Wall Street Bergerak Beragam, Saham Teknologi AS Tertekan Lonjakan Minyak

0
wall-street

NEW YORK – Lonjakan harga minyak setelah serangan terhadap bandara internasional Riyadh, Arab Saudi, menekan saham teknologi Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (12/10/2026). Indeks Nasdaq Composite terkoreksi 0,44%, sedangkan Dow Jones Industrial Average menguat dan indeks S&P 500 bergerak melemah tipis di tengah penantian investor terhadap laporan keuangan perusahaan serta data inflasi terbaru.

Mengutip data Reuters, Nasdaq turun 120,27 poin atau 0,44% ke level 27.245,90. Sementara itu, Dow Jones naik 195,60 poin atau 0,38% menjadi 51.850,55, sedangkan S&P 500 melemah 4,30 poin atau 0,06% ke posisi 7.807,24.

Pergerakan yang beragam tersebut mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar dalam menghadapi sejumlah sentimen yang berpotensi memengaruhi arah bursa. Selain kenaikan harga energi, investor mencermati laporan laba kuartal ketiga perusahaan besar dan serangkaian data ekonomi AS yang dijadwalkan terbit sepanjang pekan ini.

Kontrak berjangka minyak melonjak setelah serangan mematikan di bandara internasional Riyadh selama akhir pekan. Perkembangan tersebut menambah ketidakpastian terhadap prospek pasokan energi, meskipun Presiden AS Donald Trump menyambut baik ekspor solar baru dari Rusia dan membahas gencatan senjata Rusia-Ukraina terkait sasaran infrastruktur energi.

Kenaikan harga energi turut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Investor juga memantau imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury yang baru-baru ini mencapai level tertinggi dalam 24 tahun, meskipun pasar obligasi tersebut tutup pada Senin untuk memperingati Columbus Day.

“Menjelang hari-hari berikutnya dalam minggu ini, ada beberapa laporan ekonomi penting yang dinantikan,” kata Tim Ghriskey, ahli strategi portofolio senior di Ingalls & Snyder, New York.

Ia menambahkan bahwa investor masih berhati-hati karena arah pasar obligasi belum memberikan petunjuk yang jelas. Laporan kinerja bank-bank besar, termasuk Goldman Sachs, Citigroup, dan JPMorgan Chase, yang dijadwalkan mulai dirilis pada Selasa, juga berpotensi memengaruhi sentimen pasar.

“Kami juga sedang menantikan laporan laba perusahaan, dan hal itu penting. Laporan dari empat bank besar pada hari Selasa bisa memberikan dampak yang signifikan,” ujarnya.

Analis memperkirakan laba perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 akan meningkat 30,6% pada kuartal ketiga berdasarkan data LSEG IBES. Selain laporan keuangan, investor menunggu data inflasi konsumen, inflasi produsen untuk September, serta angka penjualan ritel AS.

Ketidakpastian juga diperkuat oleh pandangan pejabat Federal Reserve (The Fed), bank sentral AS, Beth Hammack dari Cleveland. Ia menyatakan kebijakan moneter sebaiknya bergerak “relatif cepat” menuju sikap yang lebih restriktif untuk mengendalikan inflasi yang dinilai telah meluas dan mulai memengaruhi rencana penetapan harga perusahaan.

Berdasarkan data alat FedWatch milik CME, peluang pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini diperkirakan hampir 22%, meningkat dari 17,7% pada Jumat sebelumnya.

Di tengah tekanan tersebut, sektor energi menjadi sektor dengan kinerja terbaik di antara 11 sektor utama S&P 500, dengan kenaikan 1,5%. Sektor barang kebutuhan pokok konsumen (consumer staples) naik lebih dari 1%, sementara sektor layanan komunikasi turut menguat setelah saham Meta naik lebih dari 3%.

Sebaliknya, sektor teknologi turun 0,9% dan sektor barang konsumsi nonpokok (consumer discretionary) melemah 0,7%. Tekanan di sektor teknologi terutama terlihat pada saham produsen cip. Indeks semikonduktor Philadelphia ditutup turun 2,7% setelah sempat menyentuh level terendah dalam tiga minggu.

Di sektor konsumsi, saham Chipotle Mexican Grill merosot 3,8% setelah Starbucks menyatakan tidak akan mengakuisisi jaringan restoran burrito tersebut. Saham Starbucks justru naik 1,7%.

Saham Microsoft bergerak berlawanan dengan tren pelemahan teknologi, dengan kenaikan 1,1%. Kapitalisasi pasar perusahaan itu menembus US$4 triliun untuk pertama kalinya dalam setahun setelah pengumuman rencana penggunaan cip kecerdasan buatan (AI) buatan sendiri secara besar-besaran.

Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 12,67 miliar saham, di bawah rata-rata 17,62 miliar saham selama 20 hari perdagangan terakhir.

Robert Pavlik, manajer portofolio senior di Dakota Wealth, Fairfield, Connecticut, menilai pelaku pasar perlu mencermati berbagai risiko yang muncul bersamaan, mulai dari kenaikan harga minyak hingga agenda ekonomi dan laporan laba perusahaan.

“Ada banyak hal yang perlu diwaspadai,” kata Pavlik, seraya menyoroti data ekonomi, laporan laba, dan kenaikan harga minyak. “Anda sedang berjalan di sepanjang rel kereta dan tidak tahu—karena kondisinya gelap—apakah ada kereta yang datang; jadi, Anda harus sangat berhati-hati,” ujarnya.

Pergerakan Wall Street selanjutnya akan bergantung pada perkembangan harga energi, hasil laporan keuangan perusahaan besar, serta data inflasi dan penjualan ritel. Kombinasi faktor tersebut akan menjadi penentu penting bagi ekspektasi kebijakan suku bunga dan arah investasi di pasar saham AS. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *