MBZ: UEA Bukan Target Mudah Serangan
JAKARTA – Presiden Uni Emirat Arab (UEA) Mohammed bin Zayed Al Nahyan memberikan pernyataan publik terkait meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dalam pernyataan tersebut, ia menegaskan bahwa negaranya tetap dalam kondisi stabil dan siap menghadapi berbagai ancaman keamanan.
Komentar tersebut menjadi pernyataan resmi pertama dari Mohammed bin Zayed Al Nahyan sejak Iran meluncurkan serangan rudal ke beberapa wilayah negara-negara Teluk, termasuk wilayah yang berkaitan dengan kepentingan UEA. Serangan tersebut terjadi di tengah eskalasi konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pernyataannya, pemimpin UEA yang sering disapa MBZ itu menegaskan bahwa negaranya bukan pihak yang mudah diserang atau ditekan oleh kekuatan luar.
“UEA memiliki kulit yang tebal dan daging yang pahit-kami bukanlah mangsa yang mudah,” kata Mohammed bin Zayed Al Nahyan.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah UEA akan memastikan keselamatan seluruh masyarakat yang tinggal di negara tersebut, baik warga negara maupun warga asing yang menetap dan bekerja di wilayah UEA.
Menurutnya, perlindungan terhadap seluruh penduduk merupakan tanggung jawab negara yang harus dijalankan dalam situasi apa pun, termasuk ketika terjadi konflik di kawasan.
“Kami akan menjalankan kewajiban kami terhadap negara, rakyat kami, dan para penduduk (warga asing) yang juga merupakan bagian dari keluarga kami,” ujarnya.
Uni Emirat Arab sendiri merupakan negara federasi yang terdiri dari tujuh emirat, termasuk Abu Dhabi dan Dubai. Kedua wilayah tersebut dikenal sebagai pusat ekonomi dan perdagangan penting di kawasan Teluk.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut memicu respons dari Iran yang kemudian meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah target yang berkaitan dengan kepentingan Israel dan Amerika Serikat di wilayah regional.
Sejumlah wilayah di negara-negara Teluk juga terdampak oleh serangan tersebut. Dalam beberapa insiden yang terjadi sejak konflik dimulai, serangan di wilayah UEA dilaporkan menyebabkan korban jiwa dan luka-luka.
Data yang disampaikan otoritas setempat menyebutkan bahwa sedikitnya tiga orang tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang terjadi sejak konflik meningkat di kawasan.
Kementerian Pertahanan UEA juga menyampaikan bahwa angkatan bersenjata negara tersebut berada dalam kondisi siap siaga untuk menghadapi berbagai potensi ancaman yang mungkin muncul selama konflik berlangsung.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya telah menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga yang terdampak serangan militer Iran. Ia menyatakan bahwa Iran tidak bermaksud menjadikan negara-negara di kawasan sebagai sasaran utama.
“Saya harus meminta maaf atas nama saya sendiri dan atas nama Iran kepada negara-negara tetangga yang diserang oleh Iran,” katanya dalam pidatonya yang disiarkan televisi pemerintah Iran.
Ia juga menyampaikan bahwa dewan kepemimpinan sementara Iran telah menyepakati kebijakan untuk tidak lagi melakukan serangan terhadap negara-negara tetangga kecuali jika Iran terlebih dahulu diserang oleh pihak tersebut.
“Dewan kepemimpinan sementara kemarin sepakat bahwa tidak akan ada lagi serangan terhadap negara-negara tetangga dan tidak akan ada rudal yang ditembakkan kecuali serangan terhadap Iran berasal dari negara-negara tersebut,” imbuhnya.
Meski demikian, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah terhadap tekanan militer dari Amerika Serikat maupun Israel di tengah konflik yang sedang berlangsung.
“Musuh-musuh Iran harus membawa keinginan mereka untuk penyerahan tanpa syarat rakyat Iran ke kuburan mereka,” kata Pezeshkian.
Situasi di kawasan Timur Tengah hingga kini masih berada dalam kondisi tegang, dengan sejumlah negara terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas. []
Siti Sholehah.
