Suspek DBD Paling Dominan, Harry Agung Tjahyadi : Edukasi Langkah Penting Bagi Masyarakat
Direktur RSUD dr. Soedarso Pontianak drg. Harry Agung Tjahyadi
PONTIANAK – RSUD dr. Soedarso mencatat sebanyak 4.524 kasus rawat inap sepanjang minggu pertama hingga minggu ke-19 tahun 2026. Dari total tersebut, sekitar 100 kasus masuk kategori berpotensi Kejadian Luar Biasa (KLB), dengan kasus suspek demam berdarah dengue (DBD) menjadi yang paling dominan.
Direktur RSUD dr. Soedarso, Harry Agung Tjahyadi mengatakan, jumlah kasus suspek DBD tercatat lebih tinggi dibandingkan penyakit lain yang juga masuk pemantauan potensi KLB.
“Dari 100 kasus itu, yang paling banyak adalah suspek dengue atau DBD. Ini menunjukkan jumlahnya lebih tinggi dibanding penyakit lain seperti diare akut, pneumonia, ISPA, suspek demam tifoid, suspek campak, tetanus, maupun gigitan hewan penular rabies,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perkembangan kasus suspek DBD di RSUD dr. Soedarso masih mengalami fluktuasi dari minggu ke minggu. Pada minggu ke-18 tercatat sebanyak 54 kasus suspek DBD, sementara pada minggu ke-19 menurun menjadi 36 kasus.
“Namun kalau kita lihat dari minggu pertama sampai minggu ke-19, penurunannya tidak drastis, lebih cenderung naik turun. Artinya perlu ada kewaspadaan masyarakat terkait kasus suspek DBD,” katanya.
Menurut Harry, kesiapan rumah sakit saja tidak cukup untuk menekan angka kasus DBD. Upaya pencegahan dan edukasi masyarakat dinilai menjadi langkah penting yang harus dilakukan secara bersama-sama.
“Saya kira tidak hanya kesiapan di rumah sakit saja, tetapi yang penting adalah upaya pencegahan serta sosialisasi dari tingkat puskesmas maupun kelompok masyarakat terkait pencegahan DBD,” tuturnya.
Ia menegaskan, seluruh kasus yang masuk sejauh ini masih dapat ditangani dengan baik. Meski demikian, pihak rumah sakit tetap melakukan antisipasi terhadap kemungkinan lonjakan kasus, terutama karena tren kasus dalam lima minggu terakhir masih cukup konsisten.
“Manifestasi klinis dan komplikasi berat atau komorbid harus diwaspadai. Logistik penunjang pemeriksaan di rumah sakit juga harus dipastikan tersedia, termasuk perluasan ruang observasi maupun peningkatan kapasitas tempat tidur rawat inap,” jelasnya.
Harry menambahkan, rumah sakit juga harus memiliki rencana kontingensi menghadapi potensi bencana maupun KLB, termasuk kesiapan menerima lonjakan pasien rujukan dari layanan kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas.
“Kalau ada lonjakan kasus dari layanan pratama, maka ruang observasi perlu diperbanyak, termasuk kesiapan ruang anak. Pasien yang datang harus tetap bisa ditolong dan kapasitas rumah sakit harus dipersiapkan sejak awal,” katanya.
Meski terjadi peningkatan kasus suspek DBD, ia memastikan hingga saat ini belum terjadi lonjakan penggunaan tempat tidur di rumah sakit.
“Sampai minggu ini kapasitas 104 tempat tidur anak kami masih bisa menangani kasus-kasus tersebut,” ujarnya.
Berdasarkan data RSUD dr Soedarso, pasien suspek DBD didominasi kelompok usia anak, mulai dari balita hingga anak di atas usia balita. Sekitar 60 persen pasien berasal dari Pontianak dan sekitarnya, sementara 40 persen lainnya merupakan pasien rujukan dari berbagai kabupaten di Kalimantan Barat.(*)
