Pezeshkian: Iran Tak Akan Serang Tetangga Tanpa Alasan
JAKARTA – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan permintaan maaf kepada sejumlah negara tetangga terkait serangan yang dilakukan Iran di kawasan Timur Tengah. Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional akibat konflik yang melibatkan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.
Permintaan maaf tersebut disampaikan Pezeshkian kepada negara-negara yang wilayahnya menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa serangan Iran yang mengenai wilayah negara tetangga bukan ditujukan kepada negara tersebut, melainkan sebagai respons terhadap keberadaan fasilitas militer yang digunakan untuk menyerang Iran.
“Saya harus meminta maaf atas nama saya sendiri dan atas nama Iran kepada negara-negara tetangga yang diserang oleh Iran,” katanya dalam pidatonya yang disiarkan televisi pemerintah Iran, dilansir kantor berita AFP.
Meski menyampaikan permintaan maaf, pemerintah Iran tetap menegaskan sikapnya untuk mempertahankan diri dari setiap serangan yang datang dari pihak lawan. Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak akan melanjutkan serangan ke negara tetangga selama tidak ada serangan terhadap Iran yang diluncurkan dari wilayah mereka.
“Dewan kepemimpinan sementara kemarin sepakat bahwa tidak akan ada lagi serangan terhadap negara-negara tetangga dan tidak akan ada rudal yang ditembakkan kecuali serangan terhadap Iran berasal dari negara-negara tersebut,” imbuhnya.
Konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat saat ini telah memasuki minggu kedua. Situasi tersebut memicu kekhawatiran akan meluasnya dampak konflik ke negara-negara lain di kawasan.
Dalam pidatonya, Pezeshkian juga menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah dalam menghadapi tekanan dari Israel maupun Amerika Serikat. Ia menilai konflik yang sedang berlangsung merupakan bagian dari upaya Iran mempertahankan kedaulatan negaranya.
Selain itu, Iran juga menyampaikan bahwa pihaknya akan tetap memberikan respons terhadap setiap serangan yang diluncurkan dari wilayah negara tetangga. Meski demikian, Iran menegaskan respons tersebut bukan berarti memusuhi negara tempat serangan itu berasal.
“Jika musuh Iran mencoba menggunakan negara mana pun untuk menyerang atau menginvasi tanah kami, kami akan terpaksa merespons serangan itu. Merespons bukan berarti kami memiliki perselisihan dengan negara itu atau ingin mencelakai rakyatnya — kami akan merespons karena kebutuhan,” kata Pezeshkian.
Di sisi lain, pernyataan keras juga datang dari Garda Revolusi Iran yang menyatakan kesiapan militernya untuk menghadapi konflik berkepanjangan. Pihak militer Iran mengklaim mampu mempertahankan intensitas pertempuran melawan Amerika Serikat dan Israel dalam jangka waktu yang cukup lama.
Juru bicara Garda Revolusi Iran, Ali Mohammad Naini, mengatakan bahwa sejauh ini Iran masih menggunakan rudal generasi awal dalam serangan balasan yang dilancarkan. Namun, pihaknya mengisyaratkan kemungkinan penggunaan persenjataan yang lebih canggih dalam waktu dekat.
Menurutnya, Iran memiliki rudal jarak jauh yang lebih modern dan jarang digunakan yang berpotensi dikerahkan jika konflik terus meningkat dalam beberapa hari mendatang.
Sementara itu, eskalasi konflik juga berdampak pada sejumlah negara di kawasan. Arab Saudi dilaporkan berhasil mencegat sejumlah drone yang mengarah ke target di wilayahnya, termasuk kawasan diplomatik di ibu kota Riyadh.
Di Kuwait, serangan juga dilaporkan menghantam fasilitas tangki bahan bakar di bandara internasional negara tersebut. Peristiwa ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi di kawasan, mengingat wilayah Teluk merupakan jalur penting perdagangan minyak dunia.
Ketegangan semakin meningkat setelah Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan terhadap depot minyak di Teheran. Serangan tersebut disebut menjadi salah satu yang pertama menargetkan infrastruktur energi Iran sejak konflik terbuka dimulai.
Militer Israel menyatakan serangan mereka menyasar fasilitas penyimpanan bahan bakar yang disebut digunakan untuk mendukung infrastruktur militer Iran.
Di tengah konflik yang terus memanas, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa negaranya akan melanjutkan operasi militer terhadap Iran. Israel bahkan disebut bertekad untuk melemahkan kepemimpinan Iran setelah serangan sebelumnya menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang kemudian memicu konflik regional lebih luas. []
Siti Sholehah.
