Israel Peringatkan Ancaman Peretasan Kamera oleh Iran

JAKARTA – Otoritas keamanan siber Israel mengungkap adanya dugaan aktivitas peretasan yang dilakukan pihak Iran terhadap sejumlah kamera pengawas di wilayah Israel. Aktivitas tersebut disebut berkaitan dengan upaya pengumpulan informasi intelijen sejak konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah kembali memanas.

Direktorat Keamanan Siber Israel menyatakan telah menemukan puluhan insiden pelanggaran terhadap sistem kamera keamanan yang digunakan masyarakat maupun fasilitas tertentu. Menurut lembaga tersebut, perangkat kamera pengawas diduga dimanfaatkan untuk kegiatan spionase guna memantau situasi di lapangan.

Melalui pernyataan resminya, lembaga tersebut juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi ancaman keamanan siber yang dapat memanfaatkan perangkat elektronik pribadi.

“Direktorat sedang berupaya untuk memperingatkan ratusan pemilik kamera dan menyerukan kepada masyarakat untuk mengubah kata sandi dan memperbarui perangkat lunak mereka untuk mencegah risiko keamanan apa pun, baik nasional maupun pribadi,” tulis Cyber Israel.

Seruan tersebut disampaikan seiring meningkatnya tensi konflik antara Iran dan Israel yang dalam beberapa tahun terakhir juga merambah ke ranah perang siber. Kedua negara diketahui kerap terlibat dalam operasi siber saling menyerang yang berlangsung secara tersembunyi sebelum akhirnya berkembang menjadi konflik terbuka.

Dalam beberapa tahun terakhir, serangan digital antara kedua pihak telah terjadi berulang kali. Konflik yang semula bersifat tidak langsung itu kemudian meningkat menjadi konfrontasi yang lebih terbuka, termasuk setelah eskalasi militer yang kembali pecah pada akhir Februari lalu.

Kasus serangan siber yang menargetkan tokoh politik Israel juga pernah terjadi sebelumnya. Pada Desember 2025, mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett mengungkap bahwa akun Telegram miliknya menjadi sasaran peretasan. Insiden tersebut muncul setelah sekelompok peretas mengklaim berhasil mengakses perangkat telepon seluler miliknya.

Beberapa pesan pribadi, video, serta foto yang diduga berasal dari ponsel Bennett kemudian disebarkan melalui sebuah situs peretas yang menggunakan nama “Handala”. Nama tersebut merujuk pada karakter yang dikenal sebagai simbol perjuangan Palestina. Konten yang diduga berasal dari perangkat Bennett juga sempat beredar melalui sejumlah akun di platform media sosial.

Para ahli keamanan siber menilai bahwa operasi digital yang dikaitkan dengan Iran meningkat tajam sejak konflik terbaru di kawasan tersebut dimulai. Aktivitas tersebut dinilai menjadi bagian dari strategi pengumpulan informasi yang dilakukan selama masa perang.

Perusahaan keamanan siber Israel, Check Point Software Technologies, juga melaporkan bahwa sejak dimulainya serangan militer pada 28 Februari lalu, pihaknya menemukan indikasi bahwa sejumlah kamera pengawas berhasil diakses oleh peretas.

Kamera pengawas yang biasanya dipasang di rumah, gedung, maupun fasilitas publik dianggap sebagai target yang relatif mudah ditembus jika tidak dilindungi dengan sistem keamanan yang memadai.

Kepala intelijen siber Check Point, Gil Messing, menjelaskan bahwa rekaman dari kamera tersebut kemungkinan digunakan untuk menilai dampak serangan militer atau memantau aktivitas tertentu.

Menurutnya, data visual yang diperoleh dari kamera pengawas dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan intelijen, termasuk mempelajari kebiasaan target tertentu maupun mengidentifikasi lokasi strategis.

Ia juga menambahkan bahwa kelompok peretas yang terlibat dalam aktivitas tersebut diduga memiliki keterkaitan dengan struktur militer Iran.

“Para peretas ‘adalah bagian dari tentara (Iran)’ dan ‘sebagian besar didukung oleh negara’, terutama oleh Garda Revolusi dan kementerian intelijen dan keamanan,” jelasnya.

Sementara itu, laporan lain juga mengungkap bahwa operasi siber tidak hanya dilakukan oleh satu pihak. Media internasional sebelumnya melaporkan bahwa Israel juga diduga pernah mengakses hampir seluruh kamera lalu lintas di ibu kota Iran, Teheran, dalam rangka mempersiapkan operasi militer.

Operasi tersebut disebut-sebut berkaitan dengan serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada hari pertama konflik militer terbaru di kawasan tersebut.

Situasi ini menunjukkan bahwa perang modern tidak hanya berlangsung di medan tempur konvensional, tetapi juga melibatkan pertempuran digital yang semakin intens di ruang siber.[]

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *