AS Perintahkan Staf Kedutaan Tinggalkan Arab Saudi

Flag of Saudi Arabia in front of a clear blue sky

JAKARTA – Ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah semakin meningkat seiring berlanjutnya eskalasi serangan antara Iran dan Amerika Serikat yang turut melibatkan Israel. Di tengah situasi keamanan yang memburuk, pemerintah Amerika Serikat memerintahkan sebagian staf kedutaannya untuk meninggalkan Arab Saudi.

Kebijakan tersebut diumumkan melalui peringatan perjalanan yang dirilis oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya ancaman keamanan di kawasan, terutama setelah serangan yang dikaitkan dengan Iran terjadi di sejumlah wilayah Teluk.

Dilansir kantor berita AFP pada Senin (09/03/2026), Departemen Luar Negeri AS menyampaikan bahwa keputusan tersebut menyasar pegawai pemerintah yang tidak memiliki tugas darurat serta anggota keluarga mereka yang berada di Arab Saudi.

Dalam pernyataan resmi itu disebutkan bahwa pemerintah Amerika Serikat telah “memerintahkan para pegawai pemerintah AS non-darurat dan anggota keluarga pegawai pemerintah AS untuk meninggalkan Arab Saudi karena risiko keselamatan.”

Perintah tersebut mencerminkan kekhawatiran Washington terhadap potensi serangan lanjutan yang dapat mengancam keselamatan warga negara maupun fasilitas diplomatik Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat memang telah memberikan izin kepada staf non-esensial untuk meninggalkan Arab Saudi. Namun, kebijakan tersebut bersifat sukarela dan belum berupa kewajiban seperti yang diberlakukan saat ini.

Selain memerintahkan evakuasi sebagian staf kedutaan, Departemen Luar Negeri AS juga kembali mengingatkan warga Amerika Serikat untuk berhati-hati jika ingin bepergian ke Arab Saudi.

Pemerintah AS bahkan meminta masyarakatnya untuk “mempertimbangkan kembali perjalanan” ke negara tersebut, meskipun belum mengeluarkan larangan penuh terhadap seluruh perjalanan menuju kerajaan itu.

Peringatan tersebut muncul setelah serangkaian serangan yang dikaitkan dengan Iran terjadi di beberapa negara kawasan Teluk. Salah satu serangan dilaporkan menyasar kedutaan besar Amerika Serikat di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, pada pekan lalu.

Serangan tersebut dilakukan menggunakan pesawat nirawak atau drone. Selain merusak sebagian fasilitas kedutaan AS di Riyadh, serangan serupa juga dilaporkan menyebabkan kerusakan pada fasilitas diplomatik Amerika Serikat di Kuwait dan Uni Emirat Arab.

Situasi keamanan di Arab Saudi semakin memanas setelah otoritas setempat melaporkan adanya serangan proyektil di wilayah Provinsi Al Kharj pada Minggu (08/03/2026). Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa dan luka-luka di kalangan warga sipil.

Pemerintah Arab Saudi menyatakan bahwa dua orang dilaporkan meninggal dunia akibat serangan tersebut, sementara 12 orang lainnya mengalami luka-luka.

Serangan-serangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Operasi tersebut dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang selama ini menjadi figur paling berpengaruh dalam sistem politik dan keamanan negara tersebut.

Sebagai respons atas serangan tersebut, Iran sebelumnya telah menyatakan akan melakukan pembalasan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam operasi militer tersebut.

Sejumlah negara di kawasan Teluk diketahui memiliki hubungan keamanan yang erat dengan Amerika Serikat. Beberapa negara bahkan menjadi lokasi pangkalan militer penting bagi pasukan AS.

Bahrain dan Qatar, misalnya, selama ini menjadi tuan rumah bagi fasilitas militer strategis yang digunakan oleh pasukan Amerika Serikat untuk operasi di kawasan Timur Tengah.

Di tengah ketegangan tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian sempat menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga atas serangan yang terjadi di kawasan.

Namun dalam pernyataan selanjutnya, ia menegaskan bahwa Iran tetap akan mengambil langkah balasan jika wilayah negara-negara tersebut digunakan sebagai pangkalan untuk menyerang Iran.

Pernyataan tersebut semakin mempertegas potensi meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah, yang kini tidak hanya melibatkan negara-negara utama tetapi juga berpotensi berdampak pada negara-negara sekutu di wilayah Teluk. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *