlah penerbangan berpotensi dibatalkan jika tidak memungkinkan untuk dialihkan. Langkah tersebut, menurut pihak maskapai, diambil demi menjamin keselamatan penumpang dan awak pesawat.
“Keselamatan penumpang dan awak kami tetap menjadi prioritas utama,” katanya.
Setelah hampir lima jam penutupan, otoritas Iran akhirnya mencabut pemberitahuan tersebut dan membuka kembali wilayah udaranya. Berdasarkan laporan Reuters dan Al Arabiya, pencabutan dilakukan sesaat sebelum pukul 22.00 waktu setempat. Data dari layanan pelacakan Flightradar24 menunjukkan sejumlah maskapai Iran, seperti Mahan Air, Yazd Airways, dan AVA Airlines, menjadi yang pertama kembali melintasi wilayah udara nasional.
Pembukaan kembali wilayah udara ini meredakan sebagian kekhawatiran maskapai dan penumpang. Namun, para pengamat menilai insiden tersebut menunjukkan rapuhnya stabilitas kawasan dan betapa cepatnya faktor politik dan keamanan dapat memengaruhi sistem transportasi global.
Meski berlangsung singkat, penutupan wilayah udara Iran menjadi sinyal kuat bahwa ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah masih berpotensi berkembang sewaktu-waktu, dengan dampak langsung terhadap penerbangan internasional dan keselamatan global. []
Siti Sholehah.
