Angka Stunting di Samarinda Turun, Dinkes Optimis Tren Positif Berlanjut

SAMARINDA – Angka stunting di Kota Samarinda menunjukkan tren penurunan signifikan. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih, saat diwawancarai di ruang kerjanya, Kamis (26/02/2026).

Menurut Ismid, data resmi stunting tahun 2026 dari Kementerian Kesehatan belum dirilis karena masih menunggu hasil survei nasional yang biasanya keluar pada bulan April. Namun, berdasarkan data real dari aplikasi EPGM yang digunakan Kementerian, angka stunting di Samarinda saat ini berada di kisaran 15 persen. “Data real dari aplikasi EPGM menunjukkan angka stunting kita sekitar 15 persen. Itu sudah turun dibanding tahun 2024 yang mencapai 20 persen,” jelasnya.

Penurunan ini menjadi indikasi bahwa berbagai program intervensi gizi dan kesehatan yang dilakukan pemerintah daerah bersama masyarakat mulai menunjukkan hasil. “Mudah-mudahan data survei nasional nanti tidak jauh berbeda dengan data real yang kita miliki. Saya yakin angka stunting di Samarinda memang terus menurun,” ujarnya optimis.

Stunting, atau kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, menjadi salah satu isu kesehatan utama di Indonesia, termasuk di Samarinda. Pada tahun 2024, angka stunting di kota ini tercatat sebesar 20 persen, angka yang cukup tinggi dan menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Sejak saat itu, Dinas Kesehatan Kota Samarinda bersama berbagai pihak telah melaksanakan sejumlah program, mulai dari pemberian makanan tambahan bergizi, edukasi kesehatan ibu hamil, peningkatan layanan posyandu, hingga kampanye pola asuh dan pola makan sehat. “Kami melakukan pendekatan komprehensif, tidak hanya pada anak, tetapi juga pada ibu hamil dan keluarga. Karena pencegahan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan,” terang Ismid.

Meski tren penurunan terlihat jelas, Ismid menekankan tantangan masih ada. Salah satunya adalah memastikan pemerataan akses layanan kesehatan di seluruh wilayah Samarinda. “Ada wilayah yang masih sulit dijangkau, sehingga layanan gizi dan kesehatan belum optimal. Ini yang terus kami perbaiki,” katanya.

Selain itu, faktor sosial ekonomi juga berpengaruh terhadap keberhasilan program penurunan stunting. “Kondisi ekonomi keluarga sangat menentukan. Karena itu, kami bekerja sama dengan berbagai sektor agar intervensi tidak hanya dari sisi kesehatan, tetapi juga kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.

Dengan capaian sementara 15 persen pada 2026, Samarinda menunjukkan progres positif dalam menurunkan angka stunting. Pemerintah daerah berharap tren ini terus berlanjut hingga mencapai target nasional penurunan stunting.

Ismid menutup wawancara dengan pesan kepada masyarakat agar tetap mendukung program pemerintah. “Kami menghargai kerja sama masyarakat. Pencegahan stunting bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Dengan kebersamaan, saya yakin Samarinda bisa mencapai angka stunting yang lebih rendah lagi,” pungkasnya. []

Penulis: Rifky Irlika Akbar | Penyunting: Aulia Setyaningrum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *